Pertanian Butuh Terobosan, Kementan Kuatkan Peran BPP di Kabupaten Bandung

0
27

KABUPATEN BANDUNG – Kementerian Pertanian kembali menegaskan pentingnya peningkatan kualitas SDM pertanian, baik petani penyuluh, poktan maupun gapoktan. Penegasan tersebut disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Cimaung, Kabupaten Bandung, Senin (8/3/2021).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pertanian membutuhkan SDM-SDM handal.

“Kita membutuhkan terobosan-terobosan untuk mendukung produktivitas pertanian. Untuk itu dibutuhkan SDM-SDM berkualitas,” katanya.

Sementara Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengutarakan hal serupa.

“Pengungkit terbesar, sampai 50 persen, dalam peningkatan produktivitas adalah SDM, baik itu petani, penyuluh, termasuk P4S, Poktan, Gapoktan. Semua itu adalah para eksekutor pertanian yang menjadi pengungkit terbesar peningkatan produktivitas,” tuturnya.

Menurutnya, hal ini sering dilupakan. Bahwa seolah olah pertanian itu hanya pupuk, irigasi, benih dan lain sebaginya.

“Hal penting yang kita ketahui bahwa pengungkit terbesar adalah SDM pertanian, yaitu petani dan penyuluh. Oleh karena itu, berbicara pertanian, pembangunan pertanian, produksi, harus dimulai dari berbicara dari petani, penyuluh, Poktan, Gapoktan, P4S, dan lain sebagainya,” katanya.

Dedi Nursyamsi mengatakan, saat ini Israel mampu mengekspor pangan ke mancanegara, termasuk Indonesia, terutama komoditas hortikultura.

“Ternyata orang petani Israel mampu memanfaatkan teknologi. Dan itu didapat dari otak-otaknya Israel yang memang sangat genius. Mereka mengambil sabut kelapa dari berbagai negara kepulauan. Kemudian sabut kelapa dicincang dan dicampurkan dengan tanah,” jelasnya.

Dijelaskannya, air di Israel mahal. Mereka memanfaatkan air laut yang disuling dan garamnya hilang. Air dialirkan dengan sistem air tetes, kemudian dialirkan ke tanah tanah yang sudah di campurkan dengan sabut kelapa.

“Maka tanah itu akan lembab selama lamanya. Sehingga dia bisa menumbuhkan tanaman apapun di situ. Jadi semua itu dimulai dari SDM-nya, bukan dari pupuknya, irigasi, sarana nya, SDM nya semua sudah terbukti,” jelasnya.

Dedi menambahkan, semua negara maju diawali dengan pertanian yang maju. Hal ini bisa dilihat dari Amerika, Jepang, Korea, China, Australia, New Zealand, dan lainnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Tisna Umaran, mengatakan banyak petani yang beralih dari pertanian padi ke Sosin.

“Sebab, satu kali panen padi bisa tiga kali panen sosin. Sehingga banyak petani beralih ke pertanian Sosin,” katanya.

Tisna Umaran berharap dengan Kostratani pertanian bisa berhasil. Selain itu, ia juga berharap kendala ketersediaan pupuk subsidi bisa diatasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here