Siap-siap Ya, Keseruan Festival Komodo 2018 Hadir Awal Maret 2018

0
438

LIPUTAN1.COM-Festival Komodo 2018 akan segera dimulai, tepatnya pada tanggal 5 hingga 10 Maret 2018, mendatang. Kalau mau datang, sebaiknya siapkan perlengkapan menyelam, snorkling dan kamera. Jangan lupa juga pastikan membawa kartu memori berkapasitas besar.

Pasalnya, akan banyak yang harus diabadikan dan dipublish di dunia sosial media. Selain akan menikmati kecantikan bawah laut, Anda bakal dihibur berbagai acara seru.Kegiatan ini dipusatkan di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bakal ada Parade Komodo, Lomba Fotografi, Voli Pantai, Lomba Perahu Dayung, Pertunjukan Kecantikan Komodo, Lokakarya, Pameran Kerajinan Tangan, Pertunjukan Seni dan Musik, serta banyak lagi.

“Selain itu, juga ada karnaval budaya, dan petualangan alam komodo. Wisatawan akan menikmati sajian kultural dan sekaligus berwisata bahari,”ujar Kepala Dinas Pariwisata NTT, Marius Ardu Jelamu, Jumat (26/1).

Marius menjelaskan, kegiatan itu dinamakan Festival Komodo karena komodo adalah branding dari Kabupaten Manggarai Barat yang masuk tujuh keajaiban dunia. Kegiatan yang masuk Calendar of Event 2018 premiere skala internasional ini akan melibatkan seluruh masyarakat Manggarai Barat. Tidak hanya warga Labuan Bajo saja, tetapi begitu banyak wisatawan mancanegara yang akan hadir.

“Kami akan mempromosikan kepada dunia luar tentang keindahan alam Manggarai Barat dan kemeriahan Festival Komodo ini. Ini juga merupakan upaya kami menghidupkan nilai budaya dalam pariwisata, dan tentunya terus memicu kedatangan wisatawan mancanegara,” ungkap Marius.

Acara ini akan menjadi kesempatan sempurna bagi wisatawan untuk menjelajahi keindahan Labuan Bajo dan pulau-pulau di Taman Nasional Komodo. Mulai dari pantai berpasir putih yang asli dan pantai pink juga ada. Kehidupan bawah lautnya menjadi pemandangan yang mengesankan. Dan tentu saja budaya yang unik dari masyarakat setempat sendiri.

Dijelaskan Marius, wisatawan akan diajak mengunjungi desa adat Papagarang yang memiliki banyak keunikan tersendiri selama festival berlangsung.

Desa Papagarang terletak di tengah antara Labuan Bajo, Pulau Komodo, dan Pulau Rinca. Di sini, terdapat sekumpulan pulau berpasir unik yang disebut pulau Sembilan yang bersama-sama membentuk bentuk angka sembilan. Uniknya, di tengahnya banyak Ubur-ubur yang terperangkap di laguna.

“Di sekitar Labuan bajo juga terdapat  desa nelayan tradisional suku Bajo dan Sape. Mereka memiliki tradisi pelayaran yang panjang di seluruh kepulauan Indonesia. Di pesisir barat desa, bisa ditemukan makhluk laut unik yang disebut dugong. Banyak yang menyebutnya “putri duyung” juga,” papar Marius.

Aksesibilitas ke Labuan Bajo juga telah ditingkatkan dengan bandara yang lebih besar dan lebih up-to-date. Pesawat jenis Boeing 737-800 sudah dapat mendarat di Bandara Komodo Labuan Bajo. Begitu juga dengan pelabuhan yang lebih besar ke Taman Nasional.

“Pengembangan lebih lanjut di bidang infrastruktur dan fasilitas terus dilakukan. Yang jelas bandara dan pelabuhannya sudah bagus,” cetuanya. Menurut Marius, peningkatan arus kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo didukung dengan lancarnya layanan penerbangan dari sejumlah rute ke Labuan Bajo. Seperti dari Kupang, Denpasar, dan Jakarta.

“Khususnya frekuensi penerbangan Jakarta-Labuan Bajo yang dilayani Maskapai Batik Air dan Garuda telah berdampak besar bagi peningkatan arus wisatawan,” katanya. Begitu juga dengan amenitasnya. Di Labuan Bajo terdapat 1.135 kamar itu, terdiri dari kamar hotel dan homestay. Hotel yang tersedia juga mulai dari kelas melati hingga berbintang. Yang terbaru dan unik adalah keberadaan hotel terapung. Yaitu kapal yang menyiapkan kamar-kamar inap di kabinnya.

“Hotel terapung ini makin banyak peminatnya. Terbukti jumlahnya terus bertambah. Homestay-homestay yang representatif juga akan kami siapkan saat festival berlangsung,” pungkas Marius. Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya pun semakin konkret mendorong Pulau Komodo dan Labuan Bajo sebagai destinasi prioritas. Tujuannya bukan sekadar mengangkat NTT sebagai next tourism territory berbasis bahari, tetapi juga menjanjikan budaya lokal di kawasan itu semakin hidup dengan industri kreatif.“Karena 60 persen wisatawan itu ke Indonesia untuk merasakan sensasi budayanya. Sedang keindahan alamnya 35 persen dan sisanya lima persen buatan,” ujar Menpar Arief Yahya.

Karenanya, jika daerah ingin industri pariwisata yang berkelanjutan, Menpar Arief Yahya mendorong pengembangan budaya. NTT pun sudah memiliki Festival Komodo yang sangat unik dan menarik.”Pemda setempat harus terus tingkatkan infrastrukturnya. Agar semakin layak menjadi destinasi kelas dunia,” tukaa Menpar Arief Yahya.(*) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here