Kekayaan Tenun Sumbawa Turut Mewarnai Festival Pesona Moyo 2019

0
20

SUMBAWA – Beragam tenun khas Sumbawa diangkat dalam Festival Pesona Moyo 2019. Konsepnya melalui Fashion Show hingga Pameran Kain Kuno. Ada beragam koleksi yang ditampilkan. Menjadi representasi kekayaan Bumi Sabalong Samalewa, julukan Pulau Sumbawa.

Sama seperti wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) lainnya, Sumbawa juga memiliki kekayaan tenunnya sendiri. Nilai dan corak eksotis itu akan didisplay melalui Pemilihan Puteri Intan Bulaeng 2019, Kamis (19/9) mulai pukul 19.30 WITA. Lokasinya ada di Lapangan Pahlawan, Sumbawa Besar, Sumbawa. Tenun tersebut dikenakan 24 peserta. Mereka menggunakan karya desainer lokal. Di fase 6 dan 3 besar akan mengenakan busana karya dari desainer Samuel Wattimena.

“Sumbawa dan NTB kaya dengan tenun. Motifnya sangat beragam dan ditampilkan menawan. Hal ini tentu menjadi kekayaan dan potensi besar bagi pariwisata di sana. Menampilkan tenun ini pada Festival Pesona Moyo 2019 tentu sangat bagus. Sebab, kekayaan tersebut menjadi dekat dengan publik,” ungkap Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang kebudayaan Taufik Rahzen.

Beragam karya Samuel Wattimena sudah ditampilkan dalam beberapa event. Ada Festival Bau Nyale 2019 di Lombok Tengah, hingga Fashion Show Tenun Khas Bima dalam Festival Tambora 2019.

“Kembali menampilkan karya Desainer Samuel Wattimena menjadi komitmen Kemenpar untuk melestarikan tenun. Sebab, Sumbawa dan NTB memiliki identitas berupa tenun,” ujar Taufik lagi.

Masyarakat Samawa sudah menenun selama ratusan tahun silam. Sebab, Penulis Belanda H Zolinger ini pada tahun 1847 sudah menyinggung tenun Sumbawa. Masyarakat Samawa menenun dengan teknik Palekat dan Songket. Bahan dasarnya katun hingga sutera, lalu benang yang digunakan perak dan emas. Ada beragam motif yang dihasilkan seperti, Kre Alang (Kre: Kain, Alang: Rumah Panggung Bertingkat).

Kre Alang ditegaskan melalui corak padat dalam ornamennya. Biasanya tersusun atas 4 hingga 5 motif dalam setiap lembarnya. Bentuknya berupa Belah Ketupat, Sulur Daun/Bunga, Garis Simetris, Burung Merak, Perahu, Pohon Hayat, Zig Zag, dan Figur Ayam Jantan. Ada juga motif Cepa (Bunga Bersudut 8). Cepa menjadi gambaran sifat pemimpin dalam konsep Astabrata.

Lebih lanjut, motifnya dikembangkan dari Kemang Setange, Lonto Engal, Pusuk Rebong, Gelampok, Pio, Ular Naga, juga Slimpat. Sedikit gambaran, Lonto Engal ini identik dengan tanaman merambat dengan buah terpendam di tanah. Pesannya, gambaran karakter pekerja keras. Menghindari sanjungan dan aksi formalitas. Intinya, karakter Lonto Engal lebih suka bekerja daripada berbicara.

“Tenun Sumbawa memiliki banyak motif. Setiap motifnya pun memiliki banyak turunan. Dari Festival Pesona Moyo 2019 ini, kami menghimbau kepada elemen masyarakat untuk turut serta melestarian kekayaan tenun Sumbawa,” kata Taufik.

Bumi Sabalong Samalewa juga memiliki tenun Kre Polak Desa. Polak diartikan sebagian, lalu Desa bisa merujuk wilayah desa. Uniknya, bahan bakunya dikumpulkan dari masyarakat. Selesai ditenun, kain itu tidak dijual, melainkan menjadi media media pengobatan tradisional bagi anak-anak.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani menerangkan, tenun Sumba sarat filosofi.

“Tenun Sumbawa bukan hanya eksotis, tapi memiliki nilai filosofi yang tinggi. Itu jadi kekayaan luar biasa. Karya-karya tersebut tentu memberikan inspirasi yang luar biasa. Silahkan bergabung di Festival Pesona Moyo, mari eksplorasi keunikan dan keindahan tenun Sumbawa dan NTB secara menyeluruh,” terang Rizki.

Menjadi isnpirasi, motif tenun Sumbawa memiliki hubungan timbal bali dan harmoni manusia dengan alam. Alam sebagai penyusun pola agraris dan lingkungan. Ada juga representasi bentuk kekerabatan dalam kehidupan komunal masyarakat Sumbawa.

“Tenun menjadi gambaran dari masyarakat Sumbawa secara menyeluruh. Pola kemasyarakatannya terlihat jelas di situ,” papar Rizki.

Menegaskan kekayaan, tenun bumi Sabalong Samalewa juga didisplay UPT Museum Daerah Kabupaten Sumbawa. Lokasinya di jalan Hasanuddin Nomor 1, Sumbawa Besar. Sedikitnya ada 20 kain kuno juga kendaga yang dipamerkan, 14-23 September. Rata-rata artefak tersebut sudah berumur ratusan tahun. Respon publik terhadap pameran ini besar, sebab pengunjung mencapai 700 pada hari pertama.

“Tenun Sumbawa semakin memperkaya koleksi nusantara. Motif dan karakernya memang sangat khas. Kekayaan ini pun selalu ditawarkan kepada publik dunia untuk dieksplorasi. Bila ingin mendapatkan pencerahan terkait tenun Sumbawa, bisa datang ke Museum. Mumpung ada pameran,” kata Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani.

Menampilkan tenun leluhur secara riil, ada beberapa motif utama yang bisa digali. Sebut saja, Pabasa Alang yang notabene selendang khas pria Sumbawa. Ada juga Sapu Alang yang menjadi busana pria, lalu selendang wanita Symbawa dalam Sarangan Cila. Untuk songket bagi pria Sumbawa ada Kre Alang Salaki, Kre Alang Sisir yang dikenal sebagai penghias seluruh bidang tenun.

“Tenun Sumbawa menjadi kekayaan luar biasa. Kehadiran beragam motif tenun dalam Festival Pesona Moyo 2019 tentu menjadi experience berharga wisatawan. Selain fisiknya, wisatawan juga bisa mendapat informasi lengkap dari tenun tersebut,” tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang juga Menpar Terbaik ASEAN.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here