Optimalisasi Film Sebagai Media Branding Pariwisata Melalui Bimtek

0
195

YOGYAKARTA – Status film sebagai media branding strategis pariwisata terus dioptimalisasi Kemenparekraf/Baparekraf. Akselerasinya melalui penguatan lini sumber daya manusia. Implentasinya dari Bimtek Basic Film Editing and Audio, Kamis (29/4). Lokasinya berada di The Rich Jogja Hotel, Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk pesertanya berjumlah 100 orang.

“Film memiliki banyak fungsi strategis, diantaranya branding pariwisata. Ada banyak opsi yang ditampilkan, seperti destinasi wisata, budaya, hingga kulinernya. Elemen-elemen ini kerap dijumpai dalam sebuah film,” ungkap Deputi Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya.

Ada banyak film nasional yang membranding destinasi wisata di Indonesia. Mereka menggunakan mengeksplorasi keindahan destinasi sebagai latar cerita film. Sebut saja, film Gie yang memakai layar Gunung Pangrangoe, Jawa Barat. Spot ini pun semakin populer sebagai jalur pendakian. Film lainnya adalah Laskar Pelangi (2008) yang memiliki latar keindahan pantai destinasi Belitung.

Keindahan alam juga disajikan film 5CM (2012) yang mengambil lokasi shooting di Gunung Semeru, Jawa Timur. Warna lain disajikan Film Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016) atau AADC 2. AADC 2 mengambil latar di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mereka juga mengeksplorasi kuliner mulai Klinik Kopi sampai Gereja Ayam. Alur ini pun familiar sebagai paket wisata AADC 2.

Keunikan juga ditawarkan film Filosofi Kopi 2 (2017) yang mengambil latar di Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta. Saat ini kedai Filosofi Kopi menjadi salah satu rujukan utama wisatawan bila berkunjung ke Yogyakarta. Direktur Pengembangan SDM dan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ricky Fauziyani menjelaskan, sinergi besar untuk memajukan pariwisata.

“Film memiliki banyak fungsi. Selain sarana edukasi, film juga efektif sebagai bagian branding destinasi wisata. Ruang lingkupnya juga sangat luas karena film bisa masuk ke berbagai sub sektor kreatif. Untuk itu, diperlukan sinergi besar agar semua menjadi optimal,” jelas Ricky.

Indonesia memang terkenal dengan kekayaan alam dan budayanya yang eksotis. Hanya saja, Indonesia masih kalah bersaing untuk menjual potensinya dari Australia (9,59%), Malaysia (4,51%), hingga Filipina (12,13%). Posisi jual potensi destinasi pariwisata Indonesia hanya 2,69%. Koordinator Edukasi I Direktorat Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Rita Dwi Kartika Utami menegaskan, branding pariwisata semakin kuat.

“Pariwisata Indonesia akan semakin kuat dengan branding masif. Film memiliki kekuatannya tersendiri sebagai media branding potensial. Bimtek ini akan menguatkan potensi tersebut,” tegas Rita.(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here