Tingkatkan Produktivitas, Petani Harus Kelola Usaha Tani dengan Alsintan

0
22

JAKARTA – Kebutuhan sektor pangan dalam beberapa waktu ke depan diprediksi akan meningkat. Sebab, khususnya dalam kondisi pandemi Covid-19 ini negara harus semakin kuat menjaga ketersediaan pangan dari dalam negeri. Indonesia pun dituntut berdiri dengan kakinya sendiri. Untuk itu, petani harus meningkatkan produktivitas. Mereka pun bisa memaksimalkan alat mesin pertanian untuk mendukung aktivitasnya.

Menurut Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Sarwo Edhy, di masa depan sektor pertanian memang akan terbantu dengan hadirnya petani milenial yang tidak hanya menghidupkan pertanian tetapi juga mengembangkan usaha tani.

Namun, hal tersebut harus diimbangi dengan meningkatnya kemampuan akses terhadap teknologi, termasuk teknologi yang kian berkembang di bidang pertanian. Para petani milenial ini diharapkan dapat mengelola usaha tani dengan penggunaan alsintan. Sehingga, efesiensi dan produktivitas kerjanya tinggi dan dapat menghasilkan pendapatan yang tinggi.

“Pemerintah melalui Kementan mengeluarkan kebijakannya dalam percepatan mekanisasi pertanian ini, salah satunya dengan memfasilitasi bantuan alsintan bagi Poktan, Gapoktan dan Dinas Pertanian untuk percepatan transfer teknologi menuju pertanian modern,” terang Sarwo Edhy, Jumat (22/05/2020).

Pemanfaatan Alsintan ini diarahkan untuk penerapan teknologi tanam dan panen serempak yang lebih efesien. Agar semakin bermanfaat dan memberikan nilai tambah, Pengelolaan Alsintan dilakukan melalui brigade, atau UPJA yang dikelola secara bisnis.

Mekanisasi pertanian untuk menurunkan biaya produksi, penurunan susut hasil pasca panen, efesiensi tenaga kerja dan waktu.

“Panen padi yang sebelumnya dilakukan secara manual, memakan waktu sekitar 252 jam/hektare. Sedangkan jika menggunakan Combine Harvester hanya sekitar 3,5 jam/hektare, atau kita sudah dapat mengefesiensikan waktu kerja sebesar 98.6%,” terang Sarwo Edhy lagi.

Efisiensi juga terjadi dalam biaya kerja. Jika dilakukan secara manual, biaya kerja dalam pengolahan tanah biasanya sekitar Rp 2 juta/hektare. Namun dengan alsintan terjadi efisiensi biaya mencapai 40%, atau rata-rata biaya kerja sebesar 1,2 juta/ha.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, swasembada pangan, modernisasi pertanian, perubahan iklim global, isu efesiensi penggunaan input energi serta tuntunan good agricultural practices, kedepan menjadi salah satu faktor penggunaan alat mesin pertanian dalam usaha tani.

“Sektor pertanian merupakan sektor utama dalam menjamin keberlangsungan ketahanan pangan di Indonesia. Luas lahan pertanian sub-optimal yang sangat potensial untuk dikembangkan memerlukan input teknologi yang tepat. Teknologi pertanian ini bukan hanya membantu petani, tetapi juga memudahkan mereka dalam bekerja,” papar Menteri SYL.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here