Kementan Ajak Petani Sukoharjo Manfaatkan Asuransi

0
30

SUKOHARJO – Sedikitnya 373 hektare lahan pertanian di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, mengalami gagal panen akibat luapan air Kali Langsur dan Sungai Situri. Kementerian Pertanian mengajak para petani untuk mengasuransikan lahan untuk mencegah kerugian jika kejadian serupa terulang.

Luapan air Kali Langsur dan Sungai Situri, merendam lahan pertanian di empat kecamatan. Akibatnya, para petani merugi besar hingga Rp820 juta saat masa tanam (MT) I. Empat kecamatan tersebut adalah Weru, Bulu, Tawangsari dan Sukoharjo.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan petani harus menghindari kerugian.

“Pertanian cukup rentan terhadap sejumlah kondisi, seperti perubahan iklim, cuaca ekstrim, bencana alam, juga serangan organisme pengganggu tanaman dan hama. Jika ingin terhindar dari kerugian, petani harus mengasuransikan lahan,” katanya, Senin (8/3/2021).

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian mengutarakan hal serupa.

“Asuransi memiliki klaim yang bisa dimanfaatkan petani. Klaim yang diberikan saat kondisi gagal panen itu, sebesar Rp 6 juta perhektare,” katanya.

Sarwo Edhy menambahkan, untuk mendapatkan kemudahan pelayanan dari asuransi, petani bisa bergabung dalam kelompok tani.

“Melalui kelompok tani, proses pendaftaran asuransi lebih mudah dan cepat. Karena kelompok tani akan membantu proses tersebut,” terangnya.

Selama ini, air Kali Langsur yang melewati sejumlah daerah di wilayah Sukoharjo kerap meluap saat turun hujan lebat dengan intensitas tinggi.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo, Netty Harjianti, menyebut para petani di empat daerah itu memulai mengolah sawah saat awal MT I pada Februari.

Mereka baru saja menanam benih padi pada beberapa pekan lalu. Rata-rata tanaman padi yang terendam genangan air berumur 20 hari-40 hari.

Akibat lahan pertanian tergenang air luapan Kali Langsur para petani merugi besar.

“Kami sudah menghitung nilai kerugian petani yang tak bisa memanen pada MT I. Kira-kira total nilai kerugian Rp820 juta. Ini cukup besar bagi para petani,” ujar dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here