Sumedang Genjot Destinasi Pariwisata

0
65

LIPUTAN1.COM–Pengembangan destinasi pariwisata gencar dilakukan Sumedang. Aspek teknis dan non teknis pun disinkronkan. Hal tersebut dilakukan karena Sumedang menjadi buffer zone bagi Bandara Kertajati, Tol Cisundawu, dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Jatigede.

“Sumedang harus menata diri dari sekarang. Berdirinya infrastruktur baru, mulai dari bandara dan tol, harus dioptimalkan. Berbagai potensi yang ada di sini harus dikembangkan, terutama pariwisata. Destinasi pariwisata harus segera disiapkan,” ungkap Anggota Komisi X DPR RI Dony Ahmad Munir.

Dengan melibatkan berbagai elemen, program bimbingan teknis pun digulirkan. Tema besar yang diangkat adalah ‘Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Kecamatan Buahdua’. Lokasinya di Gedung LVRI, Buahdua, dengan jumlah peserta mencapai ratusan. Dony Ahmad menambahkan, destinasi pariwisata di wilayah Sumedang belum sepenuhnya siap. Banyak aspek yang harus dibangun.

“Masalahnya, destinasi di sini belum menarik. Banyak hal yang harus diperbaiki lalu di-branding. Kebersihan juga harus diperhatikan. Fasilitas masih banyak yang harus ditambah. Tidak kalah penting adalah keramahan dari masyarakat di sini,” lanjutnya.

Sumedang memiliki sejumlah potensi yang layak dikedepankan. Ada destinasi Cipanas Sekarwangi dan Cipanas Cileungsi. Keberadaan destinasi ini akan semakin terbantu dengan hadirnya Tol Cisundawu. Sebab, Sumedang akan diberikan lima exit toll, diantaranya di Simpang, Citimun, Paseh, dan Ujung Jati. Nantinya, pintu tol tersebut akan terhubung langsung dengan destinasi wisata.

“Daerah ini harus mendapatkan banyak manfaat. Keistimewaan diberikan pada Sumedang dengan lima pintu tol. Nantinya pintu-pintu tersebut akan connect langsung dengan destinasi. Ada wisata alam, kuliner, juga pendidikan. Teater juga akan dibangun untuk menampilkan Kuda Renggong. Kalau itu sudah berdiri, yakinlah pariwisata akan semakin tumbuh di sini,” jelasnya.

Denyut pertumbuhan pariwisata sempat dirasakan Sumedang. Pada 2015 silam, Sumedang meraih devisa Rp44,7 miliar, atau naik Rp7,4 miliar dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu adalah efek kunjungan 2.865 wisatawan mancanegara.
Namun, wisatawan lokal juga menunjukan grafik positif. Wisatawan nusantara (wisnus) menghasilkan devisa Rp169,5 miliar. Angka itu naik Rp28,2 miliar dari tahun sebelumnya. Waktu itu, jumlah wisnus mencapai 169.514 orang.

“Dengan potensi besar, masyarakat harus punya komitmen kuat. Kementerian Pariwisata akan dukung. Bimbingan teknis juga penting untuk menambah wawasan dari masyarakat,” tutur Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Kementerian Pariwisata Burhanuddin.

Burhanuddin menambahkan, ada 3 aspek perencanaan pengembangan pariwisata. Penyiapan destinasi mengacu 3A. Ada atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Untuk aksesibilitas, Sumedang didukung jalur udara dan darat. Amenitasnya, wilayah ini juga memiliki hotel, akomodasi, komunikasi yang memadai. Sementera atraksinya, Sumedang memiliki ikon berupa Kuda Renggong.

“Selain penyiapan destinasi, ada kelembagaan industri. Ini berhubungan dengan kualitas masyarakat. Tidak kalah pentingnya itu branding. Promosi besar-besaran harus terus dilakukan,” jelasnya lagi.

Tips juga diberikan Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata 1 Wawan Gunawan. Bahkan, logo Yayasan Seni Kuda Renggong Sumedang (Yaskures) dimintanya dibuat lebih spesial. Selain itu, dimensi kreasi pertunjukan dipaparkan. Isinya mulai ide pertunjukan, konsep penggarapannya, struktur, riuh pertunjukan, hingga daya tarik.

“Branding penting, logo Yaskures harus beda dari lainnya. Yang penting orang lihat itu percaya. Untuk konsep pertunjukan kemasannya harus luar biasa. Wisatawan datang melihat atraksi. Kawasan khusus atraksi akan dibangun. Kemenpar support atraksi dan promosinya. Nantinya subsidi uang ini langsung ke seniman Kuda Renggong. Manfaatkan juga media sosial,” pesan Wawan.

Khusus media sosial, pada 2017, pengguna aktif internet mencapai 132 juta jiwa. Jumlah tersebut naik 51% atau 45 juta orang dari tahun sebelumnya. Dari total jumlah itu, 40% adalah penggila media sosial (medsos). Mereka pun aktif di medsos melalui mobile sampai 39%.

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, medsos adalah cara ampuh dan cepat untuk branding.

“Akses banyak pintu tol langsung ke destinasi sungguh luar biasa. Kesempatan ini harus dimanfaatkan. Sumedang harus segera menyiapkan berbagai destinasi. Entah itu alam atau buatan. Apa yang diberikan dalam bimbingan teknis harus dijalankan. Untuk branding, selalu manfaatkan medsos. Itu lebih cepat dan efektif,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here