Benih Penangkar Lokasi Dimanfaatkan di SL IPDMIP

0
43

NUSA TENGGARA TIMUR – Kegiatan Sekolah Lapang (SL) Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP) memanfaatkan benih hasil penangkaran petani setempat.

IPDMIP merupakan program pemerintah di bidang irigasi yang bertujuan untuk mencapai keberlanjutan sistem irigasi, baik sistem irigasi kewenangan pusat, kewenangan provinsi maupun kewenangan kabupaten.

Upaya ini diharapkan dapat mendukung tercapainya swasembada beras sesuai program Nawacita Pemerintah Indonesia.

Menteri Syarul Yasin Limpo (SYL), mengatakan IPDMIP mendukung pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.

“Lewat berbagai kegiatan, termasuk Sekolah Lapang IPDMIP, kita berharap petani mendapatkan pembekalan. Sehingga, mereka bukan bisa mengembangkan usaha taninya sekaligus meningkatkan kemampuan,” katanya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, menyampaikan hal yang senada.

“Kegiatan Sekolah Lapangan Program IPDMIP digelar  untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap petani. Program ini  bertujuan untuk mencapai keberlanjutan sistem irigasi, baik sistem irigasi kewenangan pusat, kewenangan provinsi maupun kewenangan kabupaten,” katanya.

Dedi Nursyamsi mengatakan, IPDMIP dirancang untuk mengatasi berbagai kendala dan meningkatkan produktivitas pertanian, serta mengurangi kemiskinan di pedesaan, mempromosikan kesetaraan gender dan meningkatkan gizi.

“IPDMIP meningkatkan nilai pertanian irigasi berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan ketahanan pangan dan sumber penghidupan di perdesaan,” katanya.

IPDMIP juga menggunakan strategi penetapan sasaran yang mempertimbangkan tingkat kemiskinan yang ada untuk menjangkau rumah tangga yang paling termarginalkan (misalnya miskin, perempuan, pemuda petani di daerah hilir, daerah-daerah dengan irigasi yang kurang memadai). Salah satu kegiatannya adalah Sekolah Lapang (SL).

Menurut keterangan Fani, penyuluh pendamping di daerah tersebut, jumlah peserta SL ada 25 orang, terdiri dari 18 orang pria dan 7 wanita. Jadi mempertimbangkan kesetaraan gender Rencana teknologi yang akan diterapkan mulai dari olah tanah hingga panen.

Adapun Varitas yang digunakan varietas lokal yang disukai penduduk setempat yaitu Varitas Cikapundung. Kebetulan Varietas tersebut cocok untuk dataran tinggi.

Menurut keterangan Martinus selaku konsultan daerah di Kabupaten Manggarai Timur,  pelaksanaan SL di kegiatan IPDMIP Manggarai Timur tahun 2021, sudah memperkenalkan benih unggul varietas Ciherang.

“Manfaat Benih unggul ini, sudah mulai disosialisasikan sebagai salah satu materi Sekolah Lapang di berbagi daerah Irigasi di Kabupaten Manggarai Timur. Benih unggul ini merupakan bantuan IPDMIP propinsi, dan Kabupaten Manggarai Timur mendapat alokasi 30 ton benih untuk 1200 Ha,” terangnya.

Benih-benih tersebut telah didistribusikan ke kelompok tani penerima di daerah irigasi IPDMIP. Daerah Irigasi yang menjadi lokasi IPDMIP kab Manggarai Timur 2021 sebanyak 17 Daerah Irigasi (DI), dari 17 DI tersebut, ada 15 DI yang kegiatan  SLnya sudah berjalan di  MT Oktober Maret ini, dan sisanya 2 DI akan dimulai pada MT April September.

Benih varietas unggul yang berlabel biru dari propinsi ini, merupakan hasil penangkaran benih  dari KEP Wela Wangkung desa Sita Kecamatan Rana Mese kab Manggarai Timur. Benih-benih ini sudah didistribusikan ke 17 DI lokasi IPDMIP 2021  dan DI kesepakatan lainnya.

Pelaksanaan SL tersebut diselenggarakan di desa Sita Kecamatan Rana Mese Manggarai Timur .  Dimulainya SL sudah berjalan 1bulan lebih.materi tentang Benih Unggul,bermutu dan bersertifikatpun sudah disampaikan hingga sampai perlakuan benih.

Peserta SL sebanyak 20 orang utusan dari 5 kelompok tani dengan kuota min 30% perempuan. Dalam SL ada 12 materi yang disampaikan sekaligus dipraktekkan mulai dari pengenalan benih unggul bermutu dan bersertifikat, perlakuan benih, pengolahan tanah secara sempurna.

“Dikenalkan juga pola tanam jajar legowo 4:1, Pengairan berselang, Pengendalian gulma, pembuatan pupuk organic, Pengendalian hama penyakit, panen dan pasca panen, analisa usaha tani dan terakhir Dinamika Kelembagaan tani,” Martinus menambahkan.

Menurut Yulia Tri Sedyowati selaku penanggung jawab regional 7 menyampaikan, Dari 15 DI tentu saja masing masing sudah sampai tahapan apa itu beda-beda.

“Ada yang sudah tanam, ada yg baru pertemuan persiapan, ada yg pertemuan pertama, namun pada dasarnya 15 DI sudah berjalan, tentunya panen nyapun akan bergantian,” tuturnya.(YTS/EZ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here