Ini Kesalahan KH Yahya Cholil Staquf Menurut Fadli Zon

0
70
Istimewa

Ini Kesalahan KH Yahya Cholil Staquf Menurut Fadli Zon

WAKIL Ketua DPR RI ini kembali melontarkan kritikan pedas terhadap Sekretaris Jenderal PB Nahdlatul Ulama (NU) KH Yahya Cholil Staquf.

Kritikan terkait saat Yahya berbicara di depan forum American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem, Israel, Minggu (10/6/2018), sebagai bentuk penyimpangan terhadap konstitusi.

Dalam konstitusi tertulis tegas penentangan Indonesia terhadap segala bentuk penjajahan di atas dunia.

Israel, kata Fadli Zon, berdasarkan serangkaian Resolusi PBB, merupakan negara yang telah melakukan banyak pelanggaran kemanusiaan terhadap Palestina.

Kunjungan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) tersebut juga melanggar Undang-Undang Nomor 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

Diplomasi Yahya dianggap kontraproduktif dengan sikap politik pemerintah Indonesia yang sejak 1947 mendukung kemerdekaan Palestina.

Fadli Zon kemudian menjembreng bentuk-bentuk pelanggaran yang dilakukan Yahya Cholil Staquf tersebut dalam kultwit di akun twitternya, Rabu (13/6/2018) mulai satu jam lalu.
Karena itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini meminta pemerintah (Presiden Joko Widodo) untuk menegur dan memberi peringatan kepada Yahya Staquf.

“Krn itu, sgt penting bagi pihak pemerintah untuk memberikan klarifikasi sekaligus teguran terhadap kunjungan anggota Wantimpres Staquf, yg menyandang status sbg pejabat negara,” tulis Fadli Zon.

Inilah kultwit Fadli Zon terkait kunjungan anggota Watimpres Yahya Cholil Staquf.

@fadlizon: 1) Sy mngkritik kehadiran Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Yahya Staquf, dalam konferensi tahunan Forum Global AJC (Komite Yahudi Amerika) yg digelar di Yerusalem 10-13 Juni 2018 kemarin

@fadlizon: 2) Alasan sy mngkritik krn kunjungan Staquf ke Israel dinilai sbg bentuk pelanggaran konstitusi dan UU No.37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

@fadlizon: 3) Kunjungan tsb jg dipandang kontraproduktif dgn sikap politik luar negeri Indonesia yg sejak 1947 konsisten mendukung kemerdekaan Palestina.

@fadlizon: 4) Kunjungan Wantimpres Yahya Staquf ke Israel, selain mencederai reputasi politik luar Indonesia di mata internasional, jg jelas bisa melanggar konstitusi dan UU No.37/1999 ttg Hubungan Luar Negeri.

@fadlizon: 5) Dalam konstitusi kita tertulis tegas penentangan segala bentuk penjajahan. Dan Israel, berdasarkan serangkaian Resolusi yg dikeluarkan PBB, merupakan negara yg telah melakukan banyak pelanggaran kemanusiaan thdp Palestina.

@fadlizon: 6) Mulai dr Resolusi 181 thn 1947 ttg pembagian wilayah Palestina dan Israel, Resolusi 2253 thn 1967 ttg upaya Israel mengubah status Yerusalem, Resolusi 3379 ttg Zionisme thn 1975, Resolusi 4321 thn 1988 ttg pendudukan Israel dlm peristiwa intifada, n sejumlah resolusi lainnya.

@fadlizon: 7) Berdasarkan catatan statistik otoritas Palestina, sejak tahun 2000 hingga Februari 2017, sebanyak 2069 anak Palestina tewas akibat serangan Israel.

@fadlizon: 8) Bahkan pd serangan Israel ke Yerusalem Timur dan Tepi Barat pada 2014, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA), menyatakan serangan tsb mengakibatkan kematian warga sipil tertinggi sejak 1967.

@fadlizon: 9) Dari Laporan OCHA tahun 2014 yg berjudul, “Fragmented Lives”, menyebutkan bhw akibat okupasi Israel di Jalur Gaza, terdapat 1,8 juta warga Palestina menghadapi peningkatan permusuhan paling buruk sejak 1967.

@fadlizon: 10) Lebih dari 1.500 warga sipil terbunuh, lebih dari 11.000 orang terluka dan 100.000 orang terlantar. Laporan thn 2017 pun menunjukan situasi tak berubah. Akibat agresifitas Israel, trdpt 2.8 juta warga Palestina yg membutuhkan pertolongan dan perlindungan kemanusiaan.

@fadlizon: 11) Inilah yg mendasari sikap konstitusi kita. Dimana secara de facto dan de jure Indonesia tidak mengakui keberadaan Israel.

@fadlizon: 12) Sehingga, kunjungan anggota Wantimpres Yahya Staquf ke Israel, selain bertentangan dgn konstitusi, rentan ditafsirkan sbg simbol pengakuan pejabat negara Indonesia secara de facto atas keberadaan Israel.

@fadlizon: 13) Ini sangat berbahaya dan memprihatinkan. Lebih jauh, kunjungan Staquf jg kontraproduktif bagi agenda diplomasi Indonesia yg selama ini konsisten membela Palestina.

@fadlizon: 14) Pembelaan Staquf yg mengklaim kunjungannya dlm kapasitas pribadi, jelas tak dpt diterima. Staquf adlh penasihat Presiden, anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Posisinya setingkat menteri yg berarti jg pejabat negara.

@fadlizon: 15) Dan jabatan tsb selalu melekat, tak bisa dipisahkan. Artinya, sbg pejabat negara sikap politik luar negerinya, harus tunduk pd konstitusi dan UU No.37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Tak boleh keluar dari koridor tsb.

@fadlizon: 16) Selain bermasalah scr prosedural, sy melihat kunjungan anggota Wantimpres ke Israel jg mengandung cacat moral. Di tengah agresifitas serangan Israel ke Palestina belakangan ini, ironis jika ada ada pejabat negara Indonesia berkunjung ke Israel.

@fadlizon: 17) Kunjungan tsb jelas menunjukkan sikap yg sangat tak sensitif. Selain itu, ironisnya lagi, kunjungan Staquf jg bisa dinilai oleh dunia internasional sbg justifikasi simbolis dukungan pejabat negara Indonesia thdp tindakan Israel selama ini.

@fadlizon: 18) Mengingat sikap politik luar negeri Indonesia yg konsisten mendukung kemerdekaan Palestina, kehadiran Staquf di Israel sangat tdk konstruktif. Bahkan kontraproduktif.

@fadlizon: 19) Apalagi jika kita perhatikan speech Yahya Staquf di Forum Global AJC, tdk ada pernyataan Staquf dalam forum tersebut yg menyiratkan dukungannya terhadap Palestina.

@fadlizon: 20) Bahkan dari video yg beredar, tak ada kata Palestina dlm pernyataan-pernyataan Staquf. Apakah ini menandai sikap polugri Indonesia yg sudah meninggalkan prinsip bebas aktifnya? Atau telah mengubah kebijakannya terhadap Israel?

@fadlizon: 21) Krn itu, sgt penting bagi pihak pemerintah untuk memberikan klarifikasi sekaligus teguran terhadap kunjungan anggota Wantimpres Staquf, yg menyandang status sbg pejabat negara.

Minta Al Qurdan dan Hadist Ditafsir Ulang

KH Yahya Cholil Staquf mengajak para pihak untuk melakukan penafsiran ulang terhadap Hadist dan Al Quran.

Penafsiran ulang tersebut terutama terkait hubungan antara (Agama) Yahudi dan Islam.

Selama ini ada kesan, permusuhan antara Yahudi (Israel) dan non-Yahudi antara lain karena penafsiran atas ajaran dua agama besar di dunia ini.

Dalam konteks Islam, sumber dari ajaran Islam tersebut adalah Hadist dan Al Quran.

“Dan salah satu sumber masalahnya terletak pada ajaran dua agama itu sendiri,” ujar Yahya Staquf.

Yahya Cholil Staquf diwawancari Rabbi David Rosen dalam forum American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem, Israel, Minggu (10/6/2018).

Menurut Yahya Staquf, hubungan antara Islam dan Yahudi adalah hubungan yang fluktuatif. Terkadang baik, terkadang konflik.

Hal ini tergantung pada dinamika sejarah yang terjadi. Tapi secara umum harus diakui bahwa ada masalah dalam hubungan dua agama ini.

Dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama baik Islam maupun Yahudi perlu menemukan cara baru untuk pertama-tama memfungsikan agama dalam kehidupan nyata.

“Dan kedua menemukan interpretasi moral baru yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan agama-agama lain,” kata Yahya.

Pewawancara kemudian bertanya, Jadi, Anda mengatakan bahwa melakukan intrepretasi ulang terhadap teks Alquran dan hadits sebagai upaya menghilangkan penghalang terciptanya hubungan baik antara Islam dan Yahudi adalah sesuatu yang mungkin dilakukan?

Menurut Yahya Staquf, bukan hanya mungkin, tapi ini sesuatu yang harus dilakukan. Karena setiap ayat dari Alquran diturunkan dalam konteks realitas tertentu, dalam masa tertentu.

Nabi Muhammad Saw, ujar Yahya Staquf, dalam mengatakan sesuatu juga selalu disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu. Sehingga Alquran dan hadits adalah pada dasarnya dokumen sejarah yang berisi panduan moral dalam menghadapi situasi tertentu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here