Dikawal 6 Kurator Handal, CoE 2019 Harus Miliki 3 Value

0
43

LIPUTAN1.COM– Calendar of Event (CoE) 2019 akan memiliki tiga value. Yaitu creative, commercial, dan communication. Goal itulah yang akan dicapai setelah kurasi diperketat. Tidak main-main, tim kurator terdiri dari orang-orang handal.

Tim Kurator CoE 2019 terdiri dari Stafsus Menteri Pariwisata Bidang Media dan Komunikasi Don Kardono, Jacky Mussry dari MarkPlus, Taufik Rahzen (budayawan dan sastrawan), Deny Malik (Koreografer, Artis), Dynand Fariz (penggagas Jember Fashion Carnival), Eko ‘Pece’ Supriyanto (mantan koreografer dan penari latar Madonna).

Ke-6 orang ini akan mengawal agenda pariwisata Indonesia di 34 provinsi.

“Prinsipnya events yang diusulkan oleh masing-masing Kepala Dinas Provinsi, harus memiliki 3C. pertama Creative Value atau Cultural Value sehingga setiap event memiliki selera seni yang berkelas dunia,” ujar Don Kardono, di Jakarta, Sabtu (14/9).

Yang kedua, lanjut Don Kardono, memiliki commercial Value. Dengan nilai komersial suatu event yang tinggi sudah tentu memiliki potensi devisa yang tinggi. Dan ‘C’ yang ketiga adalah Communication Values atau Media Value. Menurut Don Kardono, bila kedua C diatas sudah dilengkapi, nilai di media juga akan menarik, unik, dan penuh pesona.

Don Kardono yang juga Ketua Tim Kurator Top 100 CoE 2019, menerangkan tugas personel timnya. Untuk urusan creative values, Deny Malik, Dynand Fariz, Eko ‘Pece’ Supriyanto ahlinya.

Ketiga orang ini masuk dalam tim creative yang memhuat Opening dan Closing Ceremony Asian Games 2018 dipuji dunia. Bahkan hingga Trending Topic Twitter nomer 1 di dunia.

“Kalau soal menghitung Commercial Values, atau Financial Values, Jacky Mussry, yang malang melintang di Mark Plus urusannya. Dia ahlinya. Sedangkan untuk urusan nilai budaya atau kearifan budaya suatu event ada Taufik Rahzen yang menilai Cultural Value,” ujarnya.

Disamping Tim Kurator, Don menilai kehadiran Generasi Pesona Indonesia (GenPI) bisa melengkapi kesuksesan suatu event. Karena GenPI bisa memviralkan destinasi wisata serta event, dan memunculkan awareness baru.

Denny Malik ikut angkat suara. Menurutnya, 34 Provinsi yang ada di Indonesia punya budaya yang luar biasa. Mereka bersaing satu sama lain agar event di daerahnya masuk dalam Calendar of Event nasional.

“CoE 2019 memang agak membingungkan, akan tetapi itu wajar. Karena secara ide dan kreativitas di 34 Provinsi semuanya bagus. Tetapi memang kita harus mencari ikon utama di suatu daerah, yang unik dan beda dengan daerah lain. sehingga bisa menarik wisatawan datang,” ujar Denny Malik.

Pelantun lagu Jalan-jalan Sore itu menilai Indonesia memiliki keberagaman seni budaya. Hampir setiap daerah, punya karateristik budaya yang berbeda. Untuk itu setiap daerah harus all out mengeluarkan ide. Seperti menyatukan dengan unsur alam atau olahraga. Semua bersentuhan dengan seni budaya.

“Intinya festival seni budaya ini harus dikemas berbeda disetiap daerah. Sehingga wisatawan dapat mencari festival mana yang akan didatangi. Bagaimana itu dipikirkan semua agar gelaran seni yang masuk dalam CoE tidak asal-asalan dan memiliki potensi yang sangat kuat,” ujar pria kelahiran Pesisir Selatan, Sumatera Barat itu.

Sementara itu, pakar karnaval yang namanya sudah mendunia dengan Jember Fashion Carnaval, Dynand Fariz, menilai ToP 100 Calender of Event sangat menarik. Namun, ada beberapa yang harus dikaji dan dievaluasi.

“Banyak hal, ada dari segi peningkatan event, konten event, dan aktivitas yang muncul disetiap event. Karena, mereka perlu berpikir bila suatu event itu tidak hanya sekedar dibuat, tapi harus direncakan dan punya nilai jual,” ujar Dynand.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut penyusunan Top 10 Event Nasional dan 100 Calendar of Event 2019 memiliki beberapa Indikator. Yang pertama harus memiliki ketersediaan informasi online diukur dengan keberadaan website, update konten, dan desain website.

Kemudian konsistensi pelaksanaan, diukur dengan jumlah penyelenggaraan, merupakan jumlah total penyelenggaraan event yang sama sejak tahun pertama dilaksanakan hingga saat ini.

“Jadinya penyelenggaraan event benar-benar berkualitas. Tidak asal-asalan sehingga tidak memberikan efek apapun pada ekonomi masyarakat,” kata Menpar Arief Yahya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here