Optimalisasi Alsintan Untuk Menjadikan Mewujudkan Pertanian Maju, Mandiri, Dan Modern

0
19

JAKARTA – Program optimalisasi alat mesin pertanian (Alsintan) yang terus digenjot Kementerian Pertanian (Kementan) terbukti berhasil meningkatkan level atau tingkat mekanisasi pertanian Indonesia. Bahkan pada tahun 2018, level mekanisasi pertanian Indonesia meningkat 236% menjadi 1,68 HP/ha.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, berbagai langkah ditempuh Kementan untuk mewujudkan pertanian maju, mandiri, dan modern. Salah satunya langkah yang dilakukan adalah dengan penerapan mekanisasi pertanian.

“Saya merespon positif terhadap optimalisasi Alsintan sebagai langkah dalam mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern,” ujar Mentan SYL, Rabu (20/5). Melalui penggunaan teknologi diharapkan mampu meningkatkan produksi padi pada tahun-tahun mendatang.

“Dengan teknologi, saya berharap tidak mendengar adanya penurunan produksi. Gunakanlah alat canggih yang ada supaya kita bisa ekspor. Kita harus serius dalam mengurus pertanian ini,” tutur Mentan SYL.

Sementara, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy menjelaskan, kenaikan level mekanisasi pertanian Indonesia itu dapat dicapai Indonesia dengan adanya bantuan Alsintan yang disalurkan untuk kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) sejak akhir tahun 2014. Sampai tahun 2019 telah disalurkan 474.576 unit alsintan ke seluruh wilayah Indonesia.

Jenis-jenis alsintan yang diberikan pemerintah antara lain traktor roda dua, traktor roda empat, pompa air, rice transplanter, chopper, cultivator, excavator, hand sprayer, alat tanam jagung, backhoe loader, rotatanam, grain seeder dan traktor roda empat multiguna.

“Yang biasa panen sekali, kini bisa menjadi dua kali. Yang biasanya dua kali, sekarang menjadi tiga kali dengan memanfaatkan Alsintan,” katanya.

Pengertian level mekanisasi pertanian adalah penggunaan daya alsintan terhadap luas areal yang dikelola dengan Alsintan. Menurutnya, Alsintan ini berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan petani. Selain itu, tingkat produksi tanaman pangan Indonesia juga terus meningkat.

“Bantuan Alsintan mampu menekan biaya operasional 35% hingga 48% dalam produksi pertanian. Dulu, tanpa adanya mekanisasi ini, petani bisa membajak sawahnya satu hektare berhari-hari. Tapi sekarang ini cukup dua hingga tiga jam saja,” katanya.

Dia menjelaskan, penerapan mekanisasi modern juga dapat menyusutkan kehilangan hasil panen (losses) sebesar 10%. Tidak hanya itu, juga meningkatkan nilai tambah dan penanaman padi yang dulunya hanya satu kali setahun kini bisa tiga kali karena proses pengolahan dan panen yang cepat.

“Dengan demikian, produksi yang dicapai petani lebih tinggi. Pendapatan petani pun ikut naik,” tegasnya.

Penggunaan Alsintan, lanjutnya, juga mendorong generasi muda terjun ke sektor pertanian. Sebab, mekanisasi pertanian telah mengubah pandangan masyarakat mengenai bertani.

“Dulu petani miskin dan kumuh. Sekarang sejahtera. Lihat saja, dengan alat yang modern, petani bisa melakukan olah tanah, tanam, panen sambil telepon dengan pakaian yang rapih. Ini mengubah mindset,” ungkapnya.

Sarwo Edhy juga mengatakan, Alsintan bantuan Kementan tak hanya dioptimalkan penggunaanya ke Poktan, Gapoktan , tetapi bisa dikelola secara khusus oleh UPJA, atau KUB supaya berkesinambungan.

“Alsintan yang dikelola oleh UPJA atau KUB tersebut, hasil sewanya bisa digunakan untuk beli spare part dan biaya perawatan. Bahkan, kalau hasil sewanya banyak, pengelola bisa beli Alsintan lagi untuk mengembangkan usahanya,” katanya.

Menurut Sarwo Edhy, apabila Alsintan tersebut bisa dikelola dengan baik, maka akan mendorong dan mempercepat terwujudnya pertanian modern. Pasalnya, petani yang memanfaatkan Alsintan akan optimal dan effisen dalam melakukan pengolahan lahan , tanam dan panen.

“Petani yang sudah memanfaatkan Alsintan, produksi pertanamannya pun meningkat. Dari sebelumnya hanya 2 kali/tahun, setelah menggunakan Alsintan bisa tanam 3 kali/tahun. Sehingga IP (indeks pertanaman) pun meningkat,” jelasnya.

Untuk mempermudah dalam pengelolaan dan penggunaan Alsintan sampai ke tingkat petani, pemerintah bersama penyedia jasa Alsintan juga terus melakukan pelatihan langsung cara mengoperasikan Alsintan di sejumlah Poktan dan Gapoktan.

“Ada juga pelatihan cara merakit Alsintan untuk para operator dan ada juga pelatihan tata cara pengoperasian dan perawatan Alsintan,” pungkas Sarwo Edhy.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here