Mekanisasi untuk Wujudkan Pertanian Maju, Mandiri dan Modern

0
15

DEMAK – Mekanisasi pertanian menjadi hal utama dalam upaya mewujudkan pertanian yang maju, mandiri dan modern. Salah satunya dengan penyediaan dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) pascapanen untuk peningkatan produksi komoditas tanaman pangan.

Salah satunya di Kabupaten Demak dalam 5 tahun terakhir telah disalurkan ratusan alsintan dari Kementerian Pertanian (Kementan). Tercatat sebanyak 480 unit traktor, 94 unit combine harvester, 385 unit pompa air dan 107 unit rice transplanter telah diterima oleh kelompok tani Demak.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, mekanisasi pertanian memang bertujuan untuk mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern. Dengan Alsintan, proses pertanian bisa dilakukan dengan cepat dan efisien.

“Dalam kondisi bagaimanapun, produksi pertanian harus terjamin. Tanggung jawab menyediakan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia merupakan spirit bagi keluarga besar Kementerian Pertanian dan semua pelaku pembangunan pertanian,” ujar Mentan SYL.

Menteri SYL mengatakan, penggunaan teknologi diharapkan mampu meningkatkan produksi padi pada tahun-tahun mendatang.

“Dengan teknologi, saya berharap tidak mendengar adanya penurunan produksi. Gunakanlah alat canggih yang ada supaya kita bisa ekspor. Kita harus serius dalam mengurus pertanian ini,” tegasnya.

Sementara, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, selain ke UPJA, petani juga bisa melakukan sewa pinjam Alsintan yang dikelola Brigadir Alsintan, dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) di daerah masing-masing.

“Dengan menggunakan Alsintan, petani akan lebih hemat dan lebih cepat dalam proses menanam juga panen,” katanya.

Keuntungan lain, penggunaan Alsintan dapat mengurangi penyusutan hasil panen (losses) sebesar 10% dan meningkatkan nilai tambah. Bahkan, penanaman padi yang dulunya hanya satu kali setahun, kini bisa tiga kali karena proses pengolahan dan panen yang cepat.

“Produksi yang dicapai petani lebih tinggi, pendapatan petani pun ikut naik,” tambahnya.

Sarwo Edhy juga mengatakan, alsintan yang dikelola UPJA di sejumlah daerah sudah banyak yang berhasil. UPJA terbukti bisa memberikan nilai tambah kepada poktan atau gapoktan.

“Ada salah satu UPJA yang mengelola alsintan kurun dua bulan bisa mendapatkan hasil dari sewa alsintan ke petani hingga Rp 46 juta,” ujar Sarwo Edhy.

Menurut Sarwo Edhy, bantuan alsintan ke petani harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebab, petani yang menggunakan alsintan usaha taninya lebih efektif dan efisien.

“Kalau dulu petani membajak sawah dengan alat tradisional butuh waktu 5-6 hari per hektare. Dengan memanfaatkan traktor, petani hanya butuh waktu 3 jam per ha. Sehingga, penggunaan alsintan 40 persen lebih efisien,” pungkasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Demak, Wibowo menyebutkan peningkatan pemanfaatan alsintan di wilayahnya didukung dengan pengembangan organisasi Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA).

“Kami lakukan sosialisasi dan pembinaan UPJA, salah satu UPJA yang sangat menonjol disini adalah UPJA Karya Bersama,” katanya.

Bahkan, menurut Wibowo, UPJA Karya Bersama menyabet predikat UPJA Berprestasi ke-III tingkat nasional tahun 2018 lalu. Prestasi dan kemampuan UPJA mengelola alsintan bantuan Pemerintah ini menjadikan UPJA Karya Bersama sebagai rujukan UPJA percontohan.

UPJA yang telah berbadan hukum di tahun 2015 tersebut, kini sering mendapatkan kunjungan dari bebagai daerah untuk menjadikan rujukan model UPJA yang berhasil mengelola usahanya.

“Kami terus mendorong supaya UPJA ini bisa memberikan contoh bagi kemajuan yang lain, terima kasih kami tentunya atas bantuan dari Kementan dan dukungan penuh selama ini,” ujar Wibowo.

Muhson, Ketua UPJA Karya Bersama menyebut salah satu layanan unggulan Karya Bersama saat ini adalah pelayanan jasa rice transplanter.

“Dengan mesin tanam padi sebanyak 3 unit yang kami miliki, alhamdulillah berhasil mengatasi kelangkaan tenaga kerja tanam,”ujar Muhson.

Tanpa harus menutup mata pencaharian regu tanam yang telah ada, anggota regu tanam yang kebanyakan perempuan itu, dilatih untuk membuat persemaian dalam seedling tray. Upah yang mereka dapat tidak jauh beda dari upah regu tanam.

“Hal ini malah menjadikan lebih efisien, mereka kita latih, dan tanam pun sekarang jadi lebih mudah,” sebutnya.

UPJA yang terletak di Desa Megonten, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak ini pernah mendapatkan bantuan 1 unit combine harvester pada tahun 2012. Pemanfaatan mesin panen padi tersebut dilakukan secara optimal.

Dari pendapatan pemanfaatan harvester, UPJA Karya Bersama mampu membeli 1 unit truk pengangkut alsintan, peralatan bengkel, membangun gudang penyimpanan alsintan. UPJA juga mampu menambah inventaris alsintan lebih dari 25 unit yang terdiri dari alsintan pengolahan lahan, budidaya, panen dan pasca panen. Total aset UPJA Karya Bersama sampai dengan saat ini tercatat senilai Rp 1,9 Milyar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here