LCCT Bukan Kebutuhan Pariwisata, Tapi Keniscayaan Indonesia

0
48

LIPUTAN1.COM, Jakarta – Menteri Pariwisata Arief Yahya makin serius menggenjot low cost carrier terminal (LCCT). Atau, terminal bandar udara berbiaya rendah low cost carrier airport (LCCA). Keseriusan itu disampaikan Menpar kepada Direktur Utama PT Angkasa Pura 2 Muhammad Awaluddin. Tepatnya, saat rapat di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Kamis (10/1).

LCCT adalah komponen penting untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Dan guna memenuhi target Presiden Jokowi sebesar 20 juta kunjungan wisman di tahun 2019.

“Kita punya target wisman sebanyak 20 juta sampai akhir 2019. Kalau tidak punya LCCT, target itu tidak tercapai. Jumlah Low Cost Carriers tumbuh 55 persen per tahun. Di Indonesia sendiri LCC (Low Cost Carrier) tumbuh sekitar 12 persen per tahun. Dan itu kurang, kita butuh di atas 20 persen untuk menggapai target,” kata Menpar AY.

Sebagaimana diketahui, Pariwisata adalah tentang people-to-people connection. Pariwisata (Tourism) akan merangsang pertumbuhan transaksi perdagangan (Trade) dan masuknya penanaman modal (Investment). Atau istilah Menpar Arief “TTI”: Tourism-Trade-Investment.

“Nah, pariwisata dapat berkembang dan wisman dapat semakin banyak masuk bila aksesnya “dipermudah”, salah satunya melalui adanya LCCT,” imbuh Menpar.

LCCT akan menjadi lokasi pendaratan maskapai berbiaya rendah atau LCC. Sementara itu, Indonesia saat ini “baru” memiliki Terminal 1 Soetta yang fasilitasnya sudah LCCT. Namun itu juga baru untuk penerbangan domestik. Sedangkan maskapai LCC internasional tetap membayar biaya pajak dengan tarif full service carrier terminal (FSC).

“Masih banyak maskapai LCC pontensial yang belum terbang ke Indonesia. Jumlahnya sekitar 45 maskapai. Contohnya Indigo (India) Vietjet (Vietnam) yang tidak mau karena Airport chargenya mahal. Hingga saat ini AirAsia sudah komitmen. Dimanapun ada LCCT AirAsia siap akan terbang” ujarnya.

Saat ini bandara yang dimungkinkan menjadi LCCT adalah Terminal 2 di Soekarno-Hatta Jakarta, Bandara Banyuwangi, Bandara Silangit dan Bandara Komodo di Labuan Bajo. Kalau sudah dideklarasi menjadi LCCT, tarif penjualan tiket maskapai pun akan disesuaikan.

“Dengan adanya LCCT, sudah pasti passengger service charge (PSC) akan lebih murah, karena saat in PSC dibebankan ke penumpang,” lanjut Judi Rifajantoro, Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Konektivitas.

“Di luar negeri perkembangannya lebih ke smart treveler. Lebih selektif. Ngapain juga saya bayar mahal-mahal kalo sampai ke destinasinya sama saja. Apalagi era milenial saat ini sudah tidak terlalu peduli tentang masalah ini. Yang penting sampai di destinasi tujuan. Harga tiketnya lebih terjangkau, kelas mana pun juga akan tertarik sehingga berkunjung ke Indonesia bisa lebih atraktif,” ujarnya saat mendampingi Menpar AY.

Dalam rapat ini, Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin menyatakan jajarannya siap mendukung peningkatan Pariwisata. Hal ini sesuai amanat Bapak Presiden Joko Widodo dalam RATAS perihal Pariwisata pada 2017 sebelumnya di Istana Bogor. Presiden menginginkan agar seluruh Kementerian dan lintas sektor mendukung pengembangan pariwisata. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here