Lebih Dekat dengan La Nyalla : Gunakan Alquran sebagai Inspirasi

0
326

LIPUTAN1.COM, Nama Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti belakangan makin santer dibicarakan di Jawa Timur, seiring berlangsungnya agenda dan persiapan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur di tengah tahun 2018 mendatang.

Sosok La Nyalla memang sudah cukup dikenal. Baik melalui beragam organisasi yang dia geluti, mulai dari Kadin, La Nyalla Academia, Pemuda Pancasila hingga PSSI. Maupun melalui sifat pribadinya yang terbuka, egaliter dan tak membedakan orang yang dikenal atau mengenalnya.

Namun, belum banyak orang mendalami dan mendengar pikiran-pikiran orisinal La Nyalla, yang selama ini lebih banyak dia wujudkan dalam aktivitas kesehariannya.

Dalam diskusi atau obrolan ringan, hingga chat whatsapp yang dia kirim ke kolega atau teman-temannya, pikiran-pikiran La Nyalla mengalir jernih menjadi rangkaian visi-misi dan cita-cita hidupnya, yang patut diteladani. Mengapa patut diteladani? Karena La Nyalla selalu mengambil semua hikmah itu dari agama yang dia anut. Melalui Al-Quran dan penyampainya, Rasulullah SAW.

Berikut pokok-pokok pikiran La Nyalla yang dirangkum dalam tanya-jawab seputar falsafah hidup dan cita-cita seorang Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti. Petikannya:

— Sebenarnya apa prinsip dasar Anda dalam menjalani kehidupan ini?

Sebenarnya sangat sederhana. Tapi mendasar. Saya tidak ingin menjadi orang yang merugi. Itu yang ada dalam pikiran saya. Karena semua orang pada hakekatnya merugi. Kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh. Ini prinsip dasarnya.

Inilah visi hidup pribadi saya. Karena janji Allah SWT di Alquran, orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, akan kekal di surga. Itu pasti. Karena itu janji Allah SWT. Dan Allah SWT mengatakan mereka itulah pewaris bumi ini. Karena Allah SWT ridlo kepada mereka untuk mengelola bumi ini. Itu sejatinya.

Oleh karena itu, harus ditindaklanjuti dengan misi di dalam pribadi kita untuk menjalankan visi itu. Apa itu? Pastikan kita beriman. Mukmin. Beriman kepada Allah SWT, beriman kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan seterusnya. Dan itu harus diwujudkan dengan keyakinan yang kuat di hati. Dikatakan dalam lisan dan dijalani dengan perbuatan.

Lalu, kita perbanyak amal sholeh yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Sehingga ini menjadi perpaduan antara hablum-minallah dan hablum-minannas.

Ada banyak amal sholeh. Mulai dari yang sederhana sampai yang berat. Amal sholeh yang sederhana tetapi dicintai Rasulullah SAW adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam dada saudaranya. Artinya bermanfaat bagi sesama. Membantu saudara kita yang kesulitan. Bahkan itu lebih dicintai Rasulullah SAW daripada sebulan penuh itikaf di masjid Nabawi.

Itulah kenapa di dalam Alquran ada puluhan ayat di beberapa surat, dimana Allah SWT mengulang-ulang tentang keutamaan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.

Itu menjadi prinsip atau boleh dikatakan visi hidup saya pribadi.

— Prinsip yang sangat mendasar. Apakah hanya sebatas pribadi Anda?

Beriman dan beramal sholeh awalnya kan prinsip individu saya. Nah dalam berorganisasi, prinsip ini saya jalankan. Sehingga kalau kita bersama-sama, tentu cakupannya lebih luas dan lebih besar, ketimbang saya pribadi.

Itulah kenapa di Kadin Jatim, saya galang pengusaha-pengusaha untuk berbagi dengan saudara-saudara yang lain secara rutin. Sudah ada mekanismenya. Tidak perlu saya sebutkan bagaimana dan siapa serta berapa banyak yang kita sisihkan. Begitu juga di Pemuda Pancasila. Termasuk di yayasan yang saya dirikan, La Nyalla Academia. Lebih fokus ke situ. Karena itu tagline Yayasan La Nyalla Academia itu bunyinya; bersama untuk kebaikan. Itu perwujudan dari amal sholeh.

Dan aktivitas La Nyalla Academia itu sebenarnya bukan akhir-akhir ini. Sudah hampir 19 tahun saya jalani. Tetapi dulu mungkin belum ada media sosial, sehingga tidak menyebar atau tidak terpublikasi. Sekarang teman-teman relawan di La Nyalla Academia punya grup whatsapp, ada facebook dan lain-lain, sehingga menyebar ke mana-mana.

— Jadi bukan karena menjelang Pilgub Jatim?

Bukan.

— Tapi ada cita-cita untuk menjadi Gubernur atau Wakil Gubernur Jatim?

Menjadi Gubernur itu bukan cita-cita. Itu ikhtiar saya untuk semakin memperluas ladang amal kita. Karena saya melihat kekuasaan itu hanya alat. Hanya sarana saja, untuk memperluas kebaikan yang bisa kita sebarkan.

Makanya dalam ikhtiar saya mencalonkan diri sebagai Gubernur Jatim, saya memprioritaskan program yang mungkin berat bagi sebagian orang, yakni mengatasi kemiskinan dan membangun Jawa Timur yang berkeadilan sosial.

Sebab jujur saja, angka kemiskinan di Jatim masih di atas rata-rata angka kemiskinan nasional. Angka kesenjangan juga masih di atas nasional. Artinya ada persoalan mendasar, kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Sebenarnya dua hal itu lingkaran yang saling terkait.

— Anda cukup berani mengusung target yang berat, Anda yakin mampu?

Saya sejak dulu punya prinsip pantang menyerah. Kesulitan pasti ada. Tapi kalau kita serius dan sungguh-sungguh, pasti ada jalan. Apalagi untuk kebaikan. Pasti Allah SWT bukakan jalan. Saya punya keyakinan sendiri.

Tentu, sebagai sebuah ikhtiar, kalkulasi rasionalnya harus ada. Kuncinya, kalau Gubernur Jatim bisa menyatukan irama dan langkahnya dengan kekuatan 29 Bupati dan 9 Walikota di Jatim, insya Allah tidak ada yang tidak bisa kita selesaikan. Ingat salah satu doktrin Pancasila, gotong royong. Kekuatan APBD Provinsi Jatim sekitar 23 triliun rupiah. Tapi kalau ditambah dengan kekuatan 38 kabupaten/kota menjadi 100 triliun lebih. Tinggal kita mau serius atau tidak? Kuncinya bersatu. Kompak, antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.

— Kalau tadi Anda bilang menjadi Gubernur bukan cita-cita, mengapa berikhtiar menjadi Gubernur?

Kalau ditanya cita-cita, jawabnya cuma dua; cita-cita saya di bumi ini adalah yang pertama; meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dan yang kedua, Allah SWT ridlo dengan amalan-amalan saya. Itu cita-cita saya.

Ikhtiar menjadi Gubernur seperti saya sebutkan tadi, harus memaknai kekuasaan “hanyalah” alat atau sarana untuk memperluas amal sholeh tadi. Seperti ketika saya didaulat untuk memimpin Kadin Jatim atau Pemuda Pancasila, saya meyakini saya bisa menggunakan Kadin dan Pemuda Pancasila sebagai alat atau sarana untuk memperluas ladang amal kita. Yang dirasakan manfaatnya oleh anggotanya.

Kalau di organisasi, manfaatnya kan dirasakan oleh anggotanya. Kalau Gubernur, manfaatnya harus dirasakan oleh rakyat Jawa Timur. Jadi niatnya harus itu. Sehingga Allah SWT ridlo, insya Allah.

— Pendekatan Anda Islami banget ya?

Karena saya muslim. Itu saja. Saya tidak tertarik berdiskusi tentang kelompok-kelompok. Karena yang paling punya hak atas agama Islam adalah Allah SWT. Yang paling superior adalah Allah SWT. Jadi disebut apakah orang yang tunduk kepada Allah SWT? Muslim. Jadi saya tidak mau menerima cap apapun atau kelompok apapun di dalam Islam, selain muslim.

Karena saya memeluk agama Islam. Dan Islam punya dua kutub, vertikal dan horizontal. Yang pertama kutub vertikal, kita berserah diri, tawakal, tunduk dan taat kepada Allah SWT sebagai Tuhan semesta alam.

Kedua, dalam kutub horizontal, makna Islam berarti damai. Sebagai muslim, kita harus menjaga kedamaian di bumi, baik damai kepada sesama manusia maupun damai kepada makhluk lainnya seperti tumbuhan, hewan, lingkungan dan semuanya.

Karena itu saya sejak dulu merangkul semua golongan. Semua karakter dan kelompok ada di organisasi yang saya ikuti. Di Pemuda Pancasila atau pun di Kadin Jatim, ada semua kelompok dan golongan. Saya tidak membeda-bedakan. Saya rangkul semua.

Makanya ada teman-teman dekat saya yang mungkin juga punya pertanyaan itu. La Nyalla ini sebenarnya “alirannya” apa. Mungkin ada pertanyaan itu. Karena kalau di rumah, saya menggelar sholat tarawih Ramadhan 11 rekaat, tetapi saya juga ziarah ke makam wali-wali. Itu bagi saya pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Karena kalau ditanya pasti akan saya jawab saya muslim. Karena Allah SWT itu hakekatnya mengikuti prasangka hambanya. Selama kita berprasangka baik, insya Allah itu baik.

— Selama ini banyak yang menilai Anda identik dengan sosok preman, bukan sosok yang religius. Apa komentar Anda?

Itu sudah lama. Dan saya dari dulu punya prinsip saya tidak akan menjelaskan siapa saya. Apa yang saya lakukan dalam konteks tuduhan orang soal saya preman. Karena kan ada pernyataan begini, tidak perlu menceritakan siapa Anda, karena orang yang suka kepada Anda tidak perlu itu, dan orang yang tidak suka kepada Anda, tidak akan percaya. Jadi ya biar Allah SWT yang menilai.

Menurut saya sebaiknya pertanyaan seperti ini ditanyakan kepada orang-orang yang tahu siapa saya, atau yang mengikuti perjalanan saya. Tahu bagaimana saya sebelum usia 40 tahun, dan tahu bagaimana saya setelah usia 40 tahun. Ada banyak saksi hidup perjalanan saya. Salah satunya Profesor Sam Abede Pareno, yang menulis buku tentang saya, yang diberi judul Hitam-Putih.

Saya hanya punya prinsip, orang yang masa lalunya pernah dinilai buruk, apakah tidak bisa menjadi baik? Apakah sejarah Rasulullah SAW tidak diwarnai dengan beberapa sahabatnya yang dulunya hidup di era jahiliyah, lalu menjadi sahabat dan pejuang Islam? Bukankah memang fungsi Islam itu membawa kita dari dzulumat atau era kegelapan kepada nur, era kebenaran? Itu saja yang bisa saya ceritakan soal ini. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here