Wow, 50 Ribu Wisatawan Terpukau Atraksi Perang antar Suku di Festival Lembah Baliem 2017

0
813
Wow, 50 Ribu Wisatawan Terpukau Atraksi Perang antar Suku di Festival Lembah Baliem 2017

Liputan1.com-Wow, 50 Ribu Wisatawan Terpukau Atraksi Perang antar Suku di Festival Lembah Baliem 2017

Atraksi Perang Terbuka antar suku terjadi yang di Lembah Baliem benar benar membuat lebih dari 50 ribu wisatawan terpukau sekaligus menjadi saksi kehebohan hari pertama Fesival Lembah Baliem 2017

Festival Lembah Baliem ini akan digelar selama 3 (tiga) hari, mulai tanggal 8-11 Agustus 2017 bertempat di Distrik Welesi, Lembah Baliem Kabupaten Jayawijaya.

Bupati Jayawijaya Jhon Wempi Wetipo mengharapkan agar festival budaya Lembah Baliem yang mengangkat tema “The Art of war and Dance atau Seni Perang dan Tari” ini bisa menjadi momen untuk mempertahankan nilai nilai budaya luhur yang telah di turunkan oleh leluhur.

“Ini festival tahunan, tentunya bisa di lestarikan oleh generasi muda yang ada di tanah ini,” kata Jhon Wempi Wetipo, Bupati Jayawijaya

Sementara itu, Hary Untoro Drajad Ketua Tim Pengembangan Wisata Berkelanjutan Kemenpar, dalam sambutannya sempat membacakan puisi ciptaannya sendiri untuk menyatakan kekaguman kepada tanah Papu yang berjudul “festival Lembah Baliem”. “…Ritual peperangan antar suku sebagai tradisi,Teriakan menggema dalam bentangan ruang inisiasi, Upacara adat menyatukan antar suku Dani Lani dan Yali, Festival Budaya Lembah Baliem menjadi lambang kesuburan turun temurun nan abadi, Rumah keheningan nan indah penuh pujian bagi Ibu Pertiwi,’ demikian penggalan alinea terakhir puisi yang dibacakan dengan penuh semangat itu

Usai sambutan, sebelum atraksi perang-perangan dimulai , Bupati Jayawijaya memberikan kesempatan kepada Pangdam XVII/ Cenderawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit untuk membuka fetival ini secara simbolis berupa atraksi memanah babi menggunakan panah dan busur

Dalam acara simbolis ini, Pangdam XVII/Cenderawasih didampingi Bupati Jayawijaya, Kementerian Pariwisata yang diwakili oleh Hary Untoro Drajad dan Kabid Promosi Wisata Alam Hendry Noviardi, Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar, Wakil Bupati Jayawijaya Jhon Banua dan pejabat lainnya

Selain itu, terjadi pemecahan rekor Original Rekor Indonesia (ORI) dan World Record Holders Republic (RHR) yang bermarkas di London untuk kategori Lempar 1359 Sege (tombak tradisional suku Dani). Sege ini merupakan senjata perang tradisional yang digunakan melengkapi senjata perang tradisional lainnya sepeti panah dan busur.

“Kenapa Sege, karena senjata ini masih disimpan dan dijaga keberadaannya serta selalu ditampilkan pada setiap acara budaya,khususnya acara acara khusus,” kata Jhon Banua, Wakil Bupati Jayawijaya

Usai pemecahan rekor sege, acara utama perang-perangan pun dimulai, lapangan di Distrik Welesi disterilkan, puluhan rbu penonton memenuhi seluruh stage kursi yang disediakan dan juga perbukitan yang memutari lembah baliem tersebut.Teriakan histeris saat atraksi perang-perangan dimulai. satu persatu distrik menampilkan beragam gerak dan tari

Wisatawan benar benar heboh dan nyaris tak berkedip sepanjang atraksi. Dari pantauan di lapangan, lebih dari 50 ribu wisatawan tumplek blek menikmati atraksi ini, dimana 10 ribu diantaranya berasal dari luar Jayawijaya dan 2100 wisatawan mancanegara hadir dalam perang dan seni ini

Ratusan fotografer dari seluruh penjuru pun tak henti hentinya mengokang kameranya, membidik atraksi perang-perangan yang melibatkan 344 kampung dari 40 Distrik yang ada di Kabupaten Jayawijaya ini

Meski perang-perangan ini hanyalah skenario, namun tetap menghasilkan suasana yang menegangkan karena benar-benar terlihat adegan saling lempar tombak dan berteriak antar suku

“Atraksi Perang Suku telah menjadi citra jatidiri masyarakat dalam mempertahankan harkat dan martabat setiap suku dalam kehidupan sosial, walaupun saat ini perang suku sudh tidk pernah terjadi lagi ,”lanjutnya

Pria yang pernah menjabat sebagai Manajer Persiwa Wamena ini juga menerangkan bahwa Festival ini mengaktifkan sekaligus menggerakkan seni budaya kearifan lokal agar lebih menonjol sehingga menjadi hiburan masyarakat. Bahkan dengan kegiatan festival ini,dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat yang ada di Jayawijaya, baik itu sopir, pemilik mobil, pemilik hotel, pemilik toko, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di sektor pariwisata

Dalam festival ini juga ada lomba foto dengan total hadiah puluhan juta rupiah, atraksi Budaya Lembah Baliem, keterampilan memainkan alat musik PIKON (alat musik tradisional Jayawijaya), bakar batu, atraksi tari-tarian tradisional Lembah Baliem, karapan babi serta lomba membuat api ala Suku Dani. Bahkan pameran kerajinan tradisional

“Dan akan ditutup dengan Karnaval Budaya yang akan diikuti oleh para peserta dari tingkat pendidikan TK hingga Perguruan Tinggi, para sanggar budaya se nusantara yang berada di Kota Wamena serta partisipasi keikutsertaan dalam pawai kendaraan hias oleh BUMN, BUMD, OPD dan peserta individu,” pungkasnya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here