Gandeng Kapten, Kementan Siapkan Petani Muda untuk Magang ke Jepang

0
42

LEMBANG – Demi meningkatkan kemampuan para petani muda, Kementerian Pertanian bersama Komunitas Penyedia Tenaga Kerja Internasional Indonesia (Kapten) berencana mengirimkan petani muda untuk magang di Jepang.

Kerjasama tersebut dibahas dalam Pertemuan Koordinasi Peningkatan Kompetensi Petani Muda Melalui Program Magang Jepang dan Specified Skilled Worker (SSW) di BBPP Lembang, 28 – 30 Januari 2021.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, penyiapan tenaga kerja harus dilakukan.

“Kita membutuhkan petani milenial yang siap bersaing secara global. Untuk itu, kemampuan tenaga tani harus disiapkan, salah satunya melalui program magang,” katanya.

Menurut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, Kapten dipilih menjadi mitra karena sudah lama malang melintang di dunia pertanian.

“Kapten tahu bagaimana mengelola para tenaga magang di luar negeri, apalagi di Jepang. Dan Indonesia memang punya kompetensi dalam mengelola tenaga magang ke negara-negara yang sudah maju, utamanya tentu saja ke negara-negara yang sudah maju pertaniannya misalnya Jepang, Taiwan, Australia, Korea dan sebagainya,” katanya.

Dedi Nursyamsi yakin dengan kerjasama ini kemampuan tenaga tani Indonesia akan meningkat pesat.

“Pasti nanti outputnya juga akan meningkat pesat. Sehingga juga ada yang istimewa. Sekarang target Pak Menteri itu 1000 orang berangkat ke Jepang. Itu istimewa. Sebab kalau tahun-tahun lalu itu paling sekitar 200-an, tapi tahun ini harus 1000,” ujarnya.

Dedi berharap akselerasi ini memberikan dampak positif. Apalagi, sektor pertanian menjadi tumpuan yang pembangunan ekonomi nasional. Apalagi dalam kondisi seperti ini sektor pertanian masih mampu tumbuh secara signifikan.

“Oleh karena itu, kita harus siapkan petani milenial untuk terjun ke bisnis pertanian, baik level Indonesia maupun di level internasional, salah satu caranya dengan magang ke Jepang,” katanya.

Menurutnya, Jepang memiliki etos kerja yang baik dan memliki budaya kerja keras.

“Saya tahu persis bagaimana etos kerja orang Jepang. Bayangkan, tahun 45 Jepang adalah negara paling bangkrut di dunia gara-gara kalah perang dunia ke-2. Jepang dibombardir sekutu di Hiroshima dan Nagasaki akhirnya dia menyerah tanpa syarat. Saat itu utangnya dimana-mana. Tapi 25 tahun kemudian, sekitar tahun 70-an Jepang sudah menguasai dunia melalui sektor elektronik,” terangnya.

Dedi menilai hal itu dimungkinkan karena memang etos kerjanya luar biasa. Menurutnya, petani Jepang bekerja ke lapangan sebelum matahari terbit dan baru pulang ke rumah setelah matahari terbenam berarti jam kerja kan lebih dari 12 jam.

“Bukan hanya petaninya, semua pekerjaan pun begitu. Apalagi karyawan di industri industri karyawan termasuk di pemerintah artinya etos kerjanya luar biasa,” jelasnya.

Sementara Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Komunitas Penyedia Tenaga Kerja International (Kapten) Indonesia, Abdul Rauf, mengatakan menyiapkan SDM dengan membuat kurikulum khusus berisi 6 item.

“Didalamnya 50% sesuai dengan bahasa negara tujuan 10% itu untuk budaya fisik, mental, disiplin. Kebutuhan fisik mental disiplin itu diperlukan di setiap negara. Mereka yang siap bekerja perlu sehat, perlu mental yang bagus dan yang terakhir itu adalah soal bagaimana kesiapan tentang kerohaniannya jadi ada 100%,” terangnya.

Menurutnya, Kapten memastikan frekuensi ketahanan dan kemampuan sesuai spek yang diminta negara tujuan.

“Kami berterima kasih kepada Kementan yang bisa melakukan kerjasama dalam hal penguatan SDM. Kami siap bekerjasama mulai dari hulu hingga hilir, mulai proses pemberangkatan sampai terlibat di bidang pengawasan dan perlindungan di luar negeri,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here