Jokowi Bekerja Tidak Melihat Kantong Suara Pemilu

0
38

LIPUTAN1.COM, SELONG – Presiden Joko Widodo atau yang akrab disebut Jokowi 2014 silam kalah telak di NTB. Meski begitu, perhatian presiden pada NTB cukup besar. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum PBNW TGB HM Zainul Majdi dihadapan ribuan jamaah.

“Kalau bagi saya beliau sungguh-sungguh bekerja. Beliau memang tidak pandai berkata-kata,” kata TGB, Ahad (13/1).

Dijelaskan, sepanjang republik ini berdiri, barangkali Jokowi satu-satunya pemimpin yang paling banyak dihina. Luar biasa hinaan dan fitnah diterima Jokowi. Hujatan luar biasa.

“Bahkan sampai pada menyangkut hal inti soal kehormatan beliau dan keluarga,” ucapnya.

“Jadi hobi (hinaan) bagi sebagian orang. Tapi, Alhamdulillah yang kita saksikan bersama walaupun fitnah tidak pernah putus, beliau tetap bekerja,” sambungnya.

TGB menambahkan, 2014 lalu Jokowi kalah di NTB. Kekalahan di NTB termasuk kekalahan paling besar. Ketika Jokowi memimpin tidak ada kekesalan apalagi kemarahan. NTB ini bukanlah daerah dengan pemilih puluhan juta. NTB bukan penentu pemenang pemilihan presiden. Penduduk hanya 3 juta lebih, jumlah penduduk sama dengan Kabupaten Bogor.

“Namun seperti yang saya saksikan. Beliau tidak kurang-kurang untuk membangun NTB,” bebernya.

Lebih lanjut, jika bicara mau menang dalam Pilpres Indonesia, cukup fokus saja di Pulau Jawa. Disana pemilihnya 50 persen lebih dari penduduk Indonesia. 

“Tapi tidak, di daerah yang beliau kalah, tetap sungguh-sungguh memberi perhatian,” imbuhnya.

Mengenai fitnah pada Jokowi, Gubernur NTB 2008-2018 ini menyebut, beberapa isu yang menyangkut kehormatan Jokowi dan keluarganya, TGB melihat langsung serta tak gampang ditipu. 

“Ibadah beliau bukanlah orang yang baru belajar syariat. Bukan santri, tak seperti thullab ma’had tentu,” terangnya.

Dari sisi kefasihan, kata TGB, Jokowi memang bukan santri. Tetapi, dari apa yang disaksikan dan yang disaksikan itu adalah sekuat persaksian.

“Insya Alloh beliau muslim yang baik. Bertahun-tahun dihina dianggap pura-pura, sampai akhirnya terjadi titik balik,” lanjutnya.

Akhirnya, sambung TGB, apa yang merupakan kenyataan ternyata berbeda. Ada di suatu provinsi mengundang mengaji. Dan Jokowi merespon baik, mengaji silahkan tidak pun tak mengapa. Memimpin Indonesia tentu saja tak bisa diukur hanya dari aspek kecil saja. Memimpin Indonesia bukan hal yang mudah.

“Jangankan memimpin Indonesia, memimpin NTB saja tidak mudah,” tegasnya.

Lebih jauh, ada hal yang belum tercapai, ada masalah belum terselesaikan. Itulah yang menjadi harapan semua, apa yang belum selesai bisa dituntaskan oleh Jokowi. Termasuk apa yang sedang dilakukan di NTB. 

“Bagi kita warga NW, beliau memberikan pengakuan negara terhadap pendiri NW sebagai pahlawan nasional,” tandasnya.

Kalau mau main politik, kata TGB, pahlawan nasional tak akan diberikan 2017. Namun, diberikan pada 2019. Presiden melihat bagaimana perjuangan Maulanasyaikh TGH M Zainuddin Abdul Madjid begitu luar biasa untuk NTB. Jokowi ingin menghargai, pioner keislaman dan kebangsaan di NTB adalah Maulanasyaikh. Tidak ada keraguan memberi penghargaan pada Maulanasyaikh.

“Maka bagi kita warga NW, ajarne ite adektetao bales budi lek dengan wah bagus (ajarkan membalas budi orang yang baik). Paham side…paham side (mengerti anda..mengerti anda),” ujarnya.

“Ajarne ite membalas budi. Dan kebagusan itu bukan karena terpakse nebeng ite ndek (terpaksa memberi),” tegasnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here