Keharuman dan Kenikmatan Kopi Malabar Mampu Mendongkrak Nilai Ekonomi

0
37

BANDUNG – Keharuman dan kenikmatan Kopi Malabar, Pangalengan, Kabupaten Bandung, mendapatkan slot branding besar. Kopi Luwak ini sudah terkenal hingga mancanegara dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Apalagi, proses produksinya melibatkan massa petani dalam jumlah banyak.

“Kami mengembangkan hilirisasi pertanian. Jadi, budi daya kopi di sini tidak lagi dijual mentah. Semuanya sudah diolah dengan brand Kopi Malabar. Sebab, zonasi penanamannya di kaki Gunung Malabar. Untuk produksi dan penjualannya bagus. Bisa menambah kesejahteraan petani,” papar Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Rahayu Tani Supriatnadinuri, Selasa (9/3).

Dengan varian Arabika, Kopi Malabar ditanam oleh 112 petani. Mereka adalah member P4S Rahayu Tani. Lokasi tanamnya berada pada ketinggian 1.511-2.040 Mdpl. Luasan lahan tanamnya mencapai 174 hektar. Treatmentnya menggunakan bantuan satwa Luwak. Proses pengolahan awalnya pun menggunakan metode double washer sehingga terbebas dari najis bagi muslimin.

“Kopi Malabar menjadi komoditi yang memiliki nilai ekonomi. Nilainya ekonominya tinggi karena sudah mengalami proses pengolahan. Kemasannya juga menarik. Kalau cita rasanya jelas nikmat. Wajar kalau Kopi Malabar ini menjadi komoditi buruan paling dicari banyak orang,” terang Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Siti Munifah.

Selain double washer, olahan lanjutannya adalah feedling treatment. Metode ini membuat kopi yang dihasilkan memiliki cita rasa berbeda. Rasa khasnya kuat dan sangat sensasional. Untuk pengolahan hulu Kopi Malabar lainnya adalah proses wet hull, dry hull, honey, dan natural. Dari proses tersebut, ada sekitar 4 produk Kopi Malabar yang dihasilkan.

Varian produk tersebut diantaranya Arabika Coffee Specialty dan Arabika Luwak Coffee. Turunan produk lainnya adalah Benih Kopi Arabika (Biji) dan Benih Kopi Arabika dalam Polybag.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengungkapkan, apresiasi diberikan bagi P4S Rahayu Tani karena menerapkan strategi pengolahan produk pertanian Kopi Malabar.

“Upaya P4S Rahayu Tani yang tidak menjual kopi mentah harus diapresiasi. Dengan mengolahnya lebih dahulu, harganya pasti lebih mahal. Nilai ekonominya lebih tinggi. Cara seperti ini harus ditiru oleh unit bisnis komoditi pertanian lainnya. Melalui treatment yang diberikan, mereka bahkan bisa mengoptimalkan cita rasa dan aroma yang muncul,” ungkap Dedi.

Ditopang kesesuaian tempat tumbuh tinggi dengan tanah vulkanis, profil Kopi Malabar memang sangat mengesankan. Fisiknya leboh berisi. Saat diseduh lebih kental dan cita rasanya ‘nendang’. Penikmat Kopi Malabar juga bisa merasakan sweety jeruk dengan aroma Nangka bila ditreatment melalui proses natural. Dedi menambahkan, pangsa pasar Kopi Malabar luas.

“Kopi Malabar tentu memiliki pasar yang luas, apalagi harganya masih terjangkau. Silahkan saja coba dan nikmati cita rasa luar biasa Kopi Malabar ini,” lanjut Dedi.

Menawarkan experience cita rasa luar biasa, Kopi Malabar menjadi rujukan masyarakat dunia khususnya sebelum pandemic Covid-19. Masyarakat dari negara-negara ASEAN pernah berkunjung ke Pangalengan untuk menikmati Kopi Malabar. Kawasan lain di Asia yang menjadi pelanggan tetap Kopi Malabar adalah Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, dan Taiwan. Negara konsumen tetap lainnya adalah Denmark, Belanda, dan Prancis.

Kopi Malabar juga pernah mengisi slot ekspor pada periode 2015-2017. Selama 2 tahun tersebut, sudah ada 5 kontainer yang diekspor. Setiap kontainer diisi dengan biji Kopi Malabar dengan berat 18,3 Ton. Salah satu pasarnya adalah Singapura. Selain mancanegara, Kopi Malabar juga mengisi pasar domestic khususnya untuk wilayah Jabodetabek. Bila tertarik, silahkan menghubungi nomor 085341138884 atau 081222639888.

“Kami akan support siapapun yang mengembangkan hilirisasi pertanian. Produk pertanian harus diolah dahulu sebelum dilepas ke pasar. Kalau hilirisasi produk pertanian dilakukan, pendapatan yang diterima pasti lebih besar. Apalagi, konsep korporasi juga diterapkan untuk optimalisasi efisiensi,” tutup Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here