Kesadaran Desa Dalam Memanfaatkan Potensi Pariwisata

0
527
Jpeg
LIPUTAN1.COM, JAKARTA-Potensi pariwisata di sebuah desa memang menjadi modal penting dalam meningkatkan roda perekonomian untuk masyarakat sekitar, namun demi mencapai mimpi itu diperlukan langkah-langkah tepat dan strategis.
Hal itu bisa menjadi sumber penting jika dikelola dengan tepat, tidak hanya dari pemanfaatan anggaran desa yang dikucurkan pemerintah pusat yaitu sebesar Rp. 60 triliun dari RAPBN 2017, namun juga diperlukannya strategi yang tepat guna, sehingga dana tersebut bisa dimaksimalkan secara tepat.
Kondisi inilah yang sedang dilakukan dan digali pemerintah Jokowi dan JK selama tiga tahun masa jabatannya, yang dituangkan dalam diskusi Rembuk Nasional 2017 di bidang Membangun Desa Berbasis Wisata, Budaya dan Industri Kreatif di JIEXPO, Kemayoran Senin (23/10).
Di Ketuai Irfan Wahid, MA, diskusi ini menghadirkan beberapa nara sumber penting seperti Dr. Aries Muftie, SE. SH. MH, M. Dony Oscaria dan lainnya. Dimana diskusi tersebut membahas tentang pelaksanaan kerja yang telah dilakukan pemerintahan Jokowi-JK, dan mencari solusi kedepan disisa masa tugas dua tahunnya.
Irfan sendiri menjelaskan bahwa pihaknya mencatat 13 temuan dilapangan secara langsung yang dialami perkembangaan desa yang berbasis wisata, budaya dan industri kreatif, dimana terdapat kendala-kendala yang sulit dihadapi dan memerlukan solusi yang tepat sehingga desa menjadi bagian penting kemajuan pariwisata.
“Desa salah satu nawacita program Jowoki-JK yang bisa membangun dari pinggiran dengan program unggulan, yaitu pariwisata. Namun selama kami melihat langsung ada 13 temuan kami, diantaranya kriteria desa wisata yang mandiri, tumbuh dan merintis adfa desa wistaa. Namun beberapa desa wisata yang dikembangkan pariwisatanya terkendala minimnya anggaaran. Penggunaan dana desa tidak dimanfaatkan secara tepat dalam memicu perkembangan pariwisata melain untuk kebutuhan desa. Minimnya tokoh penggerak desa yang bisa mengekseki dan mengemnbangkan potenbsi daerahnya. Dana desa sejatinya sumber pendaan bagi desa yang memiliki untuk potensi desa. Kawasan desa yang punya potenso wisata punya restruktur aset. Hambatan Kemenpar yang hanya memiliki kewenangan koordinatif. Minimnya pemahaman UMKM digital, sehingga tidak bisa mendorong ilmu digital marketing. Terdapat 83 pesen UMKM tidak berbadan hukum. Pemerintah ingin jadikan pariwisata dan induastri kreatif program unggulan, namun tidak didukung daya dukung desa unutk mempercepat pertumbuhan,” kata Irfan.
Untuk itulah sebelum menciptakan sebuah desa menjadi basis wisata, budaya dan industri kreatif, ada kesiapan serta kesadaran akan di keberadaan pariwisata itu sendiri. Hal itulah yang ditegaskan Dony Oscaria sebagai salah satu pakar dalam diskusi rembuk nasional. Dirinya mengingatkan bahwa potensi desa mampu memberikan kontribusi perekonomian pada 2017 jika dilengkapi dengan pemahaman pariwisata.
“Pemahaman pariwisata sangat sedikit, tidak dimiliki semua orang karena hal tersebut merupakan industri. Dimana dalam mempersiapkan sebuah industri, tidak hanya memerlukan potensi yang ada, melainkan diperlukan kesiapan setiap desa dalam mengelolanya. Selain itu menyadari banyaknya jumlah kunjungan yang dikelola menjadi dampak ekonimi yaang secara langsung dirasakan masyarakat sekitar,” tutur Dony.
Langkah ini perlu dilakukan karena dalam setiap kunjungan turis, baik dari dalam maupun luar negeri ada dua tujuan berbeda, dimana ada wisatana yang tujuannya ingin mengetahui dan mengunjungi karakteristik sebuah wilayah dan tempat sejarah. Kedua tipe wisatawan yang memiliki minat khusus secara pribadi.
“Pemahaman pengembangan pariwisata itulah yang bisa menarik peminat wisatawan, untuk itulah pariwisata didesain orang profesional, serta harus ada destinasi yg utama dan alokasi maksimnal sehingga menarik didatangi orang. Dimana melalui prodak desain tersebut bisa menjadi nilai jual penting, yang kemudian kita bisa menciptakan Sumber Daya Manusia lalu menentukan target pasar melalui,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here