RJIT Tingkatkan IP dan Produktivitas Padi di Bandung Barat

0
8

BANDUNG – Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) sesuai dengan kebutuhan petani. Sebagian besar dananya disalurkan melalui sistem swakelola petani. Salah satunya dilakukan di Desa Karangsari, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, program RJIT yang saat ini sedang gencar dilakukan oleh pemerintah sangat dirasakan oleh para petani. Efek yang langsung dirasakan petani adalah adanya penambahan indeks tanam yang tadinya hanya bisa sekali setahun, menjadi dua kali atau lebih.

“Dengan adanya program rehabilitasi jaringan irigasi, maka ada peningkatan pada indeks tanam petani. Jika sebelumnya hanya sekali setahun, menjadi dua kali,” kata Mentan SYL, Rabu (2/12).

Ditegaskan Mentan SYL, pekerjaan ini dilakukan secara swakelola agar tepat sasaran dan mampu menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya bagi warga desa setempat.

“Ini tentunya akan menambah sumber pendapatan bagi warga petani Kabupaten Bandung khususnya. Bahkan dapat menggerakkan perekonomian desa,” tuturnya.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy menjelaskan, program RJIT merupakan faktor penting dalam proses usaha tani yang memiliki dampak langsung terhadap peningkatan luas areal tanam.

“Kita telah merevisi alokasi RJIT tahun 2020 menjadi 135.861 hektare dari sebelumnya 135.600 hektare. RJIT ini dialokasikan di daerah melalui dana Tugas Pembantuan,” jelas Sarwo Edhy.

Dikatakannya, pengelolaan air irigasi dari hulu (upstream) sampai dengan hilir (downstream) memerlukan sarana dan prasarana irigasi yang memadai.

“Sarana dan prasarana tersebut dapat berupa bendungan, bendung, saluran primer, saluran sekunder, boks bagi, dan saluran tersier serta saluran tingkat usaha tani,” ujar Sarwo Edhy.

Program RJIT diutamakan pada lokasi yang telah dilakukan SID pada tahun sebelumnya. Diutamakan pada daerah irigasi yang saluran primer dan sekundernya dalam kondisi baik. Tujuannya untuk meningkatkan Indeks Pertanaman Padi sebesar 0,5.

Kegiatan RJIT ini diarahkan pada jaringan irigasi tersier yang mengalami kerusakan yang terhubung dengan jaringan utama (primer dan sekunder) yang kondisinya baik dan/atau sudah direhabilitasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, atau Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota Urusan Pengairan sesuai kewenangannya.

“Juga untuk yang memerlukan peningkatan fungsi jaringan irigasi untuk mengembalikan atau meningkatkan fungsi dan layanan irigasi. Serta untuk jaringan irigasi desa,” pungkasnya.

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Herawati menjelaskan, sebelumnya debit air tidak mengalir dengan normal akibat mengalami kebocoran. Kondisi saluran saat ini menjadi saluran permanen (dua sisi) menggunakan konstruksi cor.

“Luas layanan irigasi sebelum dilakukan rehab saluran seluas 30 Ha, kini luas layanan irigasi setelah dilakukan rehab saluran seluas menjadi 50 Ha,” kata Herawati.

Sedangkan produktivitas sebelumnya hanya 6,5 ton/ha, namun setelah saluran di rehab mengalami kenaikan menjadi 7 ton/ha. Sebelumnya intensitas pertanaman (IP) 200 atau 2 kali tanam dalam 1 tahun, setelah adanya perbaikan saluran, IP menjadi 2,5 dalam 1 tahun.

“Dampak lain dari rehabilitasi saluran ini adalah dapat dilakukannya percepatan pertanaman pasca saat MT ke II,” pungkas Herawati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here