Usai Panen, Petani Purbalingga Langsung Tanam

0
158

LIPUTAN1.COM//PURBALINGGA – Untuk menjamin ketersediaan pangan di masa pandemi Covid-19, para petani di Purbalingga melakukan pengolahan lahan dan percepatan tanam. Langkah ini juga sebagai antisipasi terjadinya krisis pangan akibat kekeringan. Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga juga mengajak seluruh insan pertanian, baik petani, penyuluh, juga memanfaatkan alat mesin pertanian untuk melakukan percepatan tanam.

Musim panen padi di Kabupaten Purbalingga telah berlangsung pada bulan April dan Mei. Saat ini sebagian wilayah Kabupaten Purbalingga tengah memasuki musim tanam padi. Tidak terlalu lama setelah panen, petani dan penyuluh saling bahu-membahu untuk segera mengolah tanah dan menyemai benih.

Hal ini sesuai dengan instruksi Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (YSL).

“Meski dalam pandemi Covid-19, aktivitas pertanian tidak boleh berhenti. Petani harus terus turun ke lapangan dengan didampingi para penyuluh pertanian. Namun para petani wajib memperhatikan protokol pencegahan Covid-19. Agar produktivitas pertanian tetap terjaga bahkan ditingkatkan lagi,” tutur Mentan SYL.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi. Ia berharap petani melakukan percepatan tanam.

“Petani, penyuluh, dan insan pertanian harus tanam, tanam, tanam. Banyak lahan yang bisa dimanfaatkan. Ada lahan kering, lahan rawa, bahkan lahan pekarangan. Intinya, kita tidak boleh berhenti menanam. Karena kebutuhan pangan masyarakat Indonesia harus terus dipenuhi dalam kondisi seperti ini,” katanya.

Sedangkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga, Mukodam, menginstruksikan kepada seluruh jajarannya, khususnya penyuluh, untuk terus mendampingi petani dalam menjalankan usaha taninya. Agar, ketahanan pangan tetap terjaga, tentunya dengan tetap memperhatikan dan menerapkan protokol kesehatan.

Di Kabupaten Purbalingga, Kecamatan Bukateja adalah salah satu kecamatan penopang pangan. Luas baku sawahnya mencapai 2380,1 hektar yang tersebar di 14 desa. Komoditas utamanya adalah padi dan sebagian hortikultura (sayur dan buah).

Kecamatan Bukateja sendiri menjadi lokasi projek SIMURP (Strategic Irrigation Modernization Urgent Rehabilitation) yang menerapkan sistem pertanian cerdas iklim (CSA). Sistem ini berprinsip meningkatkan produktivitas pertanian melalui optimalisasi komponen-komponen penentunya.

Pemanfaatan air permukaan, pengendalian hama terpadu, penggunaan pupuk berimbang dan penggunaan alat mesin pertanian adalah beberapa komponen yang harus dioptimalkan termasuk juga komponen sumber daya manusia (petani dan penyuluh). (SWR/EZ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here