Balutan Sejarah Eks Pelabuhan Buleleng di We Love Bali Kemenparekraf

0
14

BULELENG / SINGARAJA – Bentang alam yang ciamik ditambah unsur sejarah sebuah tempat tentu akan menarik dieksplorasi. Dua instrumen itulah yang menjadi faktor wow dari wisata histori eks Pelabuhan Buleleng di Kota Singaraja.

Ya, setelah bermalam di Puri Bagus Lovina pada Minggu (06/12/2020), kampanye We Love Bali Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) serta Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) kembali menjelajah kawasan wisata di utara Bali keesokan harinya.

Senin (07/12/2020) pagi, para peserta We Love Bali memulai tur wisata di eks Pelabuhan Buleleng yang berada satu kawasan dengan Monumen Yudha Mandala serta Museum Soenda Ketjil. Berangkat dari penginapan, peserta disuguhi penjelajahan kota tua Singaraja di sepanjang perjalanan menuju lokasi sebelum tiba di tepi pantai.

Spot wisata kali ini berada di Singaraja yang merupakan sebuah kota di Kabupaten Buleleng yang terletak di ujung paling utara Pulau Bali. Menurut sejarah Bali, Kota Singaraja dahulunya pernah menjadi ibukota dari Nusa Tenggara dan juga menjadi pusat pelayaran. Hal ini disebabkan eks Pelabuhan Buleleng merupakan satu-satunya dermaga terbesar di Pulau Bali.
Meskipun pernah menjadi pelabuhan atau dermaga terbesar di Bali, kini eks Pelabuhan Buleleng tidak difungsikan lagi. Alasannya sangat relevan sekali yaitu karena pada tahun 1950 pusat pemerintahan Provinsi Bali pindah ke daerah Bali Selatan. Lama kelamaan dengan berjalannya waktu masa kejayaan eks Pelabuhan Buleleng mulai meredup dan sepi pengunjung.

Tempat ini juga saksi bisu akan sejarah perjuangan rakyat Bali disaat berjuang melawan sengitnya penjajahan bangsa Belanda. Di kawasan eks Pelabuhan Buleleng dibangun sebuah monumen dengan nama Yudha Mandala yang dimaksudkan untuk mengenang peristiwa tersebut.

Monumen Yudha Mandala berbentuk sebuah tugu yang berupa laskar rakyat dengan memegang bendera merah putih, bertelanjang dada yang mana tangannya menunjuk ke arah laut. Monumen ini mempunyai arti yakni ingin memberitahu teman-temannya bahwa ada kapal penjajah Belanda yang akan berlabuh.

Menurut Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, untuk saat ini eks Pelabuhan Buleleng dialih fungsikan sebagai salah satu objek wisata di Kota Singaraja, Bali.
Ditambahkan Rizki, karena itulah kampanye We Love Bali menyambangi kawasan eks Pelabuhan Buleleng. Tujuannya adalah membangkitkan kembali pariwisata di Indonesia, khususnya Bali, setelah masa pandemi Covid-19 berlalu ke masa New Normal (kebiasaan baru).

Nah selain Monumen Yudha Mandala dan Museum Soenda Ketjil, di kawasan wisata eks Pelabuhan Buleleng juga terdapat hamparan kayu-kayu bekas yang berumur tua di dermaga yang diubah menjadi restoran terapung. Di restoran yang berdesain unik ini Anda dapat menikmati indahnya panorama pantai yang berpadu dengan deburan ombak serta semilir angin yang berhembus lembut menerpa tubuh.
“Tapi tidak hanya itu, melalui We Love Bali, kita sekaligus memperkenalkan dan mengedukasi penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE yaitu cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment friendly (ramah lingkungan),” kata Rizki menjelaskan.

We Love Bali menjadi bukti komitmen besar Kemenparekraf/Baparekraf. Menaikan lagi branding-nya, eksplorasi masif digulirkan melalui ‘We Love Bali’. 10 Program Famtrip yang telah dilaksanakan selama selama 2 bulan terakhir kini memasuki penghujung dan dilaksanakan pada 6-8 Desember 2020.
Program We Love Bali jadi penegas implementasi CHSE (Cleanlinnes, Health, Safety, dan Environment Sustainability).

Kemasannya melalui Familiarization Trip (Famtrip) media nasional dengan zonasi 5 destinasi utama Pulau Dewata. Secara keseluruhan program ini telah melibatkan 409 pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif, 8.421 tenaga kerja serta 4.800 peserta dari masyarakat umum yang berasal dari Provinsi Bali. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here