READSI Kementan Kembangkan Pertanian Berbasis Ekonomi Kreatif

0
79

POSO – Rural Empowerment Agricultural and Development Scalling Up Initiative (READSI) Kementan menjadi program lengkap dan kompleks. Sebab, READSI Kementan juga mengembangkan pertanian berbasis ekonomi kreatif. Mengoptimalkan off farm untuk menerapkan konsep hilirisasi pertanian. Implementasinya berada di Lena, Pamona Utara, Poso, Sulawesi Tengah.

“Hilirisasi komoditi pertanian menjadi keharusan yang dilakukan petani. Sebab, ada keuntungan ekonomi besar dengan hilirisasi pertanian. Nilai sebuah komoditi kalau sudah diolah menjadi berlipat-lipat. Melalui READSI, Kementan memfasilitasi kegiatan yang masuk off farm ini,” ungkap Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Mengacu kelompok tani di Pamona Utara, hilirisasi pertanian dilakukan atas beberapa produk. Mengembangkan ekonomi kreatif sub sektor kuliner, mereka membuat olahan Keripik Pisang dan Saraba Instan. SYL menambahkan, olahan produk pertanian menjadi komoditi menarik di tengah pandemi Covid-19. Artinya, petani memiliki pendapatan tambahan dari usaha ekonomi kreatif sub sektor kuliner tersebut.

“Petani mendapatkan nilai tambah yang besar dari aktivitas off farm ini. Di masa pandemi Covid-19, usaha kuliner sangat bagus. Dikerjakan dengan skala besar, aktivitas off farm seperti ini tentu menjadi penyedia lapangan yang potensial. Petani bisa memberdayakan tetangga terdekatnya,” lanjut SYL.

Mengusahakan olahan dari Pisang memang menjadi opsi tepat. Sebab, wilayah Poso merupakan sentranya Buah Pisang. Pada 2015 saja, kapasitas produksi Buah Pisang di Poso mencapai 22.551 buah. Selain Pisang, Poso juga memiliki komoditi unggulan lainnya. Ada Durian dengan slot 16.127 buah, lalu 13.653 buah Mangga. Buah lainnya adalah Jeruk, pepaya, dan nanas.

Selain buah, Poso juga memiliki potensi lainnya seperti Cokelat dengan luasan lahan mencapai 39.116 Hektar. Poso juga penghasil Kopi berkualitas dengan kapasitas 927Kg/Hektar. Jenis sayuran yang dihasilkannya diantaranya Bawang Merah, Cabai, Kentang, Kubis, Petai, dan sayuran lainnya.

“Kreativitas dan inovasi petani harus didorong. READSI membuka kesempatan tersebut sangat luas. Sebab, READSI memberikan pendampingan dan pelatihan. Bertambahnya skill petani khususnya aktivitas off farm sangat baik,” terang Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi.

Lalu bagaimana dengan Saraba Instan? Untuk membuatnya relatif mudah. Siapkan jahe yang sudah dikupas dan dicuci. Tahap berikutnya, hancurkan jahe menggunakan blender dan dipanaskan melalui wajan. Masukkan juga gula merah dan diaduk hingga menyerupai dodol. Setelah api dimatikan, aduk terus jahe yang mengental hingga menjadi bubuk. Untuk finishing masukkan bubuk tersebut dalam kemasan dan siap jual.

“Produk olahan banyak memberikan keuntungan. Sekarang tinggal pemasarannya yang ditreatment secara online. Bisa menggunakan semua platform media sosial. Petani juga bisa menggunakan marketplace. Apalagi, Kementan menggandeng beberapa marketplace besar untuk mendistribusikan beragam produk pertanian,” kata Dedi lagi.

Selain kuliner, READSI juga menumbuhkan ketrampilan lain para petani. Petani di Pamona Utara didorong mengbangkan kerajinan tangan bunga plastik. Semakin menarik, kerajinan ini beberapa memanfaatkan limbah plastik sisa rumah tangga. Fasilitator Desa Lena, Maichsen Tontji mengatakan, skill petani bertambah banyak seiring aktivitas off farm melalui ekonomi kreatif.

“Kegiatan off farm yang dijalankan para petani berjalan normal. READSI berhasil mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki para petani. Secara ekonomi, hasil dari aktivitas off farm ini bagus. Sekarang tinggal kapasitas dan pasar yang harus ditingkatkan,” kata Maichsen.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here