Petani dan Penyuluh di Lombok Tengah Gerakkan SIMURP di Masa New Normal

0
86
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

LIPUTAN1.COM//LOMBOK TENGAH – Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan petani dan penyuluh di Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk beraktivitas. Di masa new normal, petani dan penyuluh tetap semangat mengikuti SIMURP.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo petani dan penyuluh memang harus memastikan pertanian tidak berhenti. Apalagi Indonesia menghadapi ancaman kemarau panjang yang bisa menyebabkan kekeringan.

“Pertanian harus tetap produktif untuk menghasilkan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia. Untuk itu, para penyuluh harus menemani petani melakukan percepatan tanam. Agar kebutuhan pangan tetap terpenuhi,” kata Mentan SYL, Jumat (03/07/2020).

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDMP Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi, mengatakan petani dan penyuluh harus bisa menerapkan dan mengembangkan Pertanian Cerdas Iklim (Climate Smart Agriculture – CSA) melalui proyek SIMURP.

“CSA dilakukan sebagai antisipasi dampak perubahan iklim global. Apalagi Indonesia diperkirakan akan mengalami musim kemarau panjang. Untuk itu, para penyuluh dan petani harus segera melakukan percepatan tanam agar di sisa musim hujan ini petani masih bias panen, untuk menjaga ketersediaan dan ketahanan pangan terutama di masa pandemi Covid-19,” tuturnya.

Dedi menambahkan, penerapan CSA akan memberikan keuntungan kepada petani. Antara lain dapat meningkatkan produktivitas tanaman terutama padi, CSA ramah lingkungan karena mengurangi emisi gas rumah kaca dengan penerapan teknologi Intermitten, pengurangan pencemaran kimia dengan mengurangi pemakaian pestisida, pupuk dan bahan kimia lainnya.

Di Kecamatan Jongat, Kabupaten Lombok Tengah, yang menjadi lokasi kegiatan Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) tahun 2020, petani diajarkan bagaimana melakukan budidaya hemat air. Juga menggunakan benih unggul yang adaptif pada dampak perubahan iklim, serta menerapkan sistim jarwo, melakukan budidaya tanaman padi yang rendah emisi gas rumah kaca (CH4, N2O dan CO2), menerapkan kalender tanam (Katam) yang dikenal dengan CSA.

Kepala Balai Pelatihan dan Penyuluhan Pertanian Provinsi NTB, Hendro, menyampaikan bahwa kegiatan SIMURP di Lombok Tengah sudah harus mulai bergerak kembali di era New Normal.

“Kegiatan akan dimulai dengan melaksanakan TOT yang akan diikuti sebanyak 28 orang penyuluh pendamping pada minggu IV bulan Juli dan kegiatan TOF pada minggu IV Agustus untuk 144 orang petani. Sedangkan CPCL telah selesai dilaksanakan,” tutur Hendro.

Ada 6 Kecamatan yang termasuk dalam proyek SIMURP tahun 2020 di Kabupaten Lombok Tengah. Salah satunya adalah Kecamatan Jongat.

Menurut Kepala BPP Kecamatan Jongat, Hasanuddin, luas lahan sawah 4.900 Ha, dan telah ditanam padi seluas 4.753 Ha, dengan umur berkisar 1 – 2 bulan. Kegiatan SIMURP di kecamatan Jongat melibatkan 4 Kelompok tani dengan 80 orang anggotanya. Lokasi SIMURP ini dilewati oleh Irigasi Jurang sate.

Ditambahkan oleh Hasanuddin, selain bertanam padi, petani di Jongat juga bercocok tanam komoditas hortikultura, terutama cabe rawit. Pada saat ini bercocok tanam cabe termasuk menguntungkan karena ditingkat petani saja, harga cabe rawit berkisar antara Rp 27.000 – Rp 35.000/Kg.

Produksi juga cukup bagus, salah satu petani binaannya menghasilkan sekitar 200 Kg cabe rawit pada lahan seluas 10 are pada panen perdananya. (EDZ/NF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here