Tetap Eksis saat Pandemi, P4S Wargi Panggupay Lembang Terus Lahirkan Petani Millenial

0
56

BANDUNG BARAT – Saat semua sektor nyaris terdampak pandemi Covid-19, namun tidak halnya dengan pertanian. Sektor ini tetap berkarya meningkatkan produktivitasnya. Ya, pandemi tak bisa menjadi penghalang bagi petani untuk terus turun ke sawah, ke kebun, ke ladang untuk berproduksi. Hal itu pula yang dilakukan oleh petani di wilayah Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang tetap berproduksi, tanam dan panen setiap hari, serta menjual hasil olahan pertanian mereka ke luar KBB.

Hal itu pun mendapat apresiasi dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Mentan SYL menilai apa yang dilakukan kelompok Wargi Panggupay menjadi angin segar bagi sektor pertanian di Indonesia. Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, bahwa pertanian harus tetap berjalan di tengah pandemi Corona.

Oleh sebab itu, Mentan SYL merespons dengan melakukan berbagai langkah strategis guna mengoptimalkan SDM pertanian dan menggenjot produktivitas. Seperti diketahui Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaaan Swadaya (P4S) merupakan sarana untuk pengembangan SDM pertanian yang strategis karena dimiliki, dari, oleh dan untuk petani.

“Pertanian yang maju, mandiri dan modern berarti kita bicara SDM. Maka perlu ada penguatan kapasitas SDM pertanian kita,” ujar Mentan SYL. Menurut Mentan kolaborasi pertanian dan teknologi ke depan juga harus menjadi satu kesatuan agar mampu semakin menambah pendapatan bagi petani jika produktivitasnya semakin meningkat. “Hal ini sudah menjadi keharusan mengingat tuntutan kemajuan pertanian yang maju mandiri dan modern perlu didukung oleh SDM yang mampu mengelola usaha pertanian berbasis teknologi,” ujar Mentan SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian (BPPSDMP Kementan) Dedi Nursyamsi menilai apa yang dilakukan oleh P4S Margi Panggupay harus menjadi percontohan bagi kelompok di daerah lainnya. Bagaimana proses pertanian telah digarap dari hulu hingga hilir. “Pertanian sekarang itu tak hanya cukup di hulu saja, tetapi juga harus sampai pada hilirisasi. Tentu ini akan memberi nilai tambah kepada petani. Pertanian itu tak lagi hanya sekadsr kewajiban saja, tetapi harus berorietasi pada bisnis,” ucap Dedi.
Dari hal itu semua, yang terpenting dalam meningkatkan produktivitas dan nilai tambah bagi petani adalah SDM. Dedi SDM merupakan kata kunci utama bagi majunya sektor pertanian di suatu negara. “SDM itu memberikan kontribusi yang besar bagi peningkatan produktivitas. Di negara-negara maju, sektor pertanian mereka maju dimulai dari pembangunan SDM-nya. Untuk itu, kita harus terus genjot SDM agar produktivitas pertanian kita bisa terus meningkat,” ucapnya.

Kelompok Wargi Panggupay, menurut Dedi, sebagai bukti nyata bagaimana SDM berpengaruh kuat pada peningkatan kesejahteraan petani. “Kelompok Margi Panggupay ini menjadi bukti nyata bagaimana peningkatan kapasitas SDM berkaitan erat dengan peningkatan kesejahteraan petani,” tutur Dedi.

Sementara Kepala Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) BPPSDMP Kementan, Bustanul Arifin menambahkan, pelatihan di sektor pertanian merupakan salah satu treatment untuk terus berupaya meningkatkan kapasitas SDM pertanian Indonesia. “Tujuannya tentu berorientasi pada peningkatan produktivitas. Maka, pelatihan SDM pertanian merupakan hal yang penting untuk menjadi perhatian kita bersama,” tuturnya.

Di sisi lain, pelatihan SDM pertanian sebagai bagian dari upaya transfer knowledge kepada para petani dan penyuluh yang merupakan ujung tombak pertanian Indonesia. Di sisi lain, pelatihan SDM juga difokuskan meningkatkan keterampilan dan daya inovasi SDM pertanian dalam negeri. “Kami juga berorientasi mencetak petani yang maju, mandiri dan modern sebagaimana dicita-citakan Pak Menteri. Juga, kami ikut mendukung program mencetak petani milenial yang merupakan penerus generasi pertanian di masa mendatang,” tutur Bustanul.

Ketua P4S Wargi Panggupay Lembang Ulus Pirmawan menuturkan, ia dan rekan-rekannya telah merintis usaha sejak tahun 1993. Bersama lima kelompok tani binaan, mereka memasok sayuran ke berbagai pasar di daerah Bandung bahkan ekspor. Mereka juga rutin memasok berbagai sayuran hasil panennya ke Toko Tani Indonesia (TTI) di wilayah Jakarta dan Bogor. Selain itu, Wargi Panggupay juga pemasok tetap ke supplier sayuran milik alumni magang Jepang, Yan’s Fruit and Vegetables.Yang lebih keren lagi, Wargi juga telah membuka banyak lapangan kerja untuk petani Milenialls.

“Pandemi Covid-19 tidak membuat kami dan petani di Lembang berhenti tanam dan panen. Kami tetap melakukan budidaya sayuran seperti biasa. Selain itu pelatihan terus jalan, Alhamdulillah dari seluruh Indonesia datang ke tempat kami,” ucap Ulus, Sabtu (30/1/2021). Hanya saja, pandemi yang mengubh seluruh tatanan mau tak mau membuat mereka juga beradaptasi. Salah satunya soal penjagaan jarak antarsatu petani ke petani lainnya di lapangan. Ulus dan rekan-rekannya memerhatikan betul protokol kesehatan kala menggarap lahan. “Kami tetap memperhatikan protokol pertanian di lapangan, menggunakan mekanisasi dalam olah lahan sehingga jarak dengan petani lain pun tidak berdekatan,” terang Ulus.

Ada puluhan komoditas yang dipasok P4S Wargi Panggupay ke beberapa daerah dan toko di berbagai tempat. “Kami rutin mengirimkan produk sayuran sebanyak 60 komoditas ke Toko Tani Indonesia di Jakarta dan Bogor. Dalam seminggu dua kali pengiriman,” sambungnya.

P4S Wargi Panggupay memiliki lahan 6 hektare dan sudah berdiri 7 green house yang ditanami aneka sayuran. Seperti cabai rawit, cabai merah, tomat, lettuce, romaine, brokoli dan yang menjadi komoditas andalan untuk ekspor adalah baby buncis Kenya. “Semoga kami terus melahirkan petani Milenialls, dan juga terus bisa meyakinkan kepada kawula muda, bahwa menjadi petani itu adalah sebuah kebanggaan. Profesi yang sangat menjanjikan,”kata Ulus yang saat ini sudah memiliki beberapa rumah dan kendaraan mobil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here