Ratusan Hektare Padi di Kawasan Food Estate Pulang Pisau Siap Dipanen

0
39

PALANGKA RAYA – Pengembangan food estate, khususnya kawasan Center of Excellent Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (Kalteng) makin menunjukkan hasil positif. Saat ini, sedang dipersiapkan panen raya yang akan dilakukan awal Februari nanti.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kalimantan Tengah Syamsuddin menegaskan, saat ini sedang dilakukan persiapan panen raya di kawasan pengembangan food estate, khususnya kawasan Center of Excellent Pulang Pisau.

“Kami saat ini sedang menyiapkan panen raya yang direncanakan pada minggu pertama Februari, sekitar 200-250 hektare,” kata Syamsuddin

Dia menjelaskan, produktivitas dari hasil-hasil yang digali di lapangan sangat beragam. Namun pada prinsipnya didapatkan produksi rata rata 5-6 ton per hektare. Beberapa produktivitas yang cukup bagus seperti menggunakan varietas Inpari 42 dan beberapa lainnya.

“Semua itu berdasarkan pengakuan riil para petani yang telah melakukan panen maupun penampilan tanaman di lapangan,” ujarnya.

Seperti hasil pertanaman padi milik Taufik yang berasal dari Poktan Karya Makmur Desa Belanti Siam dengan total garapan lahan mencapai 100 Ha , yang ditanam padi varietas inpari 42 dan dilaporkan memperoleh hasil meningkat , saat ini ada mencapai 6.4 ton per hektar dan siap dijadikan benih kembali. Sama halnya dengan lahan padi milik Wasis Daryanto yang tergabung dalam Kelompok Tani Rukun Santoso di Desa Belanti Siam Kabupaten Pulang Pisau melaporkan bahwa dengan mengikuti program Food Estate dapat meningkatkan produktivitasnya, saat ini lahannya telah panen di blok Rey 6 dengan hasil 5,6 ton per hektar.

Sementara itu terkait kendala, pihaknya menjelaskan dari awal pengawalan pertanian ini cukup ketat, namun faktor iklim khususnya angin di Pulang Pisau jauh lebih kencang dibanding wilayah lainnya, sehingga dapat mengakibatkan tanaman roboh.

“Namun kembali kami sampaikan kenapa roboh, ini juga turut dipengaruhi faktor kebiasaan petani, mereka tidak melakukan tanam pindah. Kami merekomendasikan tanam pindah, namun kebiasaan petani adalah tanam tabur atau dilarik,” ungkap Syamsudin.

Tanam tabur atau larikan ini, secara perakaran tidak sekokoh jika dibandingkan tanam pindah. Nyatanya hal ini juga sudah disampaikan salah satu ketua kelompok tani di lapangan dan mengakui tanaman dengan tanam pindah memang lebih bertahan.

“Soal tanaman roboh, sebagian petani umumnya memanen dengan kondisi seadanya, atau tanaman dalam kondisi hijau, dan belum matang maksimal atau matang fungsional, berada 85-95 persen. Sehinggga hasil dari gabah tidak akan maksimal karena berada pada posisi hampa atau ringan saat
dikeringkan, dan secara langsung akan menurunkan nilai timbang atau produktivitasnya,” terangnya.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, pihaknya akan memaksimalkan semua potensi yang ada untuk segera ditanami kembali, termasuk mekanisasinya.

“Setelah dilakukan panen raya nanti, gunakan semua kekuatan untuk bisa menanam lagi dengan baik dan tentu saja 100 hari kemudian diharapkan bisa panen kembali,” ujar Mentan SYL, Sabtu (30/1).

Mentan SYL menjelaskan, program ini, merupakan proyek percontohan nasional, sebagaimana arahan Presiden. Program ini dipersiapkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, di antaranya dengan pengembangan berbagai komoditas, mekanisasi, pemberdayaan petani, hingga industri pengolahannya.

“Meski demikian, manusia tetap menjadi bagian dari kekuatan yang ada, terutama masyarakat setempat. Saya minta harus off farm-nya, itu artinya industri pengolahannya, RMU misalnya, meningkatkan industri-industri yang mampu dipasarkan, baik secara marketplace, pasar tradisional, serta diharapkan bisa ekspor,” tuturnya.

Terpisah, Dirjen PSP Sarwo Edhy menyampaikan bahwa pengembangan lahan rawa sebagai lahan pangan masa kini dan masa depan dinilai sangat strategis dan prospektif dalam mendukung ketahanan pangan, mengingat pertambahan jumlah penduduk yang sangat cepat disatu sisi lahan pertanian banyak yang beralih fungsi.

Saat ini kontribusi produksi pertanian lahan rawa pada pangsa produksi pangan nasional masih rendah terkendala oleh kondisi lahan yang masih marjinal, tata kelola air yang perlu diperbaiki, budaya lokal serta keterbatasan sumber daya manusia yang akan mengelola lahan pertanian.
“Maka pengembangan kawasan tanaman pangan skala luas (food estate) di lahan rawa Kalimantan Tengah merupakan upaya terobosan peningkatan produksi pangan dan stok cadangan pangan nasional terutama mengantisipasi dampak pandemi COVID-19.” papar Sarwo Edhy

Pengembangan Kawasan Food Estate Berbasis Korporasi Petani di Lahan Rawa Kalimantan Tengah dilaksanakan pada pengembangan komoditas utama (padi) melalui pola intensifikasi dan ekstensifikasi lahan sejalan dengan pengembangan komoditas pendukung (hortikultura, peternakan, perkebunan) pada area Food Estate.

Pengembangan pilot percontohan pengembangan pertanian moderen, penguatan kelembagaan tani diharapkan dapat mendukung pengembangan sistem pengelolaan hulu sampai hilir berbasiskan koorporasi petani.

“Dukungan dari lintas kementerian/lembaga terkait berupa kebijakan pengembangan infrastruktur, penyiapan Sumber Daya Manusia di lokasi serta pengelolaan dan pemasaran hasil sangat diperlukan dalam pengembangan Food Estate ini.” Pungkas Sarwo Edhy(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here