Manfaatkan CSA SIMURP, Subang Ambil Sampel Emisi GRK

0
72

SUBANG – Sebagai salah satu penerima program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP), Kabupaten Subang memanfaatkan Climate Smart Agriculture (CSA), atau pertanian cerdas iklim, untuk mengambil sampel emisi gas rumah kaca.

Penurunan emisi GRK dari pertanaman dan lahan pertanian menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan penerapan konsep CSA SIMURP di lapangan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, mengatakan Program SIMURP diharapkan dapat menggenjot peningkatan sumber daya manusia. CSA SIMURP selaras dengan Rencana Strategis Kementerian Pertanian yang memfokuskan pembangunan pertanian melalui konsep pembangunan pertanian berkelanjutan.

“Program-program utama Kementan lainnya yang harus didukung diantaranya Kostratani dan petani milenial. Sedangkan untuk meningkatkan daya saing, kapasitas insan pertanian terus digembleng melalui pelatihan-pelatihan, baik kekhususan maupun tematik,” ujar Mentan SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, menjelaskan salah satu upaya yang dilakukan lembaganya untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan menggenjot daya saing adalah melalui pelatihan sejuta petani dan penyuluh di seluruh Indonesia.

Kabadan berharap, dengan CSA SIMURP maka produksi dan produktivitas pertanian meningkat.

“Karena, SIMURP mengajarkan banyak hal kepada petani. Dengan SIMURP petani makin pintar dalam menghadapi perubahan iklim. Termasuk bagaimana cara mengantisipasi dan menangani penyakit tanaman. SIMURP juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Secara rinci Dedi menjelaskan bahwa CSA berfokus pada ketahanan pangan dan ketahanan iklim dengan tiga pilar utama. Pertama, meningkatkan produktivitas dan pendapatan pertanian secara berkelanjutan. Kedua, beradaptasi dan membangun ketahanan terhadap perubahan iklim dan Ketiga, jika memungkinkan, mengurangi dan atau menghilangkan emisi GRK.

Pengambilan sampel emisi gas rumah kaca dilakukan Dinas Pertanian Kabupaten Subang melalui Bidang Penyuluhan dan Sumber Daya bekerja sama dengan Balai Lingkungan Pertanian (Balingtan) Pati – Jawa Tengah, melaksanakan Bimbingan Teknis untuk Penyuluh Pendamping CSA SIMURP di BPP Binong pada 26 -27 Juli 2021.

Kegiatan pengambilan sampel GRK dilaksanakan selama 2 hari diikuti peserta sebanyak 28 orang penyuluh yang mewakili 14 BPP SIMURP di Kabupaten Subang. Peserta dibagi menjadi 2 kelompok dan didampingi oleh masing-masing 2 orang dari Balingtan. Pelaksanaan Bimtek tetap mengacu kepada protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Hari pertama, peserta mendapatkan bimbingan untuk merakit ‘chamber’ besar yang akan digunakan untuk mengukur emisi CH4 dari tanaman padi secara berkelompok. Sedangkan ‘chamber’ kecil sudah siap digunakan untuk mengukur N2O dari lahan pertanian.

Suryanto selaku Fasilitator dari Balingtan Pati menjelaskan prosedur pengambilan sampel emisi gas rumah kaca sampai dengan cara pengemasan vial yang sudah berisi gas, agar aman selama pengiriman ke laboratorium Balingtan Pati.

Dilanjutkan hari kedua, peserta Bimtek tiba di lokasi demplot CSA Kelompok Tani Gadis di Desa Cicadas, Kecamatan Binong pada pukul 06.00. Pengambilan emisi gas rumah kaca dilakukan pada lokasi demplot CSA dan demplot konvensional atau non CSA.

Pengambilan sampel tersebut dilakukan sebanyak 3 kali ulangan dengan menentukan beberapa titik di hamparan sawah demplot.

Peserta dibagi menjadi 3 kelompok sesuai dengan jumlah ulangan, kemudian pengambilan sampel emisi gas dilaksanakan pada menit ke – 5, 10, 15, 20 dan 25 untuk CH4. Sedangkan pengambilan sampel gas N2O dilaksanakan pada menit ke 10, 20 , 30, 40 dan 50.

”Kegiatan pengambilan sampel emisi gas rumah kaca ini harus dilakukan dengan penuh konsentrasi dan stamina yang cukup bugar, karena pada kenyataannya nanti pengambilan sampel tersebut harus dilaksanakan secara bergantian untuk 3 kali ulangan, jadi harus menyiapkan waktu sekitar 3 jam untuk setiap lokasi demplot CSA. Pemberian labelpun harus hati-hati pada vial gas, jangan sampai tertukar antara pengambilan di menit-menit yang sudah ditentukan,” terang Suryanto. (AS/NF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here