Perkuat MICE, Hotel Baru Angkat Batik dan Gelar Seminar Pariwisata

0
341
Istimewa
LIPUTAN1.COM, YOGYA – Upaya Yogyakarta memperkuat jati diri sebagai Kota MICE (Meeting, Invention, Conference and Exhibition) didukung dengan lahirnya hotel-hotel baru. Hotel-hotel ini menyebar di segala penjuru Yogya. Salah satunya di kawasan Utara, terutama di sekitar Ringroad Utara.
Salah satu hotel baru itu adalah Grand Keisha Hotel, sayap usaha Metropolitan Golden Management, milik pengusaha asal Pekalongan Andy Arslan Djunaid.
Guna memperkuat posisi dan memperkenalkan diri sebagai hotel MICE, Grand Keisha Hotel menggelar Edutainment Talkshow “Jagongan Ottoman” dengan tema Bisnis Pariwisata dan MICE. Dalam acara ini Andy Arslan Djunaid akan menjadi narasumber bersama Kelik Pelipur Lara (Ucup Kelik dalam Republik BBM), Benny Telo (praktisi pariwisata Yogya) dan Endah Saraswati (The Queen of Campursari).
Jagongan Ottoman ini digelar di Ottoman Sky Lounge pada Sabtu, 29 Juli 2017. Acara ini sekaligus sebagai “launching” sky lounge yang berada di lantai sembilan ini. Sky lounge bernuansa Turki ini menjadi yang pertama di Yogya. Suasana Turki dan nuansa Timur Tengah akan dominan di tempat ini.
“Selama ini belum ada yang membuka kafe atau lounge bernuansa Turki. Kami yang pertama. Semoga bisa menarik wisatawan Turki maupun Timur Tengah ke Yogya,” ujar Nadia Kirana Sari, public relations Grand Keisha, Rabu (26/7).
Mantan Finalis Putri Indonesia DIY 2017  ini menambahkan hotel bintang 4 yang berletak di Jl. Affandi No 9 Gejayan ini dioperasikan oleh jaringan hotel Horison. Dengan tagline “Feel the Culture in Style” Grand Keisha by Horison menjadi sebuah hotel yang spesial dan unik. Spesial dalam menunjang MICE dengan satu ballroom dancing 7 ruang meeting. “Unik karena semua nama ruangan meeting menggunakan nama batik,” tambah perempuan dengan akun @nadiaqiran ini.
Nadia lantas merinci nama-nama ruang meeting di Grand Keisha. Yakni Sidomukti Ballroom, Sidoluhur, Sidoasih, Wahyu Tumurun, Truntum, Udan Liris, Parijoto dan Jlamprang. Sebagai edukasi kepada para tamu, pada papan nama ruangan itu ada tulisan yang menjelaskan makna masing-masing batik. Ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Pada papan nama Sidomukti Ballroom, misalnya, tertulis Sidomukti adalah _motif batik yang memiliki makna mulia dan sejahtera_. Lalu di bagian bawah dalam bahasa Inggris: _Sidomukti is a batik motif that has meaning of glory and prosperity._
Selain nama ruangan, penanda toilet laki-laki dan perempuan juga sangat Jawa. Pada gambar penanda untuk toilet laki-laki tampak siluet pria mengenakan blangkon. Sedangkan gambar pada penanda untuk toilet perempuan berupa siluet perempuan berkonde.
Grand Keisha by Horison memiliki 177 kamar dengan 3 jenis tipe yang berbeda dimulai dari Deluxe Room dengan luas 29m2, Junior Suite Room dengan luas 53m2 dan Executive Suite dengan luas 58m2. Fasilitas pendukung lainnya seperti Restaurant, Lounge, Sky Lounge, Pool  juga  Fitness Center menjadikan Grand Keisha by Horison tempat yang pas bagi para tamu dengan tujuan bisnis maupun liburan.
Metropolitan Golden Management berpengalaman dalam manajemen hotel dengan lebih dari 13 tahun. Komponen utama yang terdapat di dalamnya yaitu kombinasi standar internasional dengan budaya lokal. Metropolitan Golden Management juga selalu mengutamakan pemanfaatan produk dalam negeri dan pengembangan sumber daya manusia lokal.
Hingga saat ini, Metropolitan Golden Management telah mengoperasikan lebih dari 38 hotel dengan jumlah lebih dari 5.000 kamar. Sebagai perusahaan yang sedang berkembang, Metropolitan Golden Management juga akan mengembangkan lebih dari 10 hotel lagi.
Hadirnya Grand Keisha Hotel ini memperkuat amenitas di Yogya bagian utara. Menyusul hotel-hotel yang sebelumnya ada. Di lokasi ini, sejumlah hotel baru yang memperkuat amenitas Yogya didirikan. Ada Hotel Marriot (menyatu dengan Hartono Mall), Inn Side Melia (dekat Pusat Belanja Makro), Serelia (selatan Perempatan Condongcatur, berjejer dengan Grand Keisha), Lafayette (pinggir Ringroad), Uttara (jalan Kaliurang), dan Grand Cokro (jalan Gejayan).
“Selamat atas kehadiran amenitas baru di Jogja yang sarat dengan tradisi Jawa. Itu akan menguatkan Jogja sebagai destinasi wisata budaya di Indonedia,” ucap Menteri Pariwisata Arief Yahya.
Budaya itu, kata Arief Yahya, semakin dilestarikan semakin mensejahterakan. Sama dengan alam, yang harus lestari. “Karena itulah sejatinya komoditas utama dalam pariwisata yang dicari traveler. Suasana dan sensasi budaya dan alam yang tidak dimiliki oleh negara lain,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here