Banyuwangi Heboh dengan Kolaborasi Gandrung Sewu dan Wayang Ajen

0
459

BANYUWANGI – Pertunjukan spektakuler Wayang Ajen, (16/12) sukses menghebohkan Banyuwangi. Tarian Gandrung Sewu dan Mojang Priangan membuat gelaran Wayang Milenial ini semakin lengkap.

Taman Blambangan menjadi panggung perhelatan ini. Pertunjukan apik perpaduan unsur budaya Jawa Timur dan Barat ini terselenggara berkat kolaborasi Kementerian Pariwisata dan Pemda Banyuwangi. 

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti mengatakan, kolaborasi kesenian tradisonal dari dua daerah ini mewakili Bhinneka Tunggal Ika, semboyan Indonesia.

Meskipun berbeda tetapi memiliki misi satu, melestarikan budaya nusantara. Kolaborasi itu disampaikan dalam pertunjukan dengan kemasan menarik perhatian penonton.

“Pertunjukan ini bukan sekedar pentas, tapi pesan moral disampaikan, ini esensi pertunjukan wayang. Bukan sekedar kolaborasi, tetapi sebagai tontonan dan tuntunan, tontonan lebih menarik mampu mengikat penonton dengan sajian kemasan unsur-unsur pertunjukan. Serta dalang mampu menyampaikan tema lakon dan pesan moral,” kata Esthy didampingi Kepala Bidang Promosi Wisata Budaya Wawan Gunawan di Banyuwangi, Sabtu (16/12).

Mengenai wisata budaya, Wawan melanjutkan, Bayuwangi memang memiliki sejumlah kesenian tradisonal yang unik dan menarik. Menangkap moment itu, Wayang Ajen mengkolaborasikan antara penari Gandrung Sewu khas Banyuwangi dengan Tarian Mojang Priangan. Semua saling berpadu menghasilkan tarian spekuler. 

“Saling mersepon, mengisi ruh ditarian itu satu sama lain. Itulah yang namanya persahabatan budaya, membangaun kebersamaan dalam format yang berbeda tetapi ujungnya satu yaitu melestarikan budaya,” ujar pria sekaligus sang dalang dengan nama beken Wawan Ajen.

Kolaborasi berlanjut dengan lakon Cepot Dawala Gareng beradu lucu dengan pelawak  asli dari Banyuwangi yaitu Memet dan Sri Pesek. Para penonton dibuat ngakak oleh cepot yang malam itu menggunakan udeng putih khas Banyuwangi, disampaikan guyonan Jawa dengan bahasa antara sunda dan osing.

“Madyang rujak soto winak ikae, cepot langsung beradaptasi, bahasa Osing dari Bayuwangi dipakai cepot dan jadi lawakan yang menghibur penonton. Tidak itu saja, gagasan kreatif Menpar Arief Yahya selalu disampaikan dalam pertunjukan wayang baik berupa prolog,monolog maupun dialog wayang,” kata Ki Dalang Wawan Ajen.

Kelompok wayang kebanggaan tanah air ini telah mendapat apresiasi di 51 negara, bukan cuma menyuguhkan hibuan semata. Namun tetap menonjolkan dengan nilai-nilai budaya. 

Konsep pertunjukan ini selalu memikat mata, seperti sebuah pertunjukan  didukung juga penataan artistik panggung, keserasian tata cahaya, serta kostum harmonis.

“Kami banyak berharap kepada penonton baru. Bagaimana menggiring anak muda yang tidak suka Wayang. Bisa melirik, merenung, dan menikmati wayang, kalau anak muda sudah kena soulnya nantinya Wayang ajen ini akan mendapat tempat sendiri di anak muda millenial saat ini,” ujarnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut baik digelarnya pertunjukan Wayang Ajen yang juga sebagai bagian dari promosi Pesona Indonesia. Sehingga diharapkan dapat menjadi atraksi serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Banyuwangi. 

Pementasan Wayang Ajen di mata Arief merupakan salah satu daya tarik budaya  memiliki peranan penting dalam pariwisata Indonesia. Minat wisatawan untuk berkunjungan ke Indonesia, terutama wisatawan mancanegara, 60 persen dipengaruhi oleh budaya dan kearifan lokal.

“Pertunjukan  budaya ini menyentuh hati nurani masyarakat menjadi program Kemenpar ataupun dinas-dinas di daerah, akan menjadi daya tarik positif, sehingga berpengaruh dalam peningkatan kunjungan wisman dan wisnus,” ujar Menpar Arief Yahya, menteri asli Banyuwangi ini.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here