Sekolah Lapang Diminati Petani dan Penyuluh di NTB

0
50

KABUPATEN BIMA – Kegiatan Sekolah Lapang (SL) padi dari Integrated Participatory  Development  and Management of Irrigation Program (IPDMIP), Minggu (7/2/2021), diminati penyuluh dan petani.

Kegiatan ini diikuti peserta dari kelompok tani Muncul Baru, Desa Monggo, Kecamatan Madapangga, Daerah Irigasi (DI) Madapangga.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) berharap sekolah lapang dapat membuat petani dan penyuluh kian semangat turun ke lapangan.

“Petani dan penyuluh harus terus ke lapangan, jangan berhenti menanam. Karena hanya dengan menanam kita bisa memperkuat ketahanan pangan. Pertanian tidak boleh berhenti. Pertanian tidak boleh bersoal,” tutur Mentan SYL.

Menurutnya Sekolah Lapang Petani Program IPDMIP merupakan salah satu upaya yang dapat memperkuat ketahanan pangan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, di masa pandemi Covid-19, ada dua solusi yang bisa dilakukan bersama-sama.

Pertama adalah pendekatan medis agar kita selalu sehat. Sementara yang kedua adalah pendekatan pangan.

“Pendekatan pangan tidak kalah penting dari kesehatan. Karena dalam situasi dan kondisi apa pun, pangan tidak boleh bersoal. Apalagi dalam kondisi seperti pandemi Covid-19 sekarang. Oleh karena itu, seluruh insan pertanian di mana pun berada, Kementerian Pertanian punya tugas menyediakan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Dedi Nursyamsi meminta proses produksi pangan dan pertanian tidak berhenti. Karena, hanya pertanian yang bisa menyediakan pangan.

Kepala Bidang Penyuluhan Kabupaten Nusa Tenggara Barat, Kisman, menyampaikan kegiatan SL itu penyuluh dan petani sangat senang melaksanakannya karena mereka pada bisa menyampaikan pengalamannya.

Oleh karena itu maka pesertanya dipertimbangkan gender dan generasi muda /pemua. Jumlah peserta ada 20 orang anggota. Adapun rinciannya  laki-laki  dewasa (9 orang), perempuan (7 orang), dan pemuda/i (4 orang).

penyuluh pendamping SL, Raodah,  menambahkan bahwa kegiatan SL telah  berjalan sampai pada pertemuan ke 4 dengan materi pemupukan susulan ke 2 dan Bagan Warna Daun (BWD).

Pemupukan susulan ke 2 biasanya diberikan pada tanaman padi sekitar umur 21 Hari setelah Tanam (HST) biasanya mrenggunakan urea 150 kg/ha (tergantung kondisi kebutuhan lahan dan tanaman). Sementara BWD digunakan untuk monitoring pemberian pupuk.

Hal tersebut dilakukan 14 HST sampai fase berbunga (63 HST) setiap 7 hari sekali,

Keseriusan terpancar pada sikap peserta. Pertanyaan dan diskusi saling membagikan pengalaman masing masing terlihat sekali. Menunjukkan antusias yang tinggi.

Terlebih peserta ibu ibu yang telaten sekali dalam melakukan pengamatan dengan menggunakan BWD. Demikian juga dalam mengamati pertumbuhan.

Yulia Tri Sedyowati sebagai Penyuluh Pertanian Pusat sebagai PIC di Regional 7 menyaran kepada peserta bahwa BWD itu sangat diperlukan oleh penyuluh dan petani.

“Khususnya untuk menentukan waktu pemupukan N pada tanaman padi, sehingga bisa untuk membantu mengoptimalkan penggunaan N yang diberikan,” tuturnya.(YTS/EZ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here