Petani Bima Diajarkan Perangkap Hama di SL IPDMIP

0
93

BIMA – Untuk menjaga produktivitas, para petani bawang merah di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, mendapatkan pembekalan mengenai perangkap hama. Pembekalan tersebut diberikan Kementerian Pertanian melalui kegiatan Sekolah Lapang program IPDMIP.

Sebanyak 20 petani mengikuti kegiatan Sekolah Lapang (SL) yang dilaksanakan 30 Juli 2021, di Poktan La Mba’i Desa Na’e Daerah Irigasi Rababou Kecamatan Sape Kabupaten Bima-NTB.

Fasilitator kegiatan terdiri dari PPL, Staf Lapangan dan Penyuluh Swadaya. Sedangkan supervisi kegiatan dilakukan oleh pihak DPIU IPDMIP, KJF Distanbun Kabupaten Bima, Kepala BPP Kecamatan Sape serta TPM IPDMIP Kabupaten Bima.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan menjaga lahan dari hama adalah hal penting.

“Untuk memastikan produktivitas, petani harus bisa menjaga lahan dari serangan hama. Dengan SL IPDMIP, petani akan dibekali hal tersebut,” katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengutarakan hal serupa.

“Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas adalah menjaga lahan dari serangan hama. Hal ini yang diantisipasi dalam SL IPDMIP. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan petani dan penyuluh sangat penting,” katanya.

Staf Lapangan IPDMIP, Rosmini, menuturkan bahwa pertemuan kali ini merupakan pertemuan ke-5 dari 10 kali pertemuan yang dijadwalkan.

Materi yang disampaikan adalah tentang penanaman bawang merah menggunakan tekonologi perangkap hama.

Ditambahkannnya bahwa antusiasme para peserta untuk ikut kegiatan SL sangat tinggi. Hal ini terlihat dari tingginya tingkat kehadiran serta partisipasi mereka saat mengikuti materi dan pengamatan lapangan.

“SL melibatkan peserta dari berbagai unsur, meliputi 10 petani laki-laki dewasa, 6 orang wanita tani serta 4 orang pemuda tani dari beberapa Poktan yang ada di wilayah Desa Na,e,” ungkapnya.

Sementara itu PPL Desa Na,e, Alwi, menjelaskan bahwa salah satu permasalahan utama yang hadapi petani bawang merah di wilayah binaannya adalah tingginya tingkat serangan hama, terlebih pada kondisi pertanaman di musim kemarau.

“Kondisi tersebut sangat berpengaruh, baik terhadap tingkat pertumbuhan tanaman maupun produktivitas yang dihasilkan. Di sisi lain biaya usaha tani yang dikeluarkan oleh para petani untuk penanggulangan hama ini relatif tinggi,” katanya.

Untuk itu dia berharap, melalui kegiatan SL ini, diperoleh solusi dalam menekan tingkat serangan hama, salah satunya melalui penerapan teknologi perangkap hama tanaman bawang merah.

Dijelaskannya, bahwa teknologi perangkap hama yang diterapkan dalam SL ini terdiri dari perangkap kuning dan veromon exi.

“Prinsip kerja perangkap ini adalah menjebak hama dengan menggunakan pemikat berupa cahaya dan aroma  tertentu yang memiliki daya tarik bagi hama tanaman, khususnya hama jenis ulat grayak,” katanya.

Dia berharap, melalui hasil pembelajaran SL ini mampu menekan tingkat serangan hama sampai sekitar 30%.

“Selain sebagai upaya menekan serangan hama, hasil dari SL ini  kita harapkan juga mampu mengurangi residu bahan kimia pada tanaman bawang merah dan tentunya ramah lingkungan,” terangnya.

Alwi menuturkan bahwa bawang merah yang ditanam pada kegiatan SL ini adalah varietas Super Philips yang benihnya bersumber dari hasil pemurnian swadaya petani. Sejauh ini produktivitas rata-rata bawang merah yang dihasilkan para petani setempat sekitar 7 ton / ha.

“Melalui kegiatan SL ini,  diharapkan mampu meningkatkan produktivitas bawang merah para petani sekitar 10 sampai 13 ton/ha,” harapnya.

Penyuluh Swadaya Desa Na’e, Wahyudin (37 tahun), menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan SL Program IPDMIP. Berdasarkan pengalamannya saat ikut SL komoditi padi, bahwa ilmu yang mereka peroleh dari hasil pembelajaran SL diakuinya  sangat bermanfaat dan telah banyak di terapkan oleh para petani.

“Saya berharap di SL bawang merah inipun para petani dapat memperoleh tambahan ilmu sebagai bekal dalam melaksanakan budidaya bawang merah secara lebih efisien dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Harapan yang sama juga disampaikan oleh Syamsiah (42 tahun), perwakilan peserta dari unsur wanita tani.

Melalui pembelajaran dari kegiatan SL dirinya berharap agar memperoleh tambahan informasi tentang cara bercocok tanam bawang merah yang lebih efisien, khususnya dalam hal pembiayaan untuk pembelian obat-obatan pembasmi hama.

“Dengan menekan biaya usaha tani otomatis membantu penghematan pengeluaran tingkat rumah tangga kami,” tuturnya penuh semangat.

Sementara itu, Kepala BPP Kecamatan Sape, Maryati menjelaskan bahwa kegiatan SL yang difasilitasi Program IPDMIP  diwilayahnya dimulai tahun 2019 dengan memperkenalkan teknologi sistim tanam jajar legowo pada tanaman padi yang telah melibatkan sekitar 256 orang petani yang tersebar di 32 Poktan yang tersebar di 2 Desa lokasi IPDMIP.

Menurutnya, teknologi budidaya sistim tanam jarwo yang diperkenalkan melalui  SL padi, sejauh ini telah diadopsi oleh sekitar 40 % petani alumni SL dengan peningkatan produktivitas rata-rata 2 sampai dengan 3 ton/ha.

Untuk MK II tahun 2021 ini, kegiatan SL diarahkan pada komoditi bawang merah yang berlokasi  di 3 titik Laboratorium Lapangan dengan melibatkan sekitar 60 orang petani yang berasal dari 9 Poktan pada 2 Desa sasaran IPDMIP Kecamatan Sape.

“SL komoditi bawang merah ini dilaksanakan, selain atas pertimbangan potensi wilayah, juga dalam rangka mencoba penerapan teknologi budidaya untuk jenis komoditi pertanian bernilai ekonomi tinggi sebagaimana amanat Program IPDMIP,” pungkasnya. (Kiz/EZ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here