Kemenpar Berkumandang di RRI, Pariwisata Crossborder Atambua Makin Moncer

0
26

ATAMBUA – Program Crossborder Music Festival Atambua 2019 sesion II terus diperkuat. Berbagai media promosi disasar untuk mensukseskan acara yang digelar pada 28-29 Juni 2019. Salah satunya lewat siaran langsung di Radio Republik Indonesia (RRI), Kamis (27/6).

Kabid Pemasaran Area II Regional III di Deputi Bidang Pemasaran I, Hendry Noviardi yang mewakili Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani hadir langsung mengawal acara. Berbagai kehebohan yang akan mengisi Festival Crossborder dipaparkan secara gamblang Hendry Noviardi.

“Pokoknya bakalan nyesel kalau tidak datang. Sudah pasti heboh dan seru. Kenapa? Karena kita membawa band rock kenamaan ibukota Kotak untuk memeriahkan acara. Sudah pasti ini menjadi kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Ini juga untuk terus menghebohkan dan menghidupkan Indonesia dari beranda terdepan,” kata Hendri saat siaran langsung.

Kalau belum cukup, masih ada penampilan Andmesh dan Gerson Oliveira yang juga dipastikan tampil maksimal. Ditambah lagi penampilan para jawara Band Competition Crossborder Music Festival 2019 sesion 1, yaitu Illumia Band (juara 2) dan Panglima Band (juara 1). Semua akan tampil membombardir panggung pertunjukan.

Konser ini juga akan didukung dengan tampilan panggung yang megah, serta kualitas sound dan lighting yang maksimal. Selain itu yang tak ketinggalan parade Festival Seni dan Budaya.

“Pokoknya Kemenpar akan mempersembahkan penampilan terbaik. Seluruh konsep acara sengaja kita set maksimal untuk memanjakan wisatawan Timor Leste. Kegiatan ini juga bukan hanya kami laksanakan di Atambua saja, namun ada di Malaka, di Kefa dan diperbatasan lainnya di NTT,” paparnya.

Terpisah, Asdep Ricky mengatakan, upaya promosi yang dilakukan Kemenpar menyasar semua lini. Baik itu online maupun offline. Selain mengudara di RRI, Kemenpar pun menyebarkan pengumuman lewat SMS blast yang bekerja sama dengan operator Timor Leste. Ada pula pemasangan billboard di Giant Lecidere Timor Leste, serta flyering di kota dan perbatasan. Termasuk pemasangan spanduk dan umbul-umbul di perbatasan Wini, Motaain, dan titik strategis Atambua. Promosi sudah dilakukan setiap hari detik demi detik.

“Ini merupakan bentuk totalitas Kemenpar di perbatasan. Karena jelas, sebagus apapun konsep acara itu dibuat tidak akan maksimal tanpa didukung promosi yang gencar. Kami harapkan dengan itu konser ini makin banyak menyedot wisatawan Timor Leste,” papar Ricky.

Bagi Menteri Pariwisata, upaya promosi maksimal ini bukan semata mensukseskan Program Crossborder Music Festival Atambua 2019 sesion II dalam menjaring wisatawan mancanegara. Tetapi jauh lebih dari itu, upaya ini untuk menggerakkan perekonomian masyarakat diperbatasan.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi mengubah paradigma, daerah terluar, kawasan perbatasan, dan pulau terpencil sebagai beranda depan Indonesia. Mereka disebut sebagai teras depan rumah NKRI. Maka Pos-pos Lintas Batas Negara (PLBN) dibangun megah dan membanggakan.
Kalian masih ragu? Silakan berkunjung ke PLBN Entikong, Aruk, Kalimantan Barat atau Nanga Badau di Kalimantan. Juga PLBN Mota’ain Atambua, Belu, NTT. Termasuk juga yang di Motamasin, dan Wini, yang berbatasan langsung dengan Timor Leste di NTT. Di Papua, juga ada PLBN Skouw. Semua dibangun dengan megah dan mencerminkan kedaulatan bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang besar.
Menpar Arief Yahya menghidupkan daerah-daerah perbatasan itu dengan berbagai festival, yang acap dinamakan dengan Crossborder Festival. Lokasinya di semua “daerah terdepan” dan yang oleh Presiden Jokowi sudah dibangun PLBN yang membanggakan. “Silakan Googling atau ketik di searching media social dengan hastag #CrossborderFestival, atau #Crossborder saja, berbagai events Kemenpar di kembangkan di sana,” jelas Menpar Arief Yahya.

Prinsipnya sama, perbatasan adalah wajah sebuah negara. Kesan pertama atau first impression yang akan diterima wisatawan ketika memasuki sebuah negara. Jika kesan pertamanya bagus, keren, maka semua menjadi penuh pesona. Sebaliknya, jika kesan pertama menakutkan, kotor, sepi, tidak banyak aktivitas, maka Negara ini akan dipersepsikan seperti itu. “Karena itu, kita buat kesan yang menakjubkan,” ungkap Menpar Arief Yahya yang pernah dinobatkan sebagai Marketeer of The Year 2013 oleh MarkPlus itu.

Konsep Crossborder Festival adalah menggelar events, dan biasanya music, dan menghadirkan artis-artis yang dikenal oleh negara tetangga, di daerah perbatasan. Sekaligus bazar, pasar, dan aneka transaksi bisnis dengan masyarakat local. “Inilah yang membuat ekonomi di daerah perbatasan akan meningkat,” jelas Arief Yahya yang asli Banyuwangi ini.

Membangun dari pinggiran yang diprogramkan Presiden Jokowi ini sudah dilakukan sejak 2016, bukan baru-baru ini saja. Hal tersebut tertuang dalam poin ketiga Nawacita, yakni membangun Indonesia dari pinggiran. Poinnya, pembangunan tak lagi terpusat (sentralisasi) di perkotaan. Melainkan, harus dilakukan menyebar di seluruh pelosok (desentralisasi).

Penguatan yang dilakukan Presiden Jokowi benar-benar menyentuh ujung negara. Infrastruktur Pos Lintas Batas Negara (PLBN) sudah direnovasi, dibangun megah, dan menjadi indah. Fasilitasnya pun dilengkapi. Terutama, CIQS (Costum, Imigration, Quarantine, Security). Ketika infrastruktur aman, sektor Pariwisata menjadi lebih maksimal.

Mengapa? Pariwisata membuat banyak atraksi di sana. Eventnya Festival Crossborder, Wonderful Indonesia Festival, Konser Musik Perbatasan, dan lain-lain. Tujuan satu, menggenjot kunjungan wisatawan. Dukungan diberikan karena pariwisata adalah leading sector dan sudah ditetapkan sebagai core economy bangsa ke depan.

Ibarat gayung bersambut. Presiden Jokowi membangun infrastruktur di perbatasan. Secara otomatis, Menpar Arief Yahya mengaktifkan berbagai event untuk menghidupkan perbatasan.

“Saya berdiri di Titik Nol Kilometer di Distrik Sota, Merauke — ujung paling timur Indonesia. Selangkah dari titik ini, adalah wilayah negara Papua Nugini. Mulai Januari 201 9, pemerintah akan membangun Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sota, menyusul tujuh PLBN yang sudah dibangun sebelumnya yaitu PLBN Entikong, Badau, dan Aruk di Kalimantan Barat, PLBN Motaain, Motamasin, dan Wini di Nusa Tenggara Timur dan PLBN Skouw di Jayapura. Saya berharap, selain menjadi titik pertumbuhan ekonomi baru, PLBN juga menjadi sebuah etalase kebanggaan kita karena merupakan beranda terdepan negara ini,” tutur Presiden Jokowi di akun IG @jokowi miliknya.

“Sekali lagi terima kasih Kemenpar. Keberadaan Kemenpar di daerah terutama di daerah kami menghidupkan suasana dan ekonomi kami. Kemenpar sangat berjasa sekali mengangkat pesona daerah kami dengan berbagai kegiatan yang didukung dan dikemas dengan baik dan profesional. Terima kasih Kemenpar dan pemerintah pusat,”beber Bupati Belu, NTT
Willybrodus Lay.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here