Kemenpar Gelar Rakor Pengembangan Destinasi Wisata Sumatera

0
61

LIPUTAN1.COM-Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan Destinasi Wisata Wilayah Barat, tepatnya Sumatera. Rakor digelar di Gedung Sapta Pesona, Kantor Kemenpar, Jakarta, Senin (12/2). 

Seluruh tim percepatan hadir dalam rapat itu, yakni Tim Percepatan Pengembangan Homestay, Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja, dan Tim Percepatan Pengembangan Wisata Halal.

Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wilayah Barat, Lokot A Enda Siregar mengatakan, Sumatera memiliki potensi pengembangan homestay. Lokot menambahkan, pihaknya akan memberikan dukungan untuk pengembangan homestay di Sumatera.

“Nanti akan dilakukan mapping homestay dan DSRA pengembangan homestay di area Sumatera. Selain itu, juga akan dilakukan identifikasi pembangunan homestay di area Sumatera,” ujar Lokot.

Sedangkan Penyusunan Desain, Strategi dan Rencana Aksi (DSRA) Wisata Kuliner dan Belanja yang akan difasilitasi antara lain daerah Batam, Bukit Tinggi, dan Palembang. 

“Survei dan pemetaan potensi kuliner belanja di area Sumatera dilakukan di Batam, Bukit Tinggi, dan Palembang. Setelah itu, akan dilakukan FGD hasil survei dan pemetaan potensi kuliner belanja di tiga area yang disurvei,” jelas Lokot.

Tim Percepatan Pengembangan Wisata Halal Kemenpar juga sudah mulai melakukan penyusunan DSRA Wisata Halal untuk wilayah Sumatera. Adapun wilayah yang disasar meliputi Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau (Kepri). 

“Penyusunan draft DSRA Pengembangan Wisata Halal di Aceh, Sumatera Barat, Riau, juga Kepri, dan akan dilakukan pada bulan Maret. Finalisasi draft DSRA akan dilakukan pada bulan Mei 2018. Dan langsung dilakukan konsinyering DSRA di bulan yang sama,” paparnya.

Lokot kembali menambahkan, format DSRA Pengembangan Pariwisata wilayah Sumatera ini meliputi analisis situasi yaitu pendekatan perencanaan (DPN, KPPN, KSPN), profil destinasi pariwisata, dan pemetaan daya tarik wisata. 

Kemudian menganalisa gambaran umum (kondisi eksisting) Wisatawan Mancanegara dan Wisatawan Nusantara, pemetaan produk dan pasar pariwisata dan kunjungan wisman 2015-2017.

“Kemudian ada formulasi strategi. Dengan menghitung target potensial destinasi pariwisata sampai dengan tahun 2019. Kemudian ada strategi pengembangan pariwisata, pengembangan produk pariwisata, pengembangan customer management dan marketing management,” paparnya.

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, kesuksesan pengembangan pariwisata akan sulit tercapai bila tidak ada dukungan dari Chief Executive Officer (CEO) yang dalam hal ini adalah kepala daerah yaitu gubernur, bupati dan wali kota.

“Jika kepala daerah tahu bagaimana mengalokasikan sumber daya, pariwisata akan maju. Bahkan akan menjadi unggulan untuk mensejahterakan rakyat,” kata Menpar Arief Yahya.

Menurut Menpar, dalam mengembangkan pariwisata diibaratkan mengelola perusahaan dengan menyiapkan sedikit modal namun bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat.

“Pariwisata itu penghasil devisa terbesar, biaya promosi cukup dua persen dari total devisa yang ingin dicapai,” jelas Menpar Arief Yahya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here