Manfaatkan LFH, Petani Milenial Dapat Peluang Bisnis Budidaya Jamur Tiram

0
17

BOGOR – Pandemi Covid-19 yang sedang melanda saat ini tidak menghalangi para siswa untuk tetap menerima pembelajaran. Meskipun dengan metode jarak jauh learning from home (LFH), mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor tetap antusias ikuti pembelajaran budidaya jamur tiram. Bahkan mendapat peluang bisnis dari Budidaya Jamur Tiram yang dipelajarinya.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan beberapa waktu lalu, Pendidikan vokasi saat ini telah dituntun dengan era yang baru. “Saat ini pendidikan vokasi menjadi jawaban karena sekarang tidak hanya mengajarkan keterampilan dalam pendekatan intelektual tetapi juga sekaligus menyatukan sistem intelektual dengan manajemen orientasi seperti lapangan, dan praktis”, tegas Mentan SYL.

Iyang Jaelani, petani milenial dari Jurusan Pertanian Prodi Agribisnis Hortikultura Polbangtan Bogor harus meninggalkan asrama dan pulang ke rumahnya di Sukabumi untuk mengikuti anjuran Pemerintah dalam menekan penyebaran covid-19. Namun dirinya tetap melakukan pendampingan kepada petani, kelompok tani atau pelaku usaha di bidang pertanian sebagai bentuk kegiatan pembelajaran.

Hikmah yang didapat kini ia memiliki lebih banyak waktu untuk mengaplikasikan ilmu dari proses perkuliahan dan belajar menjadi petani pengusaha.

Menurut Iyang, kegiatan pendampingan petani merupakan sarana untuk mengimplementasikan kegiatan pembelajaran yang telah dilalui, sehingga ilmu yang didapatkan bisa bermanfaat untuk semua orang.

“Selain mempelajari strategi di lapangan, saya juga bisa lebih mengenal potensi wilayah sehingga kedepan mampu memperbaiki tatanan ekonomi masyarakat, terlebih saya hidup di pedesaan yang secara umum bermata pencaharian sebagai petani,” jelasnya.

Iyang melakukan pendampingan di PT. Mitra Selaras Cipta Pangan yang bergerak di bidang agribisnis jamur tiram, berdiri sejak tahun 2017 dan berlokasi di Kampung Cipeujeuh Desa Sukajaya Kabupaten Sukabumi. Pendirinya adalah Surya Lesmana yang juga sebagai ketua Asosiasi Petani Jamur Tiram Sukabumi.

Surya menuturkan perlunya saling bersinergi dalam menggenjot produksi pertanian, terutama menghadapi pandemi covid-19.

“Dalam kondisi pandemi Covid-19 ini sektor pangan tidak boleh berhenti harus tetap berproduksi seperti biasanya. Dan jangan pernah bosan manfaatkan peluang bisnis khususnya pada komoditas jamur tiram, namun ini bisa diatasi dengan sinergi dan kerjasama yang baik”, tutur Surya.

Menurutnya, dampak pandemi ini sangat berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat terlebih terhadap daya beli masyarakat yang kian hari semakin berkurang. Namun tidak dengan jamur tiram. Surya berpendapat, komoditas jamur tiram pada masa pandemi Covid-19 ini permintaannya semakin meningkat terlebih saat petani lain mengurangi produksinya justru dirinya tetap berproduksi seperti biasanya.

“Setiap hari saya memanen jamur sebanyak 2.100 baglog dengan berat kurang lebih sampai 500 kg yang dipasarkan ke daerah Bogor dan Jakarta. Kita harus merenungi hikmah dibalik masalah ini. Bagi seorang pengusaha, keputusan yang diambil menentukan kondisi perusahaan kedepannya”, tutur Surya.

Selama pendampingan, Iyang juga mendapat bimbingan dari seorang Penyuluh senior di BPP Sukabumi, Siti Nurhanifah. Wanita yang akrab dipanggil Ifah ini lah yang mengantarkannya ke PT. Mitra Selaras Cipta Pangan.

Sebagai penyuluh, Ifah mengatakan komoditas jamur tiram merupakan salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan oleh BPP Sukabumi. “Kedepan kita akan mengembangkan komoditas jamur ini menjadi lebih komersil yang akan bekerjasama dengan KWT binaannya. Rencananya kami akan mengolah jamur tiram menjadi aneka makanan, salah satunya adalah lapis jamur khas Sukabumi sehingga mampu memperlebar pemasaran jamur tiram dan meningkatkan nilai ekonominya,” ucapnya.

Dari pendampingan ini Iyang banyak belajar terkait agribinis jamur tiram. Kedepan ia ingin menjadi pengusaha di bidang pertanian khususnya komoditas jamur tiram.

Komoditas jamur tiram memiliki prospek yang luar biasa selain pasarnya luas juga pengembangan produknya sangat beranekaragam. Selain itu agribisnis jamur tiram merupakan agribisnis berkelanjutan dan ramah lingkungan, terbukti bahwa semua limbahnya mampu di daur ulang dan di manfaatkan kembali.

Limbah dari bekas media tanam jamur mampu dimanfaatkan untuk budidaya cacing, sisa ampasnya bisa dijadikan sebagai pupuk dan bahan baku pembangkit listrik tenaga pelet kayu (wood pellet) sehingga sangat potensial untuk dikembangkan.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi juga menuturkan
pembangunan SDM menjadi salah satu program prioritas Kementan. Hal ini sejalan dengan visi misi Presiden dan inilah yang membuat kita terus berupaya menghadirkan petani milenial.

“Kementan fokus mempercepat regenerasi petani ini, salah satunya melalui pendidikan vokasi. Dari pendidikan vokasi ini akan mendorong lahirnya petani milenial yang entrepreneurship,” ujar Dedi.

Dedi juga menambahkan dengan metode pembelajaran jarak jauh, mahasiwa tetap bisa belajar dan mengikuti protokol physical distancing.

“Dengan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh, pendidikan tetap bisa berjalan meskipun kita sedang mengalami pandemi Covid-19. Justru ada hikmah yang bisa kita ambil bahwa arah pendidikan memang harus menuju sistem edukasi 4.0,” ujar Dedi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here