Kiai Ma’ruf: Sekarang Banyak Ulama Jadi-jadian

0
54

LIPUTAN1.COM, PURWAKARTA – Konsolidasi dan penguatan dukungan di Jawa Barat terus dilakukan Cawapres 02 KH Ma’ruf Amin (KMA). Selain orasi politik, beragam petuah juga diberikan oleh KMA.

Safari politik KMA terus dilakukan di Jawa Barat. Kali ini KMA menghadiri Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-93 di Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (16/2). Di hadapan ribuan warga Nahdliyyin, KMA pun lalu menyinggung ulama ‘jadi-jadian’. Karakternya yaitu, dianggap bisa berceramah ilmu agama namu tidak pernah menuntut ilmu di Pesantren.

Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini cukup resah dengan fenomena ulama jadi-jadian tersebut. Mereka menyampaikan ilmu agama dengan cara memaki-maki dan menyebar kebencian kepada orang lain. Karena itu, KMA meminta warga NU untuk hati-hati memilih ulama.

“Ulama kok nggak mondok, nggak mesantren, makanya harus hati-hati (memilih ulama),” kata KH. Ma’ruf Amin mengingatkan dalam tausiyahnya di acara harlah NU ke 93 dan Milad Pondok Al Muhajirin yang ke 26, di Purwakarta, Jabar, Sabtu (16/2).

Selain itu, mantan Rais ‘Aam PBNU ini juga mengajak warga NU untuk membentengi diri dari faham-faham dan akidah-akidah yang menyimpang. Faham yang membius, tapi pada akhirnya menyesatkan.

“Apalagi sekarang ini banyak faham-faham, akidah-akidah yang menyimpang,” kata KH. Ma’ruf Amin melanjutkan sambil mengingatkan.

Di hadapan ribuan warga Nahdliyyin, KMA mengingatkan untuk tidak memilih pemimpin tuna ilmu agama. Lebih jelasnya adalah tidak faham dalam ilmu agama. Sebab, acuan dalam memilih seorang pemimpin sudah jelas menurut Islam.

Hal ini didasarkan pada sebuah hadist Nabi. Yaitu, yang menceritakan hilangnya ilmu seorang ulama seiring dengan wafatnya. Dan jika orang yang faham agama tidak ada, maka masyarakat akan mencari pemimpin yang tidak cakap.

“Jika tidak tersisa seorang alim (orang beilmu) maka orang akan mencari, mengangkat pemimpin yang tidak cakap dan mampu mengurus negara,” kata KH. Ma’ruf Amin mengingatkan dalam tausiyahnya di acara harlah NU ke 93 dan Milad Pondok Al Muhajirin yang ke 26, di Purwakarta, Jabar, Sabtu (16/2).

Untuk menjadi seorang pemimpin, maka diperlukan pondasi berupa faham agama yang kuat. Bila para pemimpinnya dangkal bahkan tidak mengerti agama, maka yang terjadi umatnya akan tersesat. Untuk mengindari hal ini, masyarakat perlu tokoh agama atau ulama yang bisa membimbing umatnya. Harapannya, bisa menghindarkan dari kesesatan.

“Karena itu pelu tokoh-tokoh agama, kiai, ulama yang faham agama,” kata KH. Ma’ruf Amin melanjutkan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here