Banjir Terjang Sawah, Petani Tanjabtim Disarankan Ikut AUTP

0
21

MUARA SABAK – Seluas 842,5 hektar lahan pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) mengalami puso. Hal ini disebabkan tingginya curah hujan dan luapan air Sungai Batanghari.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyarankan petani di Tanjabtim menjadi peserta asuransi pertanian. Hal ini untuk mengantisipasi kerugian akibat gagal panen. Seperti diketahui, Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) merupakan upaya Kementan untuk melindungi usaha tani agar petani masih bisa melanjutkan usahanya ketika terkena bencana banjir, kekeringan atau serangan OPT.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) minta Dinas Pertanian Daerah untuk mendorong petani mengikuti AUTP. Pemerintah memberikan subsidi premi asuransi tani sebesar Rp 144 ribu/ha.

“AUTP ini akan terus kami sosialisasikan ke petani. Karena ini menjadi bentuk perlindungan kepada mereka dan saat ini sudah banyak petani yang menjadi anggota AUTP,”  kata Mentan SYL, Minggu (3/1).

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, dengan adanya AUTP, petani yang terkena musibah banjir atau kekeringan bisa mendapatkan ganti rugi.

“Dengan membayar premi hanya Rp 36 ribu/ha/musim, petani yang sawahnya terkena bencana banjir, kekeringan dan serangan OPT dapat klaim (ganti) Rp 6 juta/ha,” kata Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy berharap, dengan harga premi yang sangat murah petani padi bisa menjadi peserta AUTP. Jika melihat perkembangan peserta AUTP, sejak tahun 2017 hingga kini cenderung meningkat.

Adanya tren positif peserta AUTP menurut Sarwo, karena pelaksanaan asuransi pertanian yang bekerjasama dengan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) ini memberikan berbagai keuntungan bagi petani/peternak. Bukan hanya nilai premi yang dibayarkan petani cukup murah, tapi juga memberikan ketenangan dalam berusaha.

“Petani dan peternak semakin mengerti manfaat dan peluang dari asuransi ini. Hanya dengan seharga satu bungkus rokok, petani dan peternak bisa tidur tenang. Petani tidak tahun lahannya rusak terkena banjir, kekeringan atau terserang hama penyakit,” tuturnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Tanjabtim Sunarno, mengatakan periode Oktober-Maret (Okmar) telah menanam padi seluas 9.394 hektar. Namun, akibat dari banjir yang melanda Kabupaten Tanjabtim beberapa waktu lalu, ada seluas 842,5 hektar yang mengalami puso.

“Untuk periode Okmar, pada bulan Oktober kita menanam padi seluas 3.886 hektar, bulan November seluas 3.460 Hektar dan Desember 2.046 hektar, total 9.394 hektar. Sedangkan yang puso 842,5 hektar,” ujarnya.

Dijelaskannya, langkah-langkah untuk penanganan lahan pertanian padi yang puso ini, pihaknya akan membantu petani untuk mengklaim asuransi tanaman padi yang puso atau AUTP. Di mana lahan pertanian padi yang puso tersebut semuanya berada di Kecamatan Berbak.

“Kita sudah menyusun berkas sesuai dengan ketentuan klaim asuransinya. Kita bantu untuk lahan pertanian padi di Berbak yang puso,” jelasnya.

Pihaknya juga telah mengajukan lahan pertanian padi yang puso tersebut ke Kementerian Pertanian untuk bantuan Cadangan Benih Nasional.

“Bantuannya berbentuk benih padi diperkirakan sekitar bulan Januari pertengahan akan tersalurkan, untuk mengejar periode tanam Okmar,” ungkapnya.

Menurutnya, banjir yang melanda Kabupaten Tanjabtim tahun ini kebetulan banjir terbesar beberapa tahun terakhir ini. Sehingga untuk meminimalisir kemungkinan banjir merendam lahan padi itu sangat sulit, apalagi banjir ini adalah banjir tahunan.

“Tanggul saja tidak bisa mengatasinya, karena air yang pasang tinggi. Jadi hal tersebut sulit diatasi, karena memang kondisi alam,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here