Hoax Sampah Menyerbu Nusa Penida

0
268

LIPUTAN1.COM–Berita bohong, atau hoax, rupanya tidak hanya berlaku di dunia politik. Bahkan destinasi wisata Indonesia ikut diserang. Seperti yang terjadi di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali.

Dalam beberapa tahun terakhir, Nusa Penida menjadi destinasi incaran wisatawan. Kawasan ini juga andalan Pemkab Klungkung untuk meraup pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

Belakangan, hadir video yang menggambarkan seorang turis menyelam di tengah kepungan sampah. Video tersebut menjadi viral di media sosial. 

Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung lantas mengecek kondisi tersebut. Namun, tidak ditemukan daerah yang dipenuhi sampah seperti terlihat di video itu.

“Kondisi Nusa Penida saat ini aman-aman saja di permukaan. Tidak seheboh video yang viral itu. Saya menduga ada unsur fitnah dan menjelek-jelekan Nusa Penida. Karena saat ini Nusa Penida sedang booming, kebanjiran wisatawan,” tegas Kepala Dinas Pariwisata Klungkung, I Nengah Sukasta, Kamis (8/3).

Dijelaskan Sukasta, perairan The Blue Paradise Island memang sempat mendapatkan sampah kiriman dari wilayah lain. Namun sebelum video itu beredar. Hal ini bertepatan dengan musim hujan dan gelombang pasang. Yang merupakan dampak siklon angin barat.

“Kemarin memang sempat ada sampah kiriman. Biasa seperti itu karena arus mengarah ke Nusa Penida. Dan itu sudah dibersihkan. Jadi clear. Kami mengimbau masyarakat di daerah lain untuk tidak membuang sampah ke sungai atau laut. Ini mencemari lingkungan. Imbasnya ke pariwisata Indonesia,” ujar Sukasta.

Tidak bisa dipungkiri, sampah kiriman merupakan masalah yang kerap menyerang Bali. Namun, Pemkab Klungkung secara maksimal menangani masalah sampah. Salah satunya dengan teknik Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) yang sudah digulirkan.

Metode tersebut memiliki fungsi ganda. Selain mengatasi sampah, TOSS mampu menjadi bahan bakar terbarukan. Melalui TOSS sampah diolah menjadi briket dan pelet. Kedua produk olahan bisa dipakai sebagai bahan bakar pembangkit listrik dan memasak.

“Kami secara maksimal mengolah sampah. Partisipasi aktif masyarakat dilibatkan. Keunggulan TOSS, sampah tidak perlu dipilah. Sampah diolah langsung melalui poses ‘peuyeumisasi’, biketisasi atau peletisasi, dan gasifikasi. 

Dengan penambahan bio activator, bau kurang sedang hilang dalam tiga hari. Setelah berbentuk briket atau pelet, bisa dipakai sebagai bahan bakar. Termasuk, bahan bakar pembangkit listrik,” kata Sukasta.

Kabupaten Klungkung berencana membangung 20 unit TOSS pada 2018. Hingga saat ini telah ada 10 desa yang bersedia menjadi pusat pengolahannya. 

Sukasta menambahkan, TOSS akan menekan beban TPA Suwung dan TPS Desa Sente. Bahkan, value juga akan dinikmati masyarakat.

“Beban TPA atau TPS akan berkurang. Artinya, tekanan terhadap lingkungan semakin minim. Yang utama, masyarakat akan punya income baru. Mereka bisa berjualan briket dan pelet hasil daur ulang sampah-sampah ini,” pungkas Sukasta.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun ikut angkat bicara. Menurutnya, sampah memang sudah menjadi “musuh pariwisata”. Dan hal ini, sangat berpengaruh pada indeks daya saing pariwisata Indonesia. 

Untuk itu Menteri Arief mengajak masyarakat berperan aktif untuk memerangi sampah. Menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan merupakan bukti konkrit untuk membantu pemerintah.

“Permasalahan sampah selalu menjadi musuh besar pariwisata. Ini harus kita perangi bersama. Pariwisata saat ini telah terbukti menjadi core ekonomi bangsa. Maka selayaknya seluruh masyarakat juga ikut menjaganya. Jika lingkungan bersih wisatawan akan nyaman. Jika wisatawan nyaman maka perekonomian masyarakat akan terdongkrak,” kata Menpar Arief Yahya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here