#SelatSundaAman Dirilis, Sentuhan Menpar Ditunggu di Banten

0
57

LIPUTAN1.COM, CARITA – Tagline #SelatSundaAman resmi diluncurkan, Selasa (12/2), di Mutiara Carita Cottage, Pandeglang oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Kini, tangan dingin sang menteri diharapkan bisa mengangkat kembali sektor pariwisata di pesisir Banten yang sempat rusak oleh tsunami.

Menpar hadir di Mutiara Carita Cottage untuk mengikuti Jambore Pokdarwis dan HPI. Menpar juga melakukan dialog terbuka. Ia kemudian menggunting pita tanda meluncurnya tagline #SelatSundaAman. Menteri Arief juga berkeliling Selat Sunda menaiki speedboat.

Kehebatan tangan dingin Menteri Pariwisata Arief Yahya disampaikan pemilik Mutiara Carita Cottage Budi Pranata. Menurutnya, tangan dingin Arief Yahya terbukti mampu mengangkat pariwisata Indonesia.

“Bapak Arief Yahya ini luar biasa. Tangannya dingin Apa saja yang dipegang pasti jadi. Banyuwangi disentuh maju. Bali cepat pulih dari bencana. Sekarang tinggal Banten yang disentuh biar segera maju lagi pariwisatanya. Kebetulan kita sedang ada masalah, kita tunggu tangan saktinya lagi,” paparnya.

Budi mengatakan, tsunami Selat Sunda telah makan banyak korban. Banyak juga yang hilang pekerjaan.

“Wisatawan yang lewat akan syok melihat kondisi ini. Makanya harus segera dibenahi, singkirkan sisa-sisa bencana. Kita jangan lihat lagi masalahnya. Kita harus bergerak maju,” katanya.

Menpar Arief Yahya sendiri mengaku siap membantu pemulihan pariwisata Banten.

“Untuk memulihkan dukungan pasti diberikan Kementerian Pariwisata. Kita akan mendukung local event agar wisatawan bisa hadir kembali,” paparnya.

Menurutnya, semangat memulihkan pariwisata Banten semakin tinggi dengan adanya keputusan Presiden.

“Saat gala dinner dengan PHRI, Presiden secara resmi mencabut keputusan larangan menggelar rapat di hotel. Ini kabar bagus buat pariwisata. Tahun 2014 kita sudah merasakan hal itu. Dan impactnya luar biasa bagi pariwisata. Dengan dicabutnya larangan itu, kita bisa menghadirkan lagi keramaian di pesisir Banten,” ujarnya.

Mantan Dirut PT Telkom itu menceritakan pengalaman melakukan recovery di sejumlah lokasi.

“Tahun 2017, Bali 2017 terkena erupsi Gunung Agung. Kita kehilangan 1 juta wisman. Atau kehilangan potensi US$ 1 miliar. 2018 kembali bencana. Ada gempa lombok dan gempa palu. Juga tsunami Selat Sunda. Impactnya, kita kembali kehilangan 1 juta wisman atau kehilangan potensi US$1 miliar. Di Bali, Wismannya merosot drastis,” paparnya

Dijelaskan Menpar, ketika itu PHRI kirim surat ke Presiden. Mereka mengatakan kondisinya lebih buruk dari bom bali. Pengusaha tidak kuat. Karena, negara-negara penyuplai wisman mengeluarkan travel warning.

“Saya tiap bulan datang ke Bali. Saya juga minta tolong dubes Tiongkok untuk mencabut travel warning. Karena kunjungannya 0. Kita kemudian berbicara dengan Konjen Tiongkok di Bali. Saya bilang, kita selalu mendukung Tiongkok di kancah pariwisata internasional. Dia mengakui itu. Tapi travel warning susah untuk dicabut kalau pemerintah masih menetapkan status darurat. Karena, tidak ada negara yang mau membiarkan warganya datang ke daerah darurat,” paparnya.

Dalam rapat terbatas, Menpar lantas meminta status kondisi darurat di Bali dicabut.

“Karena status darurat tidak baik buat destinasi pariwisata. Seperti Bali, Lombok, juga Anyer dan Carita. Kita akan minta agar semua kebutuhan yang diperlukan dalam kondisi darurat diberikan tapi status darurat harus dicabut,” jelasnya.

Menpar bahkan menginstruksikan Kepala Biro Komunikasi Publik Guntur Sakti untuk segera memgeluarkan surat. Isinya Banten tidak darurat. Tapi Banten akan dapat semua bantuan sosial yang harus didapat dalam kondisi darurat.

“Harus selesai Februari ini. Kalau tidak, semua industri pariwisata di Anyer-Carita akan menyerah. Impact pariwisata paling besar ke masyarakat,” terangnya.

Menpar juga meminta agar media diundang untuk melihat langsung jika pesisir Banten aman. “Ajak media untuk melihat langsung ke Anyer, Carita, hingga Tanjung Lesung. Biar media memberitakan jika Selat Sunda sudah aman,” katanya tegas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here