Investasi Telkomsel di GOTO Merugi, Dirut Telkom Diminta Tanggung Jawab

0
965

Jakarta – Jelang RUPS Telkom akhir bulan ini, investasi yang digelontorkan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) di PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB) alias GOTO kembali jadi sorotan.

Mantan Direktur YLBHI, Agustinus Edy Kristianto, melihat ada banyak kejanggalan dibalik aksi korporasi yang dilakukan Telkomsel sebagai anak usaha Telkom. Total, menurut hitungan Agustinus, Telkomsel mengeluarkan uang Rp6,3 triliun untuk investasi di GOTO.

Agustinus menjelaskan, mulanya Telkomsel membuat perjanjian dengan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB) pada 16 November 2020, untuk investasi dalam bentuk Obligasi Konversi tanpa bunga sebesar US$150 juta (Rp2,116 triliun) dengan tenor 3 tahun.

Kemudian pada 17 Mei 2021, AKAB dan Tokopedia merger (GOTO).

“Pada 18 Mei 2021, GOTO dan Telkomsel membuat Perjanjian Pembelian Saham. Yang US$150 juta (Rp2,116 triliun) tadi dikonversi menjadi 29.708 lembar saham. Yang opsi beli saham preferen US$300 juta (Rp4,290) triliun menjadi 59.417 lembar,” jelas Agustinus dalam keterangannya, Minggu (15/5/2022).

“Fokus pada duit Telkomsel yang sudah dikeluarkan buat GOTO: Rp2,116 triliun dan Rp4,2 triliun, totalnya Rp6,3 triliun,” lanjut dia.

Persoalan muncul, ketika harga saham GOTO anjlok 50% lebih ke harga Rp194 selama 11 April – 13 Mei 2022. “Ini sudah turun 42% dibanding harga IPO,” ucap Agustinus.

Dari dari sudut pandang bisnis, bukan perkara mudah untuk bangkit dari kejatuhan yang begitu dalam.

“Jika penurunan 50% maka membutuhkan setidaknya kenaikan 100% untuk kembali ke titik awal. Anda bisa hitung sendiri, berapa persen kenaikan yang diperlukan GOTO untuk kembali ke harga IPO?” tanya Agustinus retoris.

Anjloknya harga saham GOTO ikut berdampak pada kinerja keuangan Telkom selaku perusahaan induk Telkomsel.

“Tertulis dalam laporan keuangan perseroan kuartal I/2022, per 31 Maret 2022 Telkom mencatat kerugian atau unrealized loss sebesar Rp881 miliar,” ujarnya

Muncul pertanyaan, mengapa kendaraan yang digunakan untuk investasi ini adalah Telkomsel, bukan Telkom langsung sebagai induk? Agustinus punya jawabannya.

Ia menduga, Telkomsel dipilih untuk mengakali aturan, sehingga kerugian investasi ini tidak dikategorikan sebagai kerugian negara.

“Ada celah di peraturan perundang-undangan Indonesia. Surat Edaran MA No. 10/2020 memuat aturan: “Kerugian yang timbul pada anak perusahaan BUMN/BUMD yang modalnya bukan bersumber dari APBN/APBD atau bukan penyertaan modal dari BUMN/BUMD dan tidak menerima/menggunakan fasilitas negara bukan termasuk kerugian keuangan negara,” kutip dia.

Tidak hanya merugikan keuangan Telkom dan Telkomsel, Agustinus melihat ada benturan kepentingan dalam proses investasi ini.

Diketahui, Garibaldi alias Boy Thohir yang merupakan kakak kandung Menteri BUMN, Erick Thohir, adalah Presiden Komisaris GOTO sekaligus pemegang 1 miliar lebih lembar saham GOTO (per Akta November 2021).

“Boy tercatat sebagai pemegang saham pengendali PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) yang merupakan salah satu penjamin atau underwriter IPO GOTO. Setelah semua transaksi beres, ia baru tercatat sebagai pemegang 1 miliar lembar saham GOTO pada Akta Perubahan per November 2021. Sebelumnya, ia hanya menjabat Presiden Komisaris,” jelas Agustinus.

Wajar jika kemudian, hubungan kakak beradik dalam transaksi triliunan rupiah ini dipersoalkan. “Ya, iyalah. Dia (Boy) kakaknya Menteri BUMN. Menteri BUMN mewakili negara sebagai pemegang saham di Telkom,” tegas Agustinus.

Tidak berlebihan pula, jika pada RUPS 27 Mei nanti, para direksi Telkom yang segera purna tugas dimintai pertanggungjawaban atas keputusan investasi yang menguras uang perusahaan.

“Direktur yang membawahi pembelian saham Goto harus tanggung jawab, Budi Setiawan (Direktur Strategic Portofolio) sepertinya mendapat tugas khusus dari Dirut, Ririek Adriansyah untuk mengeksekusi investasi itu, kok sekarang rugi?” tukas Agustinus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here