We Love Bali, Energi Besar Ditiupkan Melalui Track Mekepung Jembrana

0
15

JEMBRANA – We Love Bali memberikan energi besarnya. Kekuatan dan dinamisasinya bisa dirasakan melalui lintasan Tradisi Mekepung. Tradisi unik tersebut menjadi salah satu identitas Bali. Sebab, tradisi balap kerbau dengan cikar hanya ada di Pulau Dewata. Selain budaya kental, rasa kompetisinya bisa dinikmati di Sirkuit Desa Samblong, Jembrana, Bali.

Sirkuit Desa Samong menjadi destinasi yang wajib disinggahi saat berkunjung ke Pulau Dewata. Warna eksotisnya kini diekplorasi melalui program Familiarization Trip (Famtrip) Kemenparekraf/Baparekraf, 5-9 November 2020. Famtrip tersebut juga memastikan program CHSE (Cleanlinnes, Health, Safety, dan Environment Sustainability) diaplikasikan dengan baik di sana.

“Tradisi Mekepung ini hanya ada satu-satunya di Indonesia bahkan dunia. Tradisi ini pada hakikatnya adu balap kerbau. Balap kerbau dilakukan di sini dilakukan dengan cikar yang dinaiki joki. Pemenang ditentukan oleh kerbau yang paling cepat berlari,” ungkap Owner Kerbau Segara Urip I Gede Sudita, Senin (7/12).

Tradisi Mekepung baisanya digelar pada musim kemarau. Sebab, pada masa itu, warga masyarakat yang mayoritas menjadi petani tidak bertani. Awal kemunculan balap kerbau ini diilhami oleh adu cepat para petani yang membawa hasil bumi dengan cikar dan ditarik kerbau. Petani yang kalah adu cepat kerbau lalu memberikan sekantung hasil bumi yang dibawa sebagai mahar aduan.

Seiring waktu, dibangun Sirkuit Desa Samblong dengan panjang total 2 Km. Perlombaan Mekepung pun digelar rutin yang mempertemukan pemilik kerbau dari 2 kampung dengan pembatas sungai. Untuk warga sebelas barat sungai menggunakan tanda kerbau dengan bendera hijau, lalu di sisi timur ditandai bendera merah.

“Tradisi Mekepung memang sangat khas. Balap kerbau dengan spesifikasi seperti ini hanya ada di Bali. Jadi daya tarik utama destinasi Bali. Jangan takut datang ke sana, sebab CHSE sudah diterapkan masif. Wisatawan dijamin keamanan dan kesehatannya,” terang Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Putu Astawa.

Menawarkan keunikannya, wisatawan bisa menikmati atmosfer balapannya. Sebab, pada sirkuit ini juga sudah dibangun tribun penonton permanen. Mereka ini bisa menikmati kekuatan dan kecepatan kerbau yang beradu di lintasan. Mereka biasanya menempuh jarak 1 Km selama 1 menit 25 detik. Agar tampil prima, beragam treatment pun diberikan kepada sang kerbau.

Menjalani perawatan khusus, kerbau hanya diberi makan rumput kawat. Secara rutin, jamu diberikan dengan komposisi telur ayam kampung, minuman energi, dan gula merah. Gula merah diberikan agar nafas kerbau panjang. Jamu ini diberikan setiap minggu. Semakin dimanjakan, kerbau setiap hari selalu dimanjakan dengan mand air hangat.

“Tradisi Mekepung ini unik karena juga lekat dengan mistik. Ada ritual khusus yang dijalani sebelum berlomba. Tujuannya agar selamat. Terlepas dari itu, kemasannya sangat menarik karena kerbaunya dihias sedemikian rupa. Bila penasaran dengan Mekepung silahkan datang ke Desa Samblong,” terang Putu.

Selain atmosfer balapannya, kerbau dan cikar pada Tradisi Mekepung memang menjadi warna tersendiri. Kerbaunya dihias sedemikian rupa. Ada belosong yang dipsang di kepala, lalu rumbing yang dikenakan sebagai mahkota di kepala. Dada kerbau dihiasi badong dengan leher memakai gongseng yang berbunyi gemerincing saat berlari. Lalu, bagaimana dengan cikarnya?

Cikar dikemas warna warni. Ukurannya 100 x 90 Cm dan rodanya terbuat dari kayu yag dilapisi besi. Diameter rodanya sekitar 80 Cm. Kerbau dan cikar pun dihubungkan dengan bilah kayu Uge. Sebagai pengikatnya adalah sambat yang tebuat dari rotan. Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Rizki Handayani menjelaskan, Mekepung sebagai tradisi unik dan meriah.

“Jembrana dengan Desa Samblong sudah lama terkenal dengan Tradisi Mekepung. Tradisi ini memang berbeda dengan daerah lainnya karena menggunakan cikar. Otomatis lajunya lebih cepat dan maksimal. Tinggal bagaimana mereka menyiapkan kerbaunya saja,” jelas Rizki.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here