Menggali Identitas Baru Kuliner dengan Food Go International di STP NHI Bandung

0
395

LIPUTAN1.COM-Jawa Barat terus menggali potensi kekuatan kulinernya. Slogan ‘Food Go International’ terus ditiupkan dalam konsep seminar nasional plus kompetisi masak, Jumat (22/12). Generasi milenial Bumi Parahyangan pun optimistis bisa menerbangkan lebih banyak lagi jenis kuliner agar mendunia.

Sama seperti wilayah nusantara lainnya, Jawa Barat juga kaya akan ragam kuliner khasnya. Menyadari besarnya potensi yang dimilikinya, berbagai strategi pun dilakukan. Memanfaatkan momentum jelang pergantian tahun 2017, Kementerian Pariwisata bekerjasama dengan Indonesian Chef Association (ICA) menggelar seminar nasional di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung, kemarin. Tema yang dipasang adalah ‘Promosi Pesona Indonesia Melaui Makanan ke Dunia Internasional dan Fun Cooking Competition’. 

Menyajikan beberapa pembicara, diantaranya Ketua BPD ICA JABAR Chef Anton Kuswendi dan Ketua Akademi Gastronomi Indonesia Vita Datau Messakh, seminar ini diikuti sebanyak 80 peserta. Sebanyak 50 nama berasal dari kalangan chef profesional, lalu sisanya adalah journalist. Terlihat sangat antusias, mereka lalu membedah beberapa kuliner Indonesia yang terkenal menurut teritorial, sejarahnya, hingga bisa go international.

“Seminar nasional menjadi media untuk terus mengenalkan kuliner Indonesia sebagai makanan kelas dunia. Lalu, kuliner Indonesia juga bisa diterima di semua kalangan melalui hasil olahan tangan-tangan terampil chef Indonesia. Sebab, chef-chef Indonesia juga bisa bersaing dengan chef mancanegara. Selain itu, kita bisa dorong Nasi Goreng menjadi Food Ambassador kuliner Indonesia,” jelas Ketua STP NHI Bandung Anang Sutono.

Dari hasil diskusi dalam seminar, diketahui bahwa potensi kuliner Indonesia terletak pada kekuatan rempahnya. Menggunakan rendang sebagai ilustrasinya, kuliner khas Padang tersebut dibangun dari cita rasa full rempah-rempah. Mengacu unsur itu, peserta yang juga terdiri dari chef muda generasi milenial lalu memetakan potensi lain kuliner Jawa Barat. Harapannya, dari sekian banyak kuliner unik dan bercita rasa nikmat, ada beberapa nama baru yang bisa didorong untuk memperkaya identitas Jawa Barat lalu go international.

“Kuliner nusantara termasuk yang ada di Jawa Barat itu bagian dari kekayaan budaya bangsa. Dengan banyaknya potensi yang dimilikinya, diperlukan bagaimana mengemasnya jadi lebih baik. Kami percaya dengan kemampuan talenta-talenta di sini,” terang Anang.

Mendekatkan kuliner khas nusantara sekaligus merangsang kreativitas generasi milenial, Fun Cooking Competition pun digelar. Memakai konsep game ala program kuliner televisi nasional, kompetisi ini bertujuan menguji pemahaman serta kreativitas peserta terkait kuliner nusantara. Dituntut melakukan ivovasi dan membangun image baru atas bahan baku lokal yang diletakan di tengah area kompetisi, peserta pun dibagi menjadi 17 tim. Setiap tim terdiri dari dua chef muda dan seorang journalist.

Atas pertimbangan non teknis, beberapa peserta tidak diikutsertakan dalam Fun Cooking Competition ini. Hanya diberi waktu satu jam untuk menyajikan dua menu olahan, setiap tim diberi kekebasan untuk mengolah berbagai bahan baku yang sudah disediakan. Bahan baku yang disediakan seperti, aneka jenis bumbu rempah, nasi, ikan, daging, ayam, dan beragam sayuran. Hasilnya, peserta memilih membuat nasi goreng dengan beragam varian. 

“Chef yang sudah profesional tidak diikutsertakan saat lomba. Waktunya memang sangat singkat, wajar bila nasi goreng menjadi pilihan utama. Peserta bisa belajar dari nasi goreng. Membuat nasi goreng yang bercita rasa enak itu juga sebenarnya tidak mudah,” kata Nata Widya Budhayani yang menjadi Panitia Seminar Nasional Promosi Pesona Indonesia Melaui Makanan ke Dunia Internasional dan Fun Cooking Competition.

Nasi goreng memang menjadi elemen penting yang menambah warna kuliner nusantara bahkan sangat terkenal di mancanegara. Meski terlihat sederhana, peserta Fun Cooking dituntut menempatkan rasa rempah-rempah yang tepat. Teknik plating mewah pun menjadi pertimbangan dalam penilaian. Hadiah berupa plakat, piagam, dan aneka merchandise pun diberikan bagi peserta yang mampu menyajikan menu olahan dengan kriteria tersebut. 

“Indonesia berada di rating tujuh dunia untuk kuliner. Prestasi ini tentu harus diapresiasi dengan terus meningkatkan kualitas chef dan para pelaku kulinernya di tanah air. Dan, kuliner itu jadi elemen sangat penting untuk mengangkat pariwisata daerah. Kami berharap semakin banyak makanan Indonesia pada kancah internasional, selain tetap jadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Ketua BPD ICA JABAR Chef Anton Kuswendi.

Berbagai upaya memang terus dilakukan pemerintah untuk menjual kuliner Indonesia. Beberapa waktu lalu, KBRI Wellington menggelar promosi kuliner di Apia, Samoa, 18-19 Desember 2017. Jawa Barat pun mendapat apresiasi setelah menyajikan Soto Bandung beserta kesegaran es telernya. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti menjelaskan, kuliner memang tidak bisa dipisahkan dengan setiap destinasi wisata. Menjadi daya tarik tersendiri, pengembangan kreativitas dan menciptakan ikon kuliner yang kelas dunia pun sangat diperlukan.

“Seminar seperti ini dengan aneka kemasan acaranya tentu sangat penting. Kami selalu berharap ada ikon baru untuk kuliner di setiap daerah. Sebab, wisatawan yang berkunjung ke sebuah destinasi pasti akan mencari juga kulinernya. Dan perlu diingatkan lagi, pergerakan ekonomi pariwisata dari kuliner dan belanja itu cukup tinggi,” terang Esthy.

Mengacu pergerakan ekonomi industri pariwisata sampai pertengahan September lalu, kebudayaan memang menjadi penghasil inkam terbesar sampai 60%. Eksotisme alam dari destinasi wisata hanya menghasilkan inkam 35%, lalu sisanya 5% berupa manmade. Hebarnya lagi, wisata belanja dan kuliner menjadi elemen penopang penting kebudayaan dengan donasi sampai 45%. “Kuliner di sini mempunyai potensi besar. Tinggal dikembangkan agar go international. Kuliner, khususnya tradisional, juga harus dikemas agar memiliki nilai komersial selain cultural,” tandas Menteri Pariwisata Arief Yahya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here