Warna Tradisional Samosir Dibranding Melalui Sosialisasi CHSE Kemenparekraf/Baparekraf

0
15

SAMOSIR – Program Sosialisasi CHSE (Cleanlinnes, Health, Safety, Environment Sustainability) milik Kemenparekraf/Baparekraf sukses mengeksplorasi beragam sisi eksotis destinasi Samosir. Selain status zona hijau Covis-19, sosialisasi juga jadi galeri branding warna tradisional wilayah berjuluk Negeri Indah Kepingan Surga. Warna tersebut disajikan melalui Tari Penyambutan dan Tari Marlas Niroha.

Program Sosialisasi CHSE Destinasi Super Prioritas Danau Toba digulirkan Rabu (2/12). lokasinya berada di Warung Kopi Synergy, Pangururuan, Samosir, Sumatera Utara (Sumut). Jumlah pesertanya ada 100 orang. Backgroudnya terdiri dari pelaku usaha pariwisata, pelaku ekonomi kreatif, pemandu wisata, asosiasi usaha/profesi pariwisata, pengelola destinasi, Polsek, dan Babinsa.

“Kami lestarikan seni budaya tradisional Samosir. Melalui program sosialisasi CHSE ini, kami kenalkan lagi kekayaan budaya Samosir. Ada beberapa tarian yang disajikan oleh anak muda di Samosir. Sekarang semua keunikan Samosir bisa dinikmati wisatawan dengan dukungan CHSE,” kata Pengasuh Sanggar Angels El Kanean Samosir Marlita Simbolon.

Melestarikan seni budaya tradisional, wilayah Samosir memiliki sedikitnya 36 sanggar. Semakin menarik, sebanyak 12 sanggar diantaranya berada di Pangururan. Selain tari, sanggar tersebut mengembangkan konten kreatif tari, musik, vokal, hingga teater (opera Batak). Kepala Dinas Pariwisata Samosir Dumosch Pandiangan menjelaskan, atraksi destinasi Samosir sangat beragam.

“Destinasi Samosir memiliki beragam atraksi budaya. Semuanya dikembangkan oleh masyarakat lokal Samosir, terutama para milenialnya. Semua keunikan tersebut kini bisa dinikmati kembali di masa New Normal. Tidak usah ragu datang ke Samosir karena regulasi CHSE diberlakukan ketat di sana,” jelas Dumosch.

Menggunakan panggung sosialisasi CHSE, Samosir menawarkan eksotisnya Tari Penyambutan dan Tari Marlas Niroha. Dibawakan oleh 3 penari putri milenial, Tari Penyambutan jadi bentuk penghormatan bagi tamu penting. Wisatawan juga bisa merasakan experience tarian ini bila berkunjung ke Samosir. Ada juga Tari Marlas Niroha yang menjadi representasi kegembiraan.

“Samosir merupakan destinasi lengkap. Kini semakin sempurna dengan penerapan CHSE di sana. Ada jaminan keamanan dan kesehatan bagi wisatawan usai mengeksplorasi beragam keunikannya. Beragam tarian tradisional itu tentunya menghadirkan experience terbaik,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Hari Santosa Sungkari.

Inspirasi besar memang ditiupkan melalui suasana suka cita Tari Marlas Niroha. Menggambarkan energi positif masyarakat Samosir, tarian ini memiliki beberapa gerakan utama. Ada gerakan mangembas yang digambarkan dengan melompat. Gerakan lain maneser, yaitu menggeserkan kaki dengan posisi telapak tetap menyentuh tangan. Tarian ini juga memiliki gerakan simonang-monang sebagai ciri kemenangan.

Lebih lanjut, Tari Marlas Niroha memiliki gerakan khusus berupa somba. Gerakan somba tersebut jadi berupa melipat tangan didepan dada. Gambaran bentuk penghormatannya secara general. Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Oni Yulfian menerangkan, kekayaan budaya masyarakat Samosir sangat jelas digambarkan melalui tariannya. Selain gerakannya, busana yang dikenakannya khas.

“Tarian khas Samosir menyadari gambaran riil destinasi tersebut. Ada dinamisasi yang luar biasa dan energi pendorong untuk lekas bangkit di masa pandemi Covid-19. Kekayaan ini semakin ditegaskan dengan busananya yang unik dan sangat khas,” terang Oni.

Menjelajah lebih jauh, Samosir menawarkan kekayaan busana tradisionalnya dengan ulos sebagai piranti utamanya. Khusus untuk Tari Marlas Niroha disajikan Ulos Sadum dengan ciri khas warna merahnya. Selain kain, Ulos Sadum juga dominan sebagai selendangnya. Nuansa ulos ini juga tetap melekat dalam Baju Kurung penari yang berwarna hitam.

“Alam dan budaya menjadi paket wisata terbaik yang ditawarkan Samosir. Tarian dan busananya sama-sama menarik. Kini kemasannya semakin sempurna dengan penerapan program CHSE. Kualitas dan daya tawar Samosir tentu akan naik,” tegas Koordinator Area I Pengembangan Destinasi Regional I Wijonarko.

Semakin menarik, Ulos Sadum hanya boleh dikenakan oleh kaum wanita di sana. Sebab, itu sebagai simbol kekuatan wanita Samosir dalam mencari nafkah. Simbol kekuatan juga terlihat dari mahkota yang dikenakan penari. Mahkota ini diberi nama Sortali dengan dominasi merah dan warna emas yang jadi penegas kekuatan wanita Batak.

“Wisatawan akan mendapatkan pengetahuan baru bisa berkunjung ke Samosir. Mereka bisa menikmati sisi eksotis lain dari keindahan Danau Toba. Seni budaya di sana tetap terjaga dan akan lestari seiring dengan pulihnya industri pariwisata. Apalagi, CHSE sudah diterapkan,” papar Sub Koordinator Area I A Pengembangan Destinasi Regional I Andhy Marpaung.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here