Gerakan BISA Kemenparekraf Inisiasi Hutan Adat Wonosadi Gunung Kidul

0
57

Gerakan BISA Kemenparekraf Inisiasi Hutan Adat Wonosadi Gunung Kidul

GUNUNG KIDUL – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) lkembali menginisiasi Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman)

Inisiasi kali ini dilakukan di Hutan Adat Wonosadi, Desa Beji, Ngawen Kabupaten Gunung Kidul, 30-31 Agustus 2020

Saat ini, hampir semua destinasi wisata mulai dibuka. “Untuk memberikan jaminan keamanan wisatawan maka semua objek wisata didorong untuk menerapkan Gerakan BISA,” kata Direktur Kelembagaan Kemenparekraf Reza Fahlevi

Sementara itu, Hendry Noviardi, Plh Direktur  Kelembagaan Kemenparekraf, Protokol normal baru (new normal) akan menjadi acuan bagi para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dalam menjalankan usaha. Protokol ini diharapkan akan meningkatkan standar kebersihan, kesehatan, dan keamanan di sektor pariwisata, sekaligus peningkatan inovasi digital untuk memajukan sektor-sektor ekonomi kreatif Indonesia, agar dapat bangkit dan bersaing di pasar global.

“Khusus sektor pariwisata, penerapan protokol normal baru tersebut bertujuan agar wisatawan dapat tetap berkunjung dengan tenang dan nyaman, karena fasilitas pariwisata kini sudah semakin disempurnakan dengan standar bersih, sehat, aman yang terverifikasi,” ujarnya

Hendry menambahkan, untuk mendukung Gerakan BISA, Kemenparekraf memberikan bantuan stimulus. Mulai dari tempat mencuci tangan, cairan pembersih tangan, alat penyemprot beserta cairan disinfektan, serta peralatan lain untuk bersih-bersih.

Kepala Dispar Gunungkidul Asti Wijayanti mengapresiasi Gerakan BISA Kemenparekraf ini

“Jadi gerakan ini bertujuan mengatasi dampak COVID-19, Apresiasi kami, gerakan BISA ini dapat menggeliatkan lagi perekonomian masyarakat di bidang wisata. Selama 3 bulan aktivitas wisata tutup, sehingga kondisi destinasi jadi kurang terawat  Sebagai implementasinya, kegiatan bersih-bersih lingkungan di Hutan Adat ini selama dua hari,” jelas Asti.

Asti juga berharap  dan membuka pintu yang selebar lebarnya bagi Kemenparekraf untuk memberikan stimulus gerakan BISA di destinasi wisata lain di Kabupaten Gunung Kidul

“Sentuhan program BISA ini mampu menyiapkan destinasi wisata untuk menyambut wisatawan.Bisa dibilang perwujudannya lebih ke program Padat Karya. Kami buka pintu seluas luasnya untuk gerakan BISA di destinasi wisata lain di Kabupaten Gunung Kidul,” lanjutnya

Hutan Adat Wonosadi terletak di dua dusun yaitu Dusun Duren dan Sidorejo, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi ini berada sekitar 35 km kearah utara dari Kota Wonosari.  Potensi wisata yang ditawarkan di Desa Wisata ini adalah eksotisme Hutan dengan suasana yang masih alami. Lokasi hutan tersebut sangat dijaga dengan baik oleh masyarakat sekitar.

Selain Hutan Wonosadi sebagai potensi wisata, Desa ini juga memiliki daya tarik wisata lain yaitu Watu Gedhong, Kali Ndek, dan Sedang Karang Tengah yang merupakan wisata rohani. Kerajinan juga merupakan nilai tambah yang dimiliki oleh desa wisata ini. Masyarakatnya memiliki benda-benda kerajinan dari bambu. Berbagai kesenian dan acara kebudayaan juga sering dilakukan seperti upacara rasulan, sadranan, mboyong dewi Sri, midang, mitoni, ruwatan serta seni music rinding gumbeng.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here