Parade Perahu Hias Siap Ramaikan Festival Selat Lembeh 2017

0
643

LIPUTAN1.COM, JAKARTA – Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) 2017 kembali digelar di Bitung, Sulawesi Utara, 6-10 Oktober 2017 mendatang. Ratusan perahu hias yang tergabung dalam Sailing Pass dari kapal kecil, kapal perang (KRI) hingga kapal pesiar akan meramaikan festival yang mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata itu.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti mengatakan FPSL yang sudah kali ke-2 didukung Kemenpar ini, sebelumnya merupakan hajatan yang diinisiasi komunitas nelayan dan pengusaha perikanan Kota Bitung dan bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bitung, sebagai perwujudan rasa syukur atas hasil laut yang berlimpah.

“Selat Lembeh dijadikan nama festival karena selat yang menghubungkan daratan utama Pulau Sulawesi dengan Pulau Lembeh itu, telah lama menjadi tujuan wisatawan asing maupun lokal, berkat pesona bawah lautnya,” ujar Esthy di Jakarta, Senin (1/10).

Festival yang diselenggarakan selama 5 hari ini akan dibuka dengan parade perahu hias. Parade ini diharapkan bisa menjadi trademark sendiri bagi Kota Bitung yang memiliki potensi bahari yang luar biasa.

“Jika menyebut olaharaga balap sepeda, otomatis yang ada dipikiran kita langsung menuju Tour de Singkarak. Bila festival fashion, ke Jember Fasion Carnaval. Begitu juga dengan parade perahu hias, masyarakat nantinya akan tertuju kepada Festival pesona Selat Lembeh ini,” ujar Esthy.

Seirama dengan Esthy Reko Astuti, Walikota Bitung Maximiliaan Jonas Lomban mengatakan, parade kapal hias yang adanya di selat Lembeh. Akan menjadi tradmark FSPL kali ini selain budaya, perikanan, kuliner dan Industri yang juga menjadi salah satu leading sector di Kota Bitung.

“Hingga saat ini ada 3 KRI yang menuju Selat Lembeh, Kapal dagang, perahu taksi. Kedepannya nanti kita akan arap lebih banyak lagi, seperti kapal cruise dan para yachter dari luar negri untuk singgah di Bitung. Secara infrastruktur kita sudah siap, selama setahun ini ada 4 kunjungan cruise yang berisi 8 ribu orang berlabuh di Bitung, bukan lego jangkar,” ujarnya.

Max samapaan akrab Maximiliaan Jonas Lomban menyebut, Kota Bitung dianugerahi keindahan alam yang mempesona. Di Selat Lembeh terdapat 95 titik penyelaman yang berisikan hewan-hewan bawah laut yang unik dan menarik yang tidak dapat dilihat di lokasi diving lain di Indonesia. Selain itu Kota Bitung juga menjadi tujuan wisata adventure dengan mengandalkan Cagar Alam Nasional Tangkoko.

“Cagar alam disana sebagai rumah bagi ratusan mamalia, burung, reptil serta amfibi termasuk dua jenis primata endemik Sulut yang terancam punah yaitu Yaki dan Tarsius, serta tiga kawasan ekowisata; Ekowisata Pintu Kota, Ekowisata Kareko, dan Ekowisata Pasir Panjang dengan menyusuri hutan mangrove,” ujarnya.

Penyelenggaraan FPSL 2017 akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan antara lain; lari 10K, lomba/pentas seni budaya, photograpy competition bawah air dan landscape, festival kuliner, lomba renang Selat Lembeh, parade/ lomba perahu hias, rekor MURI menari Manekin terbanyak (katrili/ pato-pato), parade yacht, festival tuna, dan perayaan menyambut HUT Kota Bitung sebagai puncak acara.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut, FSPL ini merupakan upaya mempromosikan dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Bitung yang ditetapkan sebagai international hub sea port dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). “Serta terus didorong menjadi kawasan industri dan perdagangan, kota pelabuhan internasional, kota perikanan, kota konservasi alam, serta kota pariwisata dunia,” ujarnya.

Menpar Arief Yahya juga menyambut baik gelaran Festival Pesona Selat Lembeh 2017 dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan ke Sulut yang tahun lalu dikunjungi 1,8 juta wisnus dan 30.000 wisman, atau sebanyak 13.019 wisman dan 20.133 wisnus di antaranya mengunjungi Kota Bitung.

“Posisi Kota Bitung sangat strategis karena secara internasional berada di bibir Pacific (Pacific Rim). Dengan ditetapkan sebagai IHP dan KEK, pengembang potensi kota ini sebagai kota industri, kota pariwisata dunia, dan kota konservasi alam akan lebih cepat,” kata Menpar Arief Yahya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here