1.500 Siswa Ikuti Pelatihan Pengolahan Sampah KLHK

0
290

LIPUTAN1.COM–Sektor hulu Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) kembali disentuh. Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2018, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar pelatihan pengolahan sampah untuk 1.500 pelajar di Bandung, Minggu (21/1).

Undang Undang Nomor 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, sudah sepuluh tahun bergulir. Namun permasalahan sampah masih menjadi isu yang serius di Indonesia. Untuk itu kepedulian serta keterlibatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah perlu ditingkatkan, khususnya generasi muda.

“Edukasi itu bertujuan mengajak generasi muda, khususnya anak-anak sekolah (SD-SMP-SMA) untuk mulai berpartisipasi, peduli dan menumbuhkan kesadaran mengelola sampah untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat melalui pengelolaan sampah,” kata Menteri KLHK Siti Nurbaya, Minggu (21/1).

Edukasi bertema “Gembira Bersama Kelola Sampah Menuju Hidup Bersih dan Sehat” itu menggandeng berbagai pihak. Dari mulai komunitas, duta lingkungan, praktisi dan penggiat daur ulang, asosiasi daur ulang plastik, perguruan tinggi serta dunia usaha.

“Kita harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Semua harus berkolaborasi dalam mewujudkan kesadaran dan kepedulian pengelolaan sampah yang bersih dan berkelanjutan ,” kata Menteri KLHK.

Salah satu yang ikut berkoloborasi untuk memberikan pelatihan di acara tersebut adalah Gerakan Cilwung Bersih (GCB). Sebagai salah satu gerakan yang concern terhadap isu lingkungan hidup, GCB pun merasa terpanggil untuk ikut ambil bagian.

“Kepedulian lingkungan harus ditanamkan sejak dini. Kami juga ingin

merangsang para pelajar dengan kreatifitas. Mereka harus tahu, sampah

bisa didayagunakan. Bisa mendatangkan keuntungan ekonomis juga. Sejauh

ini respon mereka luar biasa,” papar Ketua Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) Peni Susanti.

Kepada siswa, GCB pun bercerita soal daur ulang sampah. Muaranya

produk kerajinan tangan. Plastik pembungkus, kertas bekas disulap menjadi produk yang memiliki value baru.

GCB juga memperkenalkan cara membuat sampah menjadi sumber energi. Caranya dengan konsep TOSS (Tempat Olah Sampah Setempat) . Dengan TOSS sampah bisa langsung diolah dengan poses ‘peuyeumisasi’. Pemadatan pun dilakukan melalui briketisasi, lalu diteruskan gasifikasi. 

Briket ini bisa dipakai sebagai bahan bakar. Sementara untuk menghilangkan bau ditambahkan bio activator. 

“Sampah jika diolah dengan baik bisa menjadi peluang bisnis. Ini menjadi penting. Problem sampah bukan hanya terselesaikan tetapi menjadi lahan ekonomi baru,” ujar Sarmili, salah satu penggiat GCB yang ikut memberikan pelatihan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, penguatan karakter ramah lingkungan sejak dini lebih efektif. Program kepedulian lingkungan memang harus ditanamkan sejak dini.

“Peduli lingkungan harus ditanamkan sejak dini. Minimal, tidak buang

sampah sembarangan. Kalau hal ini dilakukan, komponen Environment Sustainability Indonesia akan naik dengan sendirinya,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here