Perkuat Destinasi Wisata Berkelas Dunia, Maluku Selenggarakan Seminar Nasional Pariwisata

0
110

AMBON – Dengan kekayaan alam dan budaya, Maluku dinilai layak menjadi destinasi kelas dunia. Untuk mewujudkannya, Forum Kajian Pemuda Lintas Daerah (Forkapelinda) menggelar Seminar Nasional Strategi dan Kolaborasi dalam Mewujudkan Pariwisata Maluku Berkelas Dunia, di Hotel Manise, Ambon, Sabtu, 15 Februari 2020.

Seminar diikuti lebih dari 200 peserta, terdiri dari kalangan mahasiswa, LSM, Oraganisasi Pemuda dan OPD terkait. Tampil sebagai narasumber, Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf/Baparekraf Wawan Gunawan, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Marcus J. Pattinama, dan Anggota DPD RI Dapil Maluku Hj. Anna Latuconsina.

Kegiatan ini juga dihadiri Bupati Kabupaten Buru Ramli Ibrahim Umasugi, Wakil Bupati Maluku Tenggara Petrus Beruatwarin, Kepala Bappeda Provinsi Maluku Jalaludin Salampesy, Ketua PHRl Provinsi Maluku, Akademisi dari Universitas Pattimura, serta Kabid Destinasi Area IV (Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat) Direktorat Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf/Baparekraf.

Keynote speech oleh Gubernur Maluku yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Marcus J. Pattinama.

Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf/Baparekraf Wawan Gunawan menilai kegiatan ini sangat positif. Karena memperlihatkan kepedulian seluruh stakeholder agar pariwisata Maluku dapat membawa hal positif kepada masyarakat.

Terlebih, Seminar Nasional diselenggarakan untuk membentuk kolaborasi antara pusat dan daerah demi mengembangkan pariwisata Maluku.

“Ini kegiatan yang bagus. Karena, setiap pihak bersinergi untuk membangun pariwisata. Hal ini bisa mewujudkan pariwisata sebagai sarana meningkatkan ekonomi. Orang datang ke suatu daerah karena ada hal yang menarik, dalam pariwisata, segala aspek bisa dijadikan atraksi. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana pengembangan 3A nya, yaitu Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas,” tuturnya.

Untuk Atraksi, Wawan menilai potensi pariwisata di Maluku tidak perlu diragukan. Begitu juga dengan Amenitas yang sudah baik. Sebab, Maluku punya banyak hotel atau resort berbintang.

Sedangkan untuk Aksesibilitas, sarana dibangun untuk menunjang atraksi pariwisata, untuk memudahkan wisatawan untuk menjangkau lokasi tersebut. Kemenparekraf/Baparekraf dan Dinas Pariwisata dapat berkoordinasi dengan KemenPUPR atau Kemenhub.

“Yang harus diingat, majunya pariwisata daerah juga ditentukan oleh CEO Commitment. Presiden sudah menetapkan pariwisata sebagai leading sektor, tinggal daerah menjemput bola. Diperlukan sinergitas pentahelix, seluruh unsur bergerak untuk memajukan pariwisata demi meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Pada dasarnya, seni, budaya, dan pariwisata, semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan masyarakat, tinggal bagaimana pemerintah bersama masyarakat menjemput bola,” kata Wawan.

Ditambahkannya, pada era saat ini, penerapan pariwisata berbasis digital sangat penting, karena wisatawan sudah melek teknologi. Digitalisasi memberikan kemudahan bagi wisatawan yang akan mengunjungi suatu destinasi. Selain itu, wisatawan dapat mencari tahu dengan sangat mudah segala keperluan yang dibutuhkan saat berwisata, mulai dari tiket hingga kendaraan, bahkan mencari lounge/pelayanan bandara.

“Penggerakan ekonomi kreatif sekarang menjadi core pengembangan pariwisata, terutama untuk pemberdayaan masyarakat. Karena, melalui pengembangan ekonomi kreatif, masyarakat diharapkan merasakan dampak langsung dari pariwisata. Ekonomi kreatif memiliki 16 subsektor, diantaranya melalui potensi kuliner, fashion, seni pertunjukan, kriya, film, musik dsb. Di Maluku untuk mengembangkan ekonomi kreatif bisa dilakukan dari berbagai sektor, karena potensi kuliner, seni pertunjukan sangat potensial untuk dikembangkan,” kata Wawan.

Apalagi, Banda pernah dijadikan Film Dokumenter dan Ambon dinobatkan sebagai Kota Musik Dunia oleh Unesco. Ini menjadi nilai tambah untuk pengembangan pariwisata Maluku.

Sementara Anggota DPD RI Hj. Anna Latuconsina, mengatakan Maluku merupakan wilayah kepulauan. Sehingga tata ruang di Provinsi Maluku sangat diperlukan juga perlu satu konsep keterpaduan antar pulau di Maluku dan antar Provinsi/Kabupaten terdekat dari Maluku; mulai dari fisik hingga SDM yang mumpuni.

“Namun banyak daerah yg berpotensi sebagai objek wisata tetapi minim infrastruktur, seperti Daerah di Kabupaten Seram Timur seperti di Manawoka. Potensinya luar biasa, dan thn 1988 pernah didatangi oleh Mick Jagger musisi terkenal dunia . Maluku juga bisa membuat paket wisata sejarah yg menceriterakan tentang jalur rempah , dan juga banyak benteng2 zaman kolonial yg bisa di tata sebagai penunjang wisata sejarah tsb. karena memang potensi Maluku sangat besar untuk hal itu, karena indonesia dijajah karena rempah2 yg ada di Maluku katanya.

Hj. Anna Latuconsina juga membahas potensi beberapa kabupaten
di Maluku. Seperti Maluku Tengah di Banda Neira yang menurutnya mungkin perlu subsidi dan campur tangan dari Pemerintah Pusat, terutama bidang perhubungan, setelah penerbangan perintis di-stop. Mengingat Banda Naeira sudah ditetapkan tahun 2020 oleh Gubernur Maluku, Murad Ismail sebagai Destinasi Unggulan Maluku, dan bisa diusulkan menjadi destinasi prioritas nasional seperti destinasi Bali baru.

“Wisata bahari sangat potensial dikembangkan, dunia bawah laut Maluku memiliki keindahan luar biasa. Bahkan turis asing banyak datang untuk diving di Maluku. Utk group fishing dr luar negeri memerlukan informasi ttg musim ikan dg area area nya agar diberikan agenda terkait musim ikan untuk wisatawan yang punya hobby fishing . Seram Barat potensi ikannya juga sangat besar dan pulau2 nya juga menarik , begitu juga Kepulauan Kei dan Kepulauan Tanimbar. Lalu, apakah bisa di bangun di Saumlaki utk marina bertaraf internasional untuk Yacht dari Darwin, Australia, bisa bersandar di sana? Permasalahan lainnya adalah Belum ada sekolah tinggi pariwisata di Maluku,” tuturnya.

Kadispar Provinsi Maluku Marcus J. Pattinama mengatakan, salah satu hal yang penting dalam pariwisata adalah hospitality.

“Kemampuan berkomunikasi harus baik. Selain itu, kita juga bisa mengembangkan agrowisata di pesantren, termasuk wisata religi juga dapat dikembangkan disini. Beberapa hal lain yang harus kita lakukan adala penataan toilet bagi homestay, juga penataan pantai, agar tertib terutama UMKM disepanjang pantai,” ujarnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here