Protokol CHSE Jadi Ujung Tombak Kemenparekraf Promosi Wisata #DiIndonesiaAja di Kota Pariaman

0
23

PARIAMAN – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) terus menggencarkan promosi pariwisata. Salah satu wilayah yang kimi tengah difokuskan adalah promosi destinasi wisata di Kota Pariaman, Sumatera Barat.

Untuk mempromosikan sejumlah destinasi di Kota Pariaman, Kemenparekraf/Baparekraf menggelar Familiarization Trip atau Famtrip yang melibatkan Key Opinion Leader (KOL). Direktur Pemasaran Regional I Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu menjelaskan, selain destinasi wisata, salah satu yang diangkat untuk dipromosikan pada Famtrip tersebut adalah implementasi protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainable).

Pria yang karib disapa VJ itu melanjutkan, pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan Indonesia saat ini membuat sektor pariwisata begitu terpuruk. “Yang paling terpuruk sekali adalah sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, karena DNA dari pariwisata adalah perjalanan dan pergerakan. Saat pandemi ini wisatawan takut melakukan perjalanan wisata. Tetapi menurut Bapak Presiden, kita tidak boleh berpangku tangan, apalagi meratapi nasib. Sebaliknya, justru di era ini kita harus bangkit,” terang VJ, Jumat (12/3/2021).

Menurut VJ, berbagai cara telah dilakukan oleh Kemenparekraf/Baparekraf agar wisatawan dapat melakukan perjalanan wisata. Tak hanya itu, yang juga ditingkatkan oleh lembaganya adalah lama tinggal dan pengeluaran wisatawan di sejumlah destinasi. “Oleh karena itu, dalam programnya Pak Menteri selalu ingin menggerakkan ekonomi kreatif. Kita terus bergerak. Namun demikian, karena situasinya masih dalam keadaan pandemi Covid-19, kita dilarang untuk mengajak orang untuk melakukan perjalanan wisata yang berpotensi terjadinya kerumunan,” tutur VJ.

Langkah yang dilakukan Kemenparekraf/Baparekraf, VJ melanjutkan, adalah dengan cara menunjukkan protokol kesehatan yang diimplementasikan cukup baik di suatu destinasi wisata. “Caranya kita harus menunjukkan bahwa destinasi ini sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Jadi itulah promosinya. Orang akan melihat kalau ke destinasi ini sudah menerapkan protokol kesehatan dengan baik,” tutur VJ.

Koordinator Pemasaran Pariwisata Regional I Area Kemenparekraf/Baparekraf, Taufik Nurhidayat memaparkan, promosi pariwisata menggunakan sarana offline saat ini sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, promosi berbasis platform online inilah yang akan membantu mempromosikan destinasi wisata yang ada di Indonesia. “Dalam keadaan seperti ini para selegram, endorser, influenser yang terbaik untuk melakukan promosi, memposting semua kegiatan-kegiatan di destinasi yang ada di Pariaman ini. Semoga Pariaman sejajar dengan kota-kota yang lainnya yang sudah lebih dulu berkembang dalam hal pariwisata seperti katakanlah Banyuwangi, Malang, Bandung dan lainnya,” harap Taufik.

Ke depan, Taufik melanjutkan, promosi melalui berbagai kegiatan di Kota Pariaman akan terus digencarkan. Taufik mengaku Kemenparekraf/Baparekraf siap mendukung berbagai event promosi pariwisata di Kota Pariaman ini. “Harapan kami nanti ke depan pelaksanaan kegiatan seperti ini akan terus berlanjut. Ada beberapa program lagi ke depan. Mudah-mudahan kami berharap ada permohonan dari Kota Pariaman. Kami, Kemenparekraf/Baparekraf pasti mendukung kalau memang ada kota yang semangat untuk melakukan pembaruan, baik untuk pariwisata dan ekonomi kreatif,” ucap Taufik.

“Mudah-mudahan yang terpenting kita gaspol, gercep dan geber, kemudian inovasi, adaptasi dan kolaborasi. Itu yang selalu di pegang oleh Pak Menteri. Harapan kami mudah-mudahan dengan Pariaman menjadi kota wisata jadi semakin maju, ekonominya bergerak dan PAD-nya otomatis akan meningkat,” tambah Taufik.

Wali Kota Pariaman, Genius Umar mengungkapkan kebahagiaannya atas support Kemenparekraf/Baparekraf dalam mempromosikan destinasi wisata di wilayah yang dipimpinnya. “Berarti kita tidak bekerja sendiri. Peran pemerintah pusat untuk melakukan pembinaan bagi daerah yang mengurus pariwisata. Kalau daerah semua dibina, tentu saja pemerintah kota bisa meringankan tugasnya dengan spesifikasi yang bergairah, semangat untuk dibina. Mungkin akan lebih cepat maju,” tutur dia.

Umar sependapat akan menyulap Pariaman menjadi kota berbasis pariwisata. “Kita sepakat untuk membangun kota ini menjadi daerah tujuan wisata. Di kampung nelayan dan pantai itu belum menjadi daerah wisata. Pantainya masih kotor dan belum ditata,” ujarnya. Ia menilai lokomotif pariwisata Kota Pariaman adalah Pulau Angso. “Kalau Pulau Angso Duo jadikan lokomotif bisa membangkitkan wisata di kota Pariaman ini. Sehingga, jika pulaunya menjadi tujuan wisata, pantai ini menjadi ramai. Kota ini dalam tujuh tahun ini kita tata menjadi kawasan destinasi dengan konsep waterproof city,” papar Umar.

Ia menerangkan, di pantai-pantai di Kota Pariaman ada tempat-tempat tematik untuk berbagai macam aktivitas masyarakat seperti sepatu roda, skatepark, volly pantai, hutan mangrove, penakaran penyu dan ada taman bunga. “Sehingga semuanya berbeda-beda. Pantai di Pariaman ini nanti ditata dengan konsep yang berbeda-beda,” ulasnya. Tak hanya pantai, Umar juga menilai sungai di Kota Pariaman juga akan ditata secara menyeluruh. “Ada pendestrian, ada tamannya. Ternyata bisa kita lakukan walaupun kota Pariaman ini dananya kecil, tetapi ketika kita buat konsep perencanaan kota yang baik kemudian diajukan ke Kementrian PU, termasuk juga Kementerian Pariwisata membantu juga menata beberapa pedagang yang ada di pantai itu,” jelas dia.

“Perubahan-perubahan yang terjadi, sehingga kita juga bisa membangun social engineering yang mengubah masyarakat nelayan menjadi paket wisata. Dan kita bisa mengubah nelayan itu dengan etika-etika berwisata menyambut tamu yang datang,” ujarnya.(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here