Disertakan di Olimpiade 2020, Panjat Tebing Indonesia Harus Serius

0
389
Istimewa

LIPUTAN1.COM, CIKOLE-Pihak Komite Olimpiade Internasional (IOC) memastikan bahwa panjat tebing menjadi cabang olahraga (cabor) baru yang akan dipertandingkan di Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang.

Menurut Ketua Panpel test event panjat tebing untuk Asian Games 2018,  Rudy Fitriano, bahwa IOC sudah memberikan informasi tersebut, namun nantinya akan ada perbedaan format pertandingan, dimana sang atlet harus mengusai tiga nomor.

“Pertandingan di Olimpiade menggunakaan format berbeda, karena olimpic games. Artinya, seorang atlet harus bertanding atau menguasai tiga nomor sekaligus, yakni Lead, Boulder dan Speed. Meski demikian, kita bersyukur karena ini gebrakan baru,” papar Rudy yang juga Ketua Bidang Kompetisi Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI), kepada wartawan di Cikole, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (9/9).

Selain panjat tebing, ada empat cabor baru yang dipertandingkan di Olimpiade 2020, yakni bisbol/sofbol, selancar, karate dan skateboard. Kelima cabor tersebut sebetulnya bukan kali pertama masuk Olimpiade.

“Infomasi dari Presiden Federasi Olahraga Panjat Internasional (IFSC), di Olimpiade 2024, panjat tebing tidak mau itu, inginnya jadi 10 nomor event.  Tapi karena kita baru dipertandingkan di 2020, sangat membutuhkan kerja keras dari pengurus-pengurus kita di internasional untuk terus memperjuangkan itu,” tuturnya.

Dengan menjadi cabor resmi Olimpiade, panjat tebing juga diharapkan bisa dilombakan kembali di SEA Games 2019 di Filipina. Sedangkan terkait peluang Indonesia yang dinilai berat, namun PP FPTI tetap optimis demi melanggengkan pembinaan.

“Indonesia bisa berbicara di nomor Speed yang diperhitungkan dunia. Pokoknya, mental atlet asing pasti goyang kalau melihat atlet kita yang turun.  Tapi untuk Olimpiade (2020), memang sangat berat. Utamanya, karena kuotanya untuk Asia hanya dua,  satu putra dan putri.  Tidak ada negara yang berani bilang atau menjamin bisa masuk, khususnya dari Asia. Saingan terberat kita dari Jepang, Cina dan Korea. Karena itu, kita terus merancang strategi-strategi. Paling tidak, kita bisa berprestasi dengan memperbanyak event,” tambahnya.

“Dengan begitu, atlet banyak kesempatan berlatih dan mempersiapkan diri. Salah satunya dengan National Series, seperti ini di Cikole, yang diharapkan bisa digelar sebanyak empat kali dalam satu tahun, ini berbeda dengan Kejurnas,” imbuhnya.

Karena itu, Rudy juga berharap venue panjat di Palembang bisa dimanfaatkan secara luar biasa usai pelaksanaan Asian Games 2018 dan akan mendapat dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam melaksanakan event-event sekelas Asia maupun internasional atau dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here