Indra Sjafri: Kalau Sepakbolanya Mau Hebat, Indonesia Harus Siapkan Generasi Baru

0
62

Iondra Sjafri: Kalau Sepakbolanya Mau Hebat, Indonesia Harus Siapkan Generasi Baru

Batam

Kalau Indonesia mau hebat sepak bolanya, maka harus menyiapkan generasi baru mulai dari sekarang. Apalagi kalau mau bicara di level tertinggi sepak bola yaitu Piala Dunia. Karena untuk menggolkan ‘mimpi besar’ tersebut Indonesia tidak bisa lagi berharap pada generasi yang ada sekarang ini, termasuk pada Evan Dimas dan Egy Maulana Vikri.

Pandangan tersebut disampaikan mantan pelatih Timnas U19 dalam sambutannya pada acara pengukuhan Kepengurusan Badan Liga Sepakbola Pelajar Indonesia (BLiSPI) Provinsi Kepulauan Riau periode 2017-2021 di Ballroom Hotel Nagoya Plaza Kota Batam, Jumat (9/2). Acara dihadiri Ketua Umum BLiSPI, Subagja Suihan, Ketua BLiSPI Provinsi Kepri, Mukriyadi dan jajarannya, Kadispora Provinsi Kepri, Drs Maifrizon yang diwakili Ketua Bidang Olahraga Dispora Kota Batam, Aisirin, mantan pelatih kiper timnas U19, Jarot Supriyadi dan komunitas sepak bola usia dini dan usia muda se-Kepri.

“Karena sepak bola tidak seperti membalik telapak tangan. Butuh proses panjang dan perencanaan yang matang dan terukur,” kata Indra yang juga penasehat BLiSPI Pusat.

Mantan pelatih Bali United ini mengaku terinspirasi dengan paparan Direktur Teknik Tim Nasional Usia Muda Jepang yang ditemuinya saat menghadiri Konferensi AFC di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu.

“Baru-baru ini saya ikut Konferensi AFC di Kuala Lumpur. Kebetulan saya duduk berseberangan dalam satu meja engan Direktur Teknik Timnas Usia Muda Jepang,” ungkap Indra.

“Dia memaparkan Jepang yang sudah berkali-kali lolos Piala Dunia, punya target juara dunia pada Piala Dunia 2050. Dan program untuk menggolkan target tersebut akan dimulai pada 2026. Artinya para pemainnya sekarang belum lahir,” imbuhnya.

Namun sambung Indra, dari paparan tersebut bisa terlihat betapa terencananya Jepang dalam menyiapkan program untuk mewujudkan target menjadi juara dunia pada Piala Dunia 2050.

“Begitu pahamnya mereka bahwa sepak bola itu tidak semudah membalik telapak tangan. Tidak bisa.

“Saya tanya ke dia apa yang dilakukan dari tahun 2018 sampai tahun 2026. Dijelaskan, pembinaan timnas yang ada saat ini tetap berjalan. Tetapi ada program yang jauh lebih penting yaitu merencanakan pembinaan untuk mewujudkan misi menjadi juara dunia pada Piala Dunia 2050,” tutur Indra.

“Pemerintah Jepang sangat mensuport program tersebut. Gizi ibu-ibunya diperbaiki. Infrastruktur lapangan sebagai sarana latihan untuk anak anak yang lahir tahun 2026. Selain itu, dalam enam tahun ke depan SDM Kepelatihan disiapkan. Bahkan dari sekarang telah dilakukan kawin silang orang Jepang dengan orang Eropa untuk bisa lahirnya generasi muda Jepang yang lebih unggul dan lebih bisa bersaing. Mungkin pemikiran kita belum sampai ke situ karena kita berantam terus,” ujar Indra.

Pembinaan Yang Benar

Pada kesempatan tersebut, Indra menyatakan dia menyambut baik terbentuknya Kepengurusan BLiSPI Provinsi Kepulauan Riau. Menurutnya, Mukriyadi adalah figur yang tepat untuk memimpin BLiSPI Provinsi Kepri.

“Saya yakin Pak Mukriyadi adalah orang yang tepat yang bisa mengorganisir dan menyatukan untuk mencapai satu tujuan membangun sepak bola usia dini dan usia muda di Kepri. Kegiatan sepak bola usia dini dan usia muda di Kepri harus berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Sekali lagi selamat kepada Pak Mukriyadi dan teman-teman pengurus BLiSPI Provinsi Kepri yang telah dikukuhkan oleh BLiSPI Pusat. Bismillah, Tuhan akan memberkati memberikan jalan yang baik untuk kita,” ucapnya.

“Ayo mulai sekarang kita lakukan pembinaan yang benar di level usia dini dan usia muda. Tidak cukup hanya kompetisi. Kita perlu melakukan program untuk meningkatkan kualitas kepelatihan,” bebernya.

Terkait misi peningkatan kualitas SDM Kepelatihan, Indra mengatakan dia bekerjasama dengan ustad kondang Yusuf Mansyur dalam waktu dekat akan membuat program gratis untuk seribu pelatih di Indonesia.

“Insha Allah nanti, makanya Bissmillah saya sampaikan di sini saya bekerja sama dengan ustad Yusuf Mansyur akan bikin satu program yang lebih besar dari sekedar saya pelatih tim nasional salah satunya kita ada program gratis untuk seribu pelatih di Indonesia untuk C AFC,” jelasnya.

“Kita yang menyeleksi siapa yang bisa ikut. Mudah-mudahan semua provinsi akan kita libatkan terutama yang punya basis atau organisasi BLiSPI. Kita akan menanyakan ke anggota-anggota dan ketua-ketua BLiSPI yang ada di Indonesia. Oleh sebab itu, mari kita sama-sama bersemangat untuk menyiapkan generasi baru Indonesia di sepak bola. Karena tanpa menyiapkan generasi baru pesepakbola Indonesia dari sekarang, jangan harap Indonesia akan hebat,” tambahnya.

Indra lebih lanjut mengatakan generasi baru yang akan disiapkan adalah generasi baru yang lebih bermartabat.

“Oleh sebab itu, kepelatihan sepak bola tidak cukup hanya mengajarkan menendang bola, mendribilling bola dan mengontrol bola. Attitude adalah hal yang paling pokok di sepak bola. Kemudian empat dan respek kepada orang lain. Tahu aturan paling penting diberikan kepada pemain-pemain pada usia sedini mungkin. Kalau tidak ingin melihat pertandingan sepak bola seolah menonton pertandingan karate. Kita bisa lihat bahkan dalam pertandingan yang disiarkan langsung oleh televisi, pemain tanpa rasa malu dan tanpa respek sedikitpun dengan seenaknya menonjok wasit, mencelakai lawannya. Padahal hal-hal seperti itu harus kita buang sedini mungkin,” tandas Indra.

Indra menegaskan kalau ingin Indonesia baik maka harus disiapkan generasi baru yang jauh lebih baik

“Pemain-pemain yang bermartabat, yang cerdas otaknya dan juga berakhlak baik,” imbaunya.

“Oleh sebab itu, saya juga beroesan kepada BLiSPI daerah untuk memperbaiki kualitas SDM Kepelatihan,” imbuhnya.

Indra berjanji siap membantu BLiSPI untuk memberikan klinik-klinik pelatihan kepada para pemain dan pelatih binaan BLiSPI.

“Kepada Ketua BLiSPI Pusat kapan perlu kami siap membantu. Mungkin secara berkala nanti Coach Jarot (mantan pelatih kiper Timnas U19) memberikan pelatihan untuk penjaga gawang usia dini,” tukasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here