La Nyalla Apresiasi Kembalinya Freeport ke Pangkuan Indonesia

0
82
Istimewa

La Nyalla Apresiasi Kembalinya Freeport ke Pangkuan Indonesia

SURABAYA – Divestasi 51 persen saham PT Freeport Indonesia ke pemerintah Indonesia mendapat apresiasi dari Ketua Umum Kadin Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti. Menurut La Nyalla, kembalinya Freeport ke Indonesia bakal memberi banyak nilai tambah bagi perekonomian nasional.

“Atas nama pengusaha Jatim, saya ucapkan selamat kepada pemerintah. Para pengusaha berharap ini menjadi momentum yang baik untuk terus memperkuat ekonomi dalam negeri di sektor pertambangan, khususnya dalam hilirisasi produk tambang.

Apalagi, Jawa Timur juga merupakan tempat investasi yang tepat untuk mengembangkan hilirisasi produk tambang, seperti yang sudah jalan di Gresik,” ujar La Nyalla kepada media di Surabaya, Jumat (28/9/2018).

“Pemerintah bisa punya dorongan lebih kuat untuk bersama-sama pemegang saham Freeport lainnya guna mempercepat pembangunan smelter yang akan memberi nilai tambah investasi, penyerapan tenaga kerja, dan menambah devisa hasil ekspor produk tambang,” imbuh La Nyalla.

Calon anggota DPD RI dapil Jatim ini menambahkan, peralihan model Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus dan divestasi saham bakal membuat kontribusi penerimaan negara dari Freeport semakin besar.

“Kontribusi Freeport yang lebih besar bisa dimanfaatkan pemerintah untuk mengakselerasi pembangunan bangsa, khususnya di Papua, yang selama ini hanya kandungan alamnya saja yang diambil tanpa memberi porsi pembangunan yang adil,” ujarnya.

Seperti diketahui, proses divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia (FI) kepada pemerintah akhirnya resmi diteken oleh BUMN Pertambangan PT Inalum (Persero), Freeport McMoRan Inc., dan Rio Tinto, Kamis (27/9).

Dengan penandatanganan tersebut, jumlah saham Freeport yang dimiliki pemerintah Indonesia melalui INALUM akan meningkat dari 9,36% menjadi 51,23%.

Adapun Pemda Papua akan memperoleh 10% dari 100% saham Freeport. Perubahan kepemilikan saham ini akan resmi setelah transaksi pembayaran sebesar 3,85 miliar dollar AS atau setara dengan Rp56 triliun pada akhir 2018.

Dikatakan La Nyalla, momentum divestasi ini sebaiknya dimanfaatkan untuk membuktikan bahwa putra-putri terbaik bangsa mempunyai kompetensi untuk menggarap sektor pertambangan berskala super-besar seperti Freeport.

“Pemerintah bisa terus meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia di sektor pertambangan.

Transfer teknologi dalam rangkaian divestasi ini dalam beberapa tahun ke depan semoga bisa membuat SDM kita makin berkompeten dan kelak bisa mengelola potensi tambang dan energi secara berdaulat untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia,” pungkas La Nyalla. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here